Partai Golkar, Solid Maju Berkarya Bersama Kokohnya Pohon Beringin

Partai Golkar sebagai partai “tua” dalam sejarah politik dan perjalanan bangsa Indonesia dari awal kemerdekaan hingga saat ini, Partai Golkar sudah menjadi salah satu pilar penentu  pembangunan bangsa Indonesia bersama dua Partai lainnya PDI dan PPP. Demikian juga di  NTT ternyata memberi bukti dan ingatan kuat yang tak mudah hilang sejak sejarah dimulainya kemerdekaan hingga sekarang.

Di kancah nasional, sebut saja presiden Soeharto yang memimpin selama 32 tahun, dengan partai Golkar sebagai partai pemenang. Tentu diakui atau tidak, disukai atau tidak kita harus akui bahwa sudah banyak kiprah yang dilakukannya lewat jabatan Kepala Negara dan dengan dukungan solid pendiri dan kader Partai Berlambang Pohon Beringin ini.

Di NTT sendiri tokoh-tokoh pendiri Partai Golkar pun sudah teruji dalam kesetiaan terhadap partai dalam menjalankan visi misi partai berwarna kuning ini. Bahkan tokoh partai Golkar pun yang menjadi pemimpin tertinggi di provinsi ini seperti Almarhum El Tari, Ben Mboi, dan JN Manafe, Jan Bota, Dan Woda Pale, I A.Medah.

Berikut, media ini menghimpun pendapat dan pandangan Welly Dimoe Djami,  puteri almarhum Cornelis Dimoe Djami, tokoh Partai Golkar, seorang  Guru PNS, Tokoh Pendidikan dan Jurnalis NTT zaman Belanda, yang menjadi pendiri Yayasan Pendidikan Sinar Pancasila Kupang  dan Felix Pulu, tokoh partai Golkar dan salah satu saksi sejarah berdirinya Partai Golkar di NTT, mantan Ketua DPRD Provinsi NTT, mantan anggota DPRD Provinsi NTT Fraksi Partai Golkar 4 periode dan mantan Ketua DPD Golkar NTT, dewan pembina dan penasihat di DPD Partai Golkar NTT saat ini, tentang apa kiprah Partai Golkar dalam perjalanan pembangunan NTT di masa lalu.

Welly Dimoe Djami,  perempuan berputeri 3 dan pensiuan Guru ASN Kota Kupang, kepada media ini lewat sambungan telepon seluler dengan bersemangat menuturkan bahwa dirinya sangat mengagumi katahanan solidnya partai berlambang pohon beringin ini. Sebagai anak aktivis Partai Golkar dan Kosgoro, Welly yang walau sebentar sempat berada pada partai Golkar pada Pileg 2019 lalu. Dengan jujur dan tulus  diakui bahwa sebagai Partai Tua, Golkar sudah teruji dengan baik dalam sejarah bahwa ia adalah Partai pengayom, pelindung, yang sudah banyak memberi kontribusi dalam pembangunan di Indonesia, terutama di NTT.

Sebagai pensiunan ASN, Wely melihat dalam perjalanan pemerintahan di NTT betapa solid, komitmen, dan  konsistennya Eksekutif kader  Partai  Golkar terhadap visi misi partai saat menjalankan roda pemerintahan di NTT.
“Dulu papa saya masuk dalam Kosgoro bersama JN Manafe. Papa memang lama di Golkar sehingga yang saya ingat kontribusi Partai Golkar sangat melekat dengan program pembangunan di Indonesia, demikian juga NTT. Kalau mau dibilang dulu semua PNS harus masuk ke Partai Golkar, sehibgga mau tidak mau semua derap langkah Pemerintah dan PNS dalam pelaksanaan pembangunan benar-benar terbukti mengikuti derap langkah Partai Golkar. Jadi jalannya pemerintahan mengikuti langkah kepala daerah yang adalah kader Partai Golkar.” Jelasnya.

“Tak bisa disangkal, keterlibatan partai Golkar dalam pembangunan di NTT juga tergambar jelas karena warna politik kepala daerahnya,  misalnya mantan presiden Soeharto tanpa bisa dicegah kapasitas Kepala Daerah dan sebagai tokoh politik Partai Golkar identik dengan program pembanguan. Segala hal berkenaan dengan pelaksanaan program pemerintah, dengan sendirinya  menjadi identik dengan warna Partai Golkar.” Tandasnya lugas.

Wely mengisahkan bahwa dulu sering didengarnya kisah bukti betapa terpatri kuatnya pengaruh  partai Golkar terhadap cara pandang dan ingatan orang akan parpol. Pernah pada sebuah moment  pemilu, semua orang sampai kampung-kampung hanya mengenal partai Golkar, pohon beringin, warna kuning. Apalagi di mata dan ingatan orang tua.
Menurut Wely, tergambar jelas, semua orang hanya ingat Partai Golkar saja.

Sebegitu kentalnya ingatan dan kepercayaan masyarakat kepada Partai Golkar, Wely berkisah sampai dulu saat masih SMA, sering terdengar cerita di kampung-kampung belum selesai proses pemililahan pun masyarakat sudah mengangkat kotak suara dan serukan Partai Golkar menang.

Sejak dulu dalam peta Politik Indonesia hanya 3 yaitu Partai Golkar, PDIP dan PPP.  Namun kental dalam ingatan Wely kekuatan partai Golkar merasuk sampai kedalam hati dan ingatan masyarakat dari kota hingga desa. Sehingga jika datang dari partai lain mereka menolak secara halus maupun terang-terangan. Kenangnya yang sempat turun ke daerah bersama papanya baik dalam kapasitas PNS maupun partai.

Partai Golkar dalam pandangan Wely adalah Akar Tua yang melekat dan  tahan uji, solid serta pandai menjaga kesatuan dari generasi ke generasi. Golkar sudah teruji daya tahan untuk keberlangsungan partai. Rasa kesatuan dan kesetiaan kader  kepada Partai adalah rahasia utama daya tahan uji Partai Golkar.

Teladan tokoh-tokoh pendiri maupun pendahulu Partai Golkar akan sangat sulit terhapus dalam ingat mereka. Sehingga dalam sejarah, aku Wely ia sendiri sangat bangga atas kuat dan kokoh berdirinya partai ini.
“Mereka pandai menjaga keutuhan Partai, segala masalah dibicarakan dengan kepala dingin, walaupun  berat. Dan Golkar sudah teruji baik, oleh jaman dalam menghadapi semua masalah internal maupun eksternal tidak mudah  tergoyahkan hingga kini.” Ujarya.

Rekor terbesar kedua Partai Golkar, menurut Wely adalah saking kental kesan baik partai ini kepada masyarakat, orang tua di Kampung hanya tahu Golkar saja saat pemilu. Tidak ada nama partai lain. Mengapa? Karena selama kurun waktu 75 tahun NKRI, Golkar masih membuktikan kekokohan, penganyoman, dan kuat berakarnya ia di Bumi Indonesia dan kuatnya pengaruh politik bagi eksekutif kader Partai Golkar di pemerintahan di republik ini.

Felix Pulu, salah satu tokoh Partai Golkar yang saat ini menjadi anggota dewan pertimbangan bagi kaderisasi Partai Golkar, mantan Ketua DPD Partai Golkar NTT dan mantan anggota DPRD Provinsi NTT Fraksi Partai Golkar 4 Periode, kepada media ini lewat sambungan seluler pada Senin, 6/10 menyatakan bahwa walau dirinya bukan satu-satunya tokoh Partai Golkar namun ia juga di besarkan oleh Partai dan Tokoh Golkar sejak kelahiran Partai Golkar pada 20 Oktober 1964 di Nasional.

“Dulu belumlah bernama Partai Golkar, dulu masih bernama Sekber Golkar yang didalamnya ada organisasi yang mendirikan, didirikan dan organisasi sayap dan kumpulan orang-orang bekerja.” Jelasnya.

Maka muncullah tiga kelompok yang disponsori oleh ABRI sebagai tonggak utama yang mendirikan Sekber Golkar ada SOKSI (pendiri : dr.Suwarndiman), MKGR dan Kelompok Induk Organisasi KOSGORO, ketiga kelompok ini menjadi Pilar Utama yang mendirikan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar yang berorientasi kepada Karya dan  kekaryaan lalu ketiga organisasi ini bergabung dengan ikatan-ikatan kemasyarakatan, ikatan-ikatan berdasarkan daerah, yang akhirnya berkelompoklah dalam satu wadah Sekber  Golongan Karya atau Sekber Golkar, ini jadi awal lahirnya nama Partai Golkar dalam perkembangannya.

Intinya dalam Sekber Golkar adalah kumpulan orang yang berkarya. Cikal bakalnya oleh tokoh-tokoh ini ABRI, dan  setelah berdiri, muncullah G30SPKI. Maka ABRI dan Golkar berhadapan dengan PKI. Di sekber Golkar ada ABRI, PNS dan orang-orang yang berkarya yang dilambangkan dengan pohon  beringin. Maka lambangnya beringin karena semua orang bekerja masuk.

Dalam perkembangannya dari pusat sampai NTT, maka Partai Agama, Parkindo, PNI, lebur dalam Sekber Golkar. Bahkan semua PNS  Depdagri memunculkan  Korps Pegawai Dalam Negeri. Semua PNS dengan sendirinya masuk ke dalam Sekber Golkar belum menjadi partai Golkar.

Sekber hidup terus, ujar Felix, dan saat itu di provinsi NTT dulu DPRD prov.NTT UU no 8/1958 tapi dengan adanya penyerderhanaan Partai dijaman Soeharto, maka komposisi DPRD Provinsi itu hingga Sekber Golkar ada fraksi ABRI, PDI, PPP. Jadi dalam DPRD ada 4 Fraksi yaitu  ABRI dengan  4 Angkatan (TNI/AD) , Golongan Karya itu PNS dan KORPRI, PDI dan PPP.  Dengan demikian berjalanlah pemilihan presiden  ikuti aturan ada  UU no.18/1965, dan UU 5/1974 maka berjalanlah pemerintahan di provinsi NTT menurut kompilasi UUD Pemerintahan Daerah.

“Saya hanya mau katakan, bahwa sejak 1964-1998 itu Golkar menjadi majoritie dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di NTT. Siapa bisa melawan Golkar? Semua tokoh muda yang sekarang berkiprah di partai lain, paling tidak kalau orangtuanya dulu  dari Partai Golkar. Tetapi semuanya ini ada sempalan dari Partai Golkar.” Pintanya.

Golkar itu kalau saya mau jujur ada banyak keunggulan. Dari dulu sampai sekarang pada masalah kaderisasi.  Di Golkar sudah ada benang merah tentang kriteria dan harapan seorang kader Golkar yang mau ditempatkan di legislatif maupun eksekutif ada aturan dalam AD/ART di sejarah Golkar aturan PDLT. Seseorang kader Golkar yang mau ditempatkan dalam sebuab jabatan Legislatif maupun eksekutif harus memenuhi persyaratan PDLT (Prestasi, Desikasi, Loyalitas dan Tidak Tercela). Jadi keempat unsur itu akan dilihat dan jadi bahan pertimbangan Partai jika seorang kader ingin maju sebagai calon Kepala Daerah (Apa prestasinya terhadap partai dan masyarakat), seperti apa dedikasi berapa pengorbananmu untuk partai dan masyarakat, loyalitas apa bukti kesetiaan, dan tidak tercela dari semua perbuatan moral, agama,  mental dan spiritual, semuanya akan dinilai baik kedalam untuk partai dan keluar untuk masyarakat.

Sampai sekarang Golkar masih memegang persyaratan itu sebagai syarat untuk dipromosi dan didukung ssbagai kader Golkar.

“Bagi kami senior ini saya tetap ingin mendorong agar persyaratan pengkaderan harus didasarkan kepada karya dan pengkaryaan itu, juga dalam prestasinya. Golkar harus menjadi sebagai sebuah ikatan moral.” Ujarnya.

Golkar itu kadernyanada dua jenis yaitu teritorial di Pusat sebagai gugus depan untuk  menjaga masayrakat, dan kader fungsional atau penokohan, baik agama, pemuda dan tua,  dan pelayan masyarakat Golkar hadir baik perorangan dan kelompok. Seperti khusus di bidang politik, Kosgoro lebih banyak kepada ekonomi, MKGR lebih banyak kepada msslsah spiritual, satuan pembangunan dan masalah keagamana. Kalau formst politik ini sekarang menjadi keluarga besar Golkar itu  ada organisasi Pendiri dan strukturnya di DPD kita gabung di DPD 1 dan 2 ada MKGR, SOKSI, KOSGORO, OKesatuan Perempuan Partai Golkar,  Kesatuan Pemuda Partai Golkar, Kesatuan Wanita Karya,  dan satu aspirasi dengan Partai GOLKAR yaitu Angakatan Muda Pembaharuan Indonesia. Walau tidak selalu bersama satu visi misi  tidak bersama Golkar ada KWKH, dan AMPI. Namun semua selalu rangkul untuk didukung dalam pengkaderan kedalam kader  legislatif dan eksekutif.

Inilah kunci kokoh dan kuatnya partai Golkar yaitu sistem pengkaderan yang selalu berlangsung dengan merangkul semua unsur dari pemuda, wanita, sampai pekerja PNS dan agama semuanya dirangkul. Walau diakuinya dalam perjalan gesekan akibat salah paham, beda paham dan kepentingan selalu ada, namun tidak mencuat kuat keluar yang sampai menimbulkan perpecahan dan dualisme. Semua masalah selalu dibicarakan dan dimufakatkan dengan kepala dingin dan duduk bersama mencapai solusi terbaik dengan kembali berkiblat pada prinsip Partai Golkar dalam AD/ART.

Diakuinya Golkar sejak dulu adem karena dipusat ada dewan kehormatan, dewan Pertimbangan, dan dewan pembina demikian juga di setiap provinsi juga ada dewan pertimbangan dan dewan penasihat.

“Secara umum Golkar to or not to be adalah garis terdepan pembela 4 konsensus. Sedang keungulan dalam derap pembangunan, adalah keunggulan komparatif lihat saja kader Golkar yang menjadi kepala daerah adalah adalah hasil rekurtmen yang betul-betul eksis terhadap visis misi Golkar menjadi kepala daerah ada amanant itu. Sebagai contoh saat ini, kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur adalah sebuah Komitmen Partai Golkar menjadikan “NTT Bangkit dan Sejahtera” sebagai motto.” Jelasnya.

“Dimasa lalu, pemimpin NTT seperti Mantan Gubernur adalah produk Golkar pertama El Tari, Ben Mboi, JN Manafe, Dokter Fernandez, Titus Uly, Janius  Bota, Dan Woda Palle, Medah dan Melky Laka Lena yang mempunyai karateristik tersendiri sesuai perkembangan masa, tapi  benang merahnya  tetap. Tali solidaritas kader terhadap Partai selalu ada. Di sejarah partai Golkar di NTT tidak akan ada voting, selalu ada Musda 1, 2 dan 3. Kalau lewat musda akan lebih kelihatan kualitas kader Golkar.” Sebutnya mengingatkan.

“Saya mau sampaikan usulan jangan sampai nama-nama para mantan gubernur yang sudah berbuat untuk NTT,  redup dan hilang. Mungkin nama jalan, pelabuhan, rumah sakit dan lain-lain, bisa diberi nama mereka agar mereka diingat bahwa pernah berkarya lewat pemerintahan sebagai kader Partai Golkar untuk membangun NTT.”  Ujar mantan anggota DPRD tahun 1977-1981, pernah menjadi ketua DPRD, saat ini aktivis Partai Golkar dan sudah periode ketiga menjadi Dewan Pertimbangan Partai Golkar bagi peletakan AD/ART dan penentu pertimbangan dalam setipa rekrutmen calon kepala daerah bersama DPD Partai Golkar NTT. Saat ini Golkar dipimpin oleh kaum milenial.■■ juli br<

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *