AIPDA.Yunus Laba, antara Abdi Negara dan “Bapa” di Panti Asuhan Generasi Pengubah

  • Bagikan

KUPANG, TOPNewsNTT|| Sosok anggota Polri Polda NTT Pdt.Aipda.Yunus Laba, sangat sederhana. Pria asal pulau Alor berusia 30-an tahun ini sehari-hari bertugas di sat Bimas POLDA NTT sudah belasan tahun.

Aipda.Yunus Laba saat berfoto bersama para anak panti usai ibadah pemuda

Belakangan namanya viral setelah postingan di laman facebook yang mengisahkan panggilan tugas lain disamping tugas utama sebagai anggota Polri. Yaitu kepala Panti Asuhan Generasi Pengubah bagi puluhan anak dari usia belum sekolah (3 tahun) hingga mahasisea.

Media ini memenuhi rasa penarasan dengan mendatangi panti asuhan yang terletak di kelurahan Belo, kecamatan Maulafa itu (sebelum RS. St.Carolus).

Yang menarik dari sosok tegas dalam bersikap ini adalah dia juga seorang pendeta.

Ditemui media ini, Yunus dengan lugas mengisahkan bahwa sampai ada keinginan buka panti adalah karena mengingat dirinya berasal dari keluarga yang susah masa kecilnya.

“Saya niat buka panti adalah karena mengingat latar belakang hidup saya yang juga dari orang susah. Setelah saya punya pekerjaan maka saya ingin buat sesuatu untuk anak-anak yang kurang beruntung seperti saya di masa lalu.  Saya kemudian berjuang Polri. Dan puji Tuhan saya diterima di Polda NTT pada 2003. Dan menikah 2006.” Tutur Yunus.

Setelah menikah dengan isterinya Marselina berasal dari SBD kisahnya, sudah ada beberapa anak yang tinggal bersamanya di lokasi rumahnya yang saat ini  sudah menjadi panti asuhan.

“Sejak lulus polri saya sudah memiliki rumah dan saat menikah sudah ada 7 orang anak tinggal bersama saya. Mereka itu anak-anak penjual plastik di passr dan pemulung yang saya temui dan saya minta mereka tinggal sama saya dan sekolahkan.” Ujarnya berkisah.

Ikhwal ia memutuskan memeligara anak-anak terlantar tersebut adalah saat ia dan isteri ke pasar Inpres Naikoten 1 dan bertemu dengan salah satu anak yang saat ini sudah bekerja, untuk tinggal dengannya.

“Saya bilang mau tinggal dengan bapa dan sekolah? Saat itu dia putus sejilah di kelas 2 SMP.  Anaknya dsngat rajin dan selalu bangun pagi bereskan semua urusan dalam rumah tangga baru ke sekolah. Saya biayai dia sampai lulus SMA dan bahkan kuliah, terus setelah dapat kerja dia memilih menikah. Semuanya daya urus. Memang saat kuliahkan dia saya masih tertatih-tatih karena belum ada panti. Tapi saat itu memang belum terpikir untuk bentuk badan hukum panti karena tidak mau orang melihat secara negatif hanya untuk mencari uang.” Jelssbya

Walau sejak 2017, saat makin banyak anak masuk ke panti belasan orang, ayah 4 anak ini  alami kesulitan besar secara keuangan dalam membiayai kehidupan di panti, ia masih belum terpikir memhuat panti.

Ia memilih mengusahakan sendiri jalan keluar masalah keuangannya dengan menjadi chief security pada Lippo Plaza Kupang.

“Selama 3 tahun saya kerja di sana dan saya berhenti karena jam kerja yang terlalu sampai larut malam. Disana mereka banyak masalah pada jam 10 ke atas. Jadi saya pikir nanti tugas pokok sebagai polri terganggu saya berhenti. Lalu 2017 saya stop dari Lippo dan  saya dilamar jadi Chrief Security di Apple Three International School. Karena di sekolah jadi waktu tidak terlalu tersita. Saya kerja sanpingan jadi chief security karena untuk topang biaya makab minum anak-anak asuh saya yang makin banyak sekitar 19 anak.

Setelah melihat peningkatan jumlah anak yang diasuh, dan biaya hidup mereka termasuk biaya sekolah dan saran teman-temannya dan beberapa donatur yang selama ini membantu secara sukarela kebutuhan anak-anak tersebut, akhirnya Yunus putuskan melegalkan menjadi Panti Asuhan dengan nama Generasi Pengubah.

Sehingga 24 Pebruari 2017 terbentuklah badan hukum Panti Asuhan Generasi Pengubah.

“Saat masuk 2019 setelah badan hukum panti terbit, jumlah anak-anak makin meningkat menjadi 40an anak. 2020 sudah 60an dan saat ini ada 82 anak.” Ungkapnya tersenyum.

Tapi Yunus punya prinsip mendirikan panti bukan  untuk kejar jumlah anak, karena ia memiliki target mulia, yakni setiap anak bukan hanya disekolahkan saja, ia meyakini dipanggil Tuhan mengurus generasi penerus bangsa dan gereja yang harus dibimbing, dirawat dan dijaga dengan mengutamakan pembinaan karakter serta rohani yang benar sesuai ajaran Alkitabiah, namun intelektual berkualitas.

“Saya tidak kejar kauntitas tapi kualitas. Saya jujur anak-anak yang ada di tangan saya itu lebih saya arahkan ke sekolah swasta yang berkualitas. Bukan berarti sekolah negeri tidak berkualitas tapi jujur guru-guru kurang bertanggung jawab. Kita bisa bedakan siswa dari sekolah swasta jauh lebih berkualitas dibanding lulusan sekolah negeri. Apalagi dalam masa pandemi sekolah online, anak-anak saya yang disekolah swasta mereka benar-benar diperhatikan oleh pihak sekolah. Gurunya pro-aktif anak-anak walau di rumah mereka belajar online dan aktif sama gurunya selama jam pelajaran. Sedangkan yang disekolah negeri seperti tidak sekolah. Mungkin karena guru sekolah negeri mau mengajar tidak mengajar mereka di gaji. Tapi di sekolah swasta meteka guru swasta dan tidak mengajar dengan baik dan kualitas siswa tidak meningkat mereja bisa tidak dibayar gaji. Ini suatu hati yang sangat jahat. Padahal yang ini point penting. Seperti firman Tuhan gembala ada yang baik dan jahat. Gembala yang baik satu domba hilang akan dicari, tapi gembala yang jahat mau hilang persetan situ. Makanya dari 82 anak-anak saya, hampir semua SMP dan SMA di Generasi Unggul. Kuliah di STAKN dan Undana. Di sekolah negeri hanya sekitar 5 anak. Untuk SD masih disekitar sini katena kesulitan di alat transportasi. Motor hanya ada 3 dan dipakai bergantian sama anak yang sekolah dijauh.” Ujarnya.

“Saya sangat ketat masalah pendidikan di sekolah berkualitas karena saya juga alami bahwa pendidikan sangat penting untuk beri masa depan bagi setiap generasi. Jujur saya disini hanpir 24 jam tidak tidur dan awasi perkembangan anak-anak. Mulai kontrol disiplin bangun, tidur, makan, main, sekolah, pergaulan, terutama masalah perkembangan rohani mereka.  Karena saya bertanggung jawab  kepada Tuhan. Kalau disadari masa  depan generasi muda terletak pada rohani dan intelektual yang akan bentuk karakter yang baik dan benar.” Ujarnya lagi.

Pendidikan adalah unsur penting untuk keluar dari semua kondisi serba minus.

Peran gereja, ungkapnya  sangat penting untuk menjadi garda terdepan dalam menuntaskan masyarakat suatu wilayah dari semua kondisi minus.

Kepada para pedeta dan hamba Tuhan Yunus berseru  agar di lingkungan dimana gereja hadir jangan hanya berkhotbah saja tapi peran nyata gereja hadir dalam kesulitan dan kebutuhan jemaat dan warga sekitar gereja.

“Saat ini saya butuh lahan 2 ribu meter  saja untuk bangun gedung panti asuhan yang lengkap bagi anak-anak ini. Saya ingin buka beberapa usaha sehingga anak-anak panti yang sudah lulus dan masih belum kerja bisa kerja di bengkel. Artinya latihan kerja. Kalau ada pengusaha siapa saja bisa bantu kasih saya lahan 3 ribu hektar saja. Saya tidak butuh uang dan saya akan bangun gedung panti untuk anak-anak terlantar lain yang masih banyak di luar sana.” Tandasnya.

Diakhir bincang-bincang Yunus ungkapkan bahwa ia targetkan harus 300 anak ia bina di panti dalam artian sebanyak mungkin anak-anak NTT yang bisa hidup layak dari semua aspek.

“Saya minta lewat media ibi saya himbau siapa saja pengusaha dan yang sudah berhasil dan cari makan di tanah Timor untuk ikut membantu anak-anak terlantar masih banyak diluar sana. Lewat jalan apa saja. Silahkan. Saya mau bilang bahwa generasi penerus NTT masih banyak anak NTT hidup miskin, tidak bersekolah, dan dalam kukungan penderitaan lain.” Tandasnya.

Yunus nyatakan bahwa ia dan isteri  selalu posisikan diri sebagai orangtua bagi anak-anak panti asuahnnya.

Bangunan panti yang dirikan tingkat dua di samping rumah pribadinya itu nampak belum sepebuhnya selesai, masih dalam tahap finishing.

Jujur diakui Yunus banyak tangan Tuhan datang membantu untuk masalah data dan komputer sehingga anak-anak cukup terpenuhi untuk sekolah daring.

Sebagai pengawas anak-anak Yunus menugaskan  anak-anak tingkat SMA dan mahasiswa dengan rohani yang sudah bagus.

“Yang berat disini adalah biaya makan minum dan lauk pauk. Sebulan bisa habiskan 16-17 karung beras berukuran 50 kg. Sehari bisa 25 kg untuk 3 x makan. Prinsip saya lebih baik mereka makan cukup daripada saya keluar duit untuk biaya pengobatan. Saya pilih mereka sehat daripada sakit. Apalagi mereka masih dalam masa pertumbuhan dan bersekolah, butuh asupan gizi yang cukup.” Jelasnya.

Untuk biaya lauk pauk, Yunus bersyukur mereka dibantu oleh  bapak pdt.Rasus  Sudono yang menyumbang Rp9 juta per bulan.

“Dan ditransfer Rp3 juta per 10 hari dan saya tunggal tambah. Sebenarnya per bulan biaya lauk mereka harus sekitar Rp15 juta, dan per hari biaya lauk Rp150.000. Bahkan sampai kebutuhan perempuan remaja pun disiapkan dengan bantuan isterinya.” Ungkapnya terus terang

Ia juga sangat disiplin waktu bagi anak-anak terutama masalah ibadah dan gereja. Karena mayoritas anak di panti dari kalangan Protestan.

Menurut Yunus anak-anak ini datang dari pelayanan gereja yang dilakukan di beberapa wilayah dari kabupaten seperti Alor, Sabu Sumba dan daratan Tinor.

“Situasi paling menyedihkan adalah disaat anak-anak asuh saya terpaksa makan ubi pahit karena tidak ada beras. Walau anak-anak sukacita tapi saya yang berperkara dengan Tuhan. Saya bilang Tuhan titipkan anak-anak bagi saya dan saya minta Tuhan kasi makan. Dan esoknya luar biasa saya dibantu atasan saya di kantor.” Jelss terharu Yunus mengenang.

Hal yang paling membuatnya bahagia dan terharu, ujar Yubus adalah saat melihat anak-anak sehat, bahagia.

“Saat itu saya bilang Tuhan saya tidak kaya harta, tapi saya kaya anak. Karena Tuhan percayakan saya anak-anak yang bukan darah daging saya sendiri, dan saya sadar saya snsgat kaya.” Ungkapnya terharu.

“Anak-anak ini sangat sayang kami suami isteri. Mereka paling sibuk kakau saya sakit, mereka akan urus saya dengan baik. Karena saya terapkan komunikasi dengan mereka seperti dengan anak-anak kandung saya.” tandas Yubus.

Diakhir bincang-bincang kami, Yunus mengatakan bahwa pemerintah sangat ingin semua masyarakat sejahtera, terdidik dan sehat.  Tapi gereja harus aktif, lakukan duluan jangan tunggu ada uang dan punya segala sesuatu bary bergerak. .

“Saya sudah buktikan, saat hati nurani tergerak lakukan sesuatu yang baik dan benar menolong orang lain, jangan tunda dan tunggu. Buat dulu dan pemerintah akan sambut dengan program dan anggaran. Akan ada banyak tangan Tuhan kirim untuk membantu ” ajak Yunus positif

Yunus meminta agar gereja jangan takut gunakan sumber daya yang. Gereja jangan tidur dan nonor satu untuk lakukan duluan “pelihara janda balu yatim piatu dan orang terkantar” pemerintah tinggal mendukung.

“Saya komitmen abak-anak saya kalau punya kemampuan harus kuliah S1 bahkan S2 saya akan usaha bagimanapun caranya mereka harus kuliah. . Untuk dunia kerja kita akan dampingi sanpai mereka bisa punya pekerjaan.” Tandas Yunus.

Salah seorang anak gadis penghuni panti asal Sumba Barat mengungkapkan sangat berterima kasih karena sudah diterima di panti asuhan ini. Dengan keluar dari SBD dia bisa punya masa depan yang baik di si Sumba terhalang masalah adat.  || juli br

 

 

  • Bagikan