Yustina B.Lona Andalkan Gaji Nekad Bangun PAUD dan SD Swasta Komodo Ine Rie, Karena Alasan Ini

  • Bagikan

BIMOPU, TOPNewsNTT|| Yustina Bhebhe Longa,S.Pd, Sp.MM ketua Yayasan Pendidikan Komodo Ine Rie yang membawahi Lembaga Pendidikan PAUD, TK dan SD Komodo Ine Rie Bimopu,  yang beralamat di RT 33  Jalan Prof.Herman Yohanes Lasiana nekad bangun dua lembaga pendidikan ini, hanya andalkan gajinya dan suami sebagai guru ASN karena terdorong keinginan sebagai pendidik untuk ikut bangun dunia pendidikan dilingkungan tempat tinggalnya yang jauh dari PAUD dan SD.

Yustina B.Lona ketua Yayasan Pendidikan Komodo Ine Rie Bimopu

Alasan ini dikisahkan oleh Yustina yang merupakan Kasek SD Negeri Bimopu ini  kepada Top News NTT di kediamannya (Rabu, 16/6).

Kepada media ini Yustina mengatakan bahwa Yayasan Pendidikan ini lahir karena terinspirasi oleh minat anak-anak tetangga yang setiap hari memintanya mengajar menyanyi dan berceritera setiap kali dirinya pulang kantor.

Selain minat anak-anak tetangga berusia PAUD dan TK, SD, keinginan membuka Yayasan Pendidikan ini karena permintaan para orangtua anak-anak tersebut dan tetangga sekitar rumah, yang memintanya mendirikan lembaga pendidikan di lingkungan  tersebut lantaran sekolah PAUD dan TK serta SD berasa di bagian barat lokasi ini yaitu di seberang jalan El Tri 2 ini.

“Saya masih berstatus ASN pada Dinas Pendidikan Kota Kupang sebagai Kepala SDN Bimopu. Setelah berpindah tinggal ke Bimopu, dan dalam perjalanan mungkin masyarakat melihat dan setelah kami pulang kerja kadang turun dari mobil anak-anak dipohon kom itu, anak-anak bilang : ‘ibu kepala, menyanyi dan cerita dulu. Termotivasi dari itu, terinspirasilah saya sebagai guru SD, untuk membuka lembaga pendidikan.” jelas Yustina yang juga menjabat Kasek SDN Bimopu ini.

Gedung darurat SD Komodo Ine Rie terbuat dari Seng dan dinding dengan 5 ruang kelas

Dorongan terkuat datang dari pemerintah RT RW, Tokoh Masyarakat dan masyarakat RT 33 ini, untuk mendekatkan pendidikan jenjang PAUD/TK dan SD yang lokasi sekolah jauh untuk dijangkau anak-anak karena harus sebrangi jalan dua jalur El Tari 2 Jalan Prof.Herman Yohanes, maka Yustina yang akan berulang tahun ke 60 Kamis, 17 Juni 2021 dan pensiun 1 Juli mendatang ini, melakukan beberapa langkah penting,

“Oleh karenanya pada awal Januari 2015,  kami mulai lakukan penjajakan untuk masyarakat di wilayah Bimopu khususnya di RT 33 untuk mendata anak-anak usia PAUD.” Jelas Yustina.

“Pada saat itu tanah PAUD sudah kami beli bersamaan dengan tanah rumah ini, maka kami bangun PAUD. Tapi sebelumnya kami memakai 1 kamar kos dengan 18 siswa PAUD dan dua orang guru. Dan saya dibantu sama anak saya yang guru honor juga untudatangkan guri dari Kelapa Lima. Dan saya juga dibantu mengajar. Dan awal 2016 kami bangun gedung sekolah PAUD dengan tiga ruang kelas karena jumlah siswa yang meningkat.” Ujarnya.

Ruang kelas SD

Saat PAUD sudah berjalan dua tahun 2016-2017 orangtua siswa dan masyarakat meminta Yustina dan suami yang juga seorang kepala SMAN Fatuleu ini membuka lembaga pendidikan dasar (SD) 2016/17.

“Tapi kendala saat itu kami belum punya tanah untuk mendirikan ssbuah SD. Karena salah satu persyaratan untuk mendirikan sekolah adalah harus memiliki lahan sendiri. Maka kami suami isteri dan anak-anak bersepakat membuka Yayasan Pendidikan Komodo Ine Rie ini yang membawahi kedua lembaga pendidikan kami TK dan SD. Saat itu kami sudah mengurus ijin operasional bagi PAUD dengan nama PAUD Komodo Ine Rie. Dan untuk membuka SD kami buka Yayasan Pendidikan SD Komodi Ine Rie. Pada TA 2016 kami sudah bangun sekolah dengan tiga kelas dan jumlah siswa 35 siswa.” Jelas Yustina terssnyum.

Sambil PAUD Komodo Ine Rie berjalan pada 2016, kami mulai membangun bangunan PAUD. Pada TA 2015/2016 PAUD mulai dengan 18 siswa yang gunakan kamar kos, dan pada 2016/2017  saat bangunan PAUD sudah ada siswa bertambah menjadi 35 orang,  maka pindahlah mereka ke gedung baru dengan tiga kelas dan berjalan hingga sekarang 2021. Namun karena seroja sempat rusak atap sekolah dan sementara pindah satu atap dengan SMP Komodo Ine Rie. Jumlah siswa setiap tahun naik turun. Kadang jumlah siswa 38, kadang turun menjadi 30, kadang naik, dan sekarang total 46 siswa di tahun ajaran 2020/2021. Tak terasa kini usia PAUD sudah masuk tahun ketujuh.

Sedangkan SD itu, setelah PAUD berjalan dua tahun, orang tua dan masyarakat serta rt rw meminta kami membuka SD. Tapi kami belum mampu akibat tanah tidak ada.

Tapi setelah kami pihak yayasan berpikir ini akan menjadi satu peluang kita berupaya membantu masyarakat merasa sekolah yang ada SD Inpres Lasiana dan SD Negeri Bimopu harus langgara dua jalur jalan. Menurut ceritera orang tua bahwa ada siswa yang diserempet, mama-mama melepaskan pekerjaan rt hanya untuk menjaga anak sampai jam 13.00 wita. Itulah alasan mengapa kami suami isteri, anak dan anak mantu berpikir membentuk Yayasan Pendidikan. Lalu kami mulai mengurus akte notaris dan ijin pendirian yayasan di DMPTSP, NSPM, dan semua sudah beres. Pada 2019/2020 kami berani menjalankan SD satu atap dengan PAUD pada tahun pertama dengan jumlah siswa 28 orang yang merupakan lulusan PAUD Komodo Ine Rie dan benar-benar satu kelas (kelas 1).

Setelah orangtua melihat bahwa tenaga gurunya juga profesional karena kami ambil yang sarjana. Keunggulan SD Komodo Ine Rie adalah keharusan siswa memulai sekolah dengan bahasa Inggris sejak kelas satu SD. Kunggulan berikut adalah pelajaran Kebudayaan Daerah meliputi lagu, tarian dll yang kami kembangkan dalam kegiatan ekstra kurikuler. Dan hal inilah yang menarik perhatian orangtua, sehingga pada tahun kedua SD ini berjalan, peminat atau siswa meningkat menjadi 71 orang dengan dua kelas. Setelah tahun kedua kami kewalahan karena ruangan belajar tidak ada. (Masih menumpang pada gedung PAUD).

Ruang Kelas PAUD Komodo Ine Rie

Akhirnya kami rapat dengan para orangtua siswa, kami mencapai kesepakatan bahwa kami sebagai yayasan menyiapkan lahan, dan sebagian dikerjakan oleh tukang yang dibayar dan sebagian dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat dan orangtua siswa. Maka terbangunlah gedung yang sangat darurat. Tapi memang itulah niat kami, suami, anak da anak mantu sebagai pihak yayasan untuk bagaimana bisa membantu masyarakat yang ada diwilayah Bimopu supaya anak-anak jangan jauh-jauh mencari sekolah. Karena cape, panas, belum lagi resiko kecelakaan, belum lagi anggaran untuk ojek. Belum lagi mama-mama harus meninggalkan pekerjaan rumah tangga hanya untuk mengantarkan dan tunggui anak di sekolah. Kalau di sini mereka tinggal jalan kaki dan masuk sekolah.

Syukur pada Tuhan walaupun gedung darurat, tapi tapi murid terus bertambah dan syukur besok 17/6 yang mana saya akan berukang tahun ke 60 tahun dan akan mengakhiri kabatan saya sebagai ASN Absi Negara, boleh berkiprah aampai tapal batas. Tuhan masih memberikan kesehatan saya masih dalam keasaan sehat sehingga sekolah ini sudah masuk tahun ketiga (2019/2020, 2020/2021 dan 2021/2022) siswa sudah berjumlah 85 orang kelas 1 ada 2 rombel terdiri dari 32 siswa, kelas 2 ada 2 rombel 30 siswa, kelas 3 ada 1  rombel 9 siswa, kelas 4 ada 7 siswa dan kelas 5 ada 6 siswa. Dan tahun ini kelas 5 akan naik kelas 6 dn tahun ajaran 2021/2022 adalah lulusan pertama SD Komodo Ine Rie.

Penerima siswa baru (PPDB) 2021/2022 sesuai hasil kesepakatan dalam rapat bersama kadis pendikbud kota Kupang dan kabid.Dikdas Kota Kupang yang dituangkan dalam Juknis bahwa penerimaan siswa baru itu secara online dan offline akan berjalan sekaligus. Online untuk 32 SD (negeri dan swasta di kota Kupang) sedangkan sisanya offline untuk SD negeri dan swasta offline.  PDB Online pada  28-30 Juni 2021, san PPDB Offline pada 28/6 – 1/7 2021.

Khusus SD Komodo Ine Rie, kami akan buka pendaftaran bersamaan dengan sekolah negeri dan swasta di tanggal 28-30 Juni, dan kami akan buat spanduk untuk bisa memperkenalkan sekolah kami. Karena orang tidak bisa kenal kalau kami tidak memperkenalkan. Spanduk penerimaan siswa baru PAUD dan SD Komodo Ine Rie akan kami tempel di spot-spot strategis sehingga dapat dilihat orang. PAUD dan SD Komodo Ine Rie ini terbuka untuk masyarakat di luar Bimopu. Karena 46 siswa PAUD Komodo Ine Rie dan SD 85 siswa hampir 40% berasal dari Matani Kabupaten Kupang.

Karena itu kami sedang lakukan sosialisasi dan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan pemerintah sampai di desa Penfui Timur kami akan buka kelas belajar. Dan kami sudah koordinasi demgan Kadis.PendikBud.Kabupaten Kupang, Imanuel Buan dan ia ijinkan untuk membuka kelas belajar bukan sekolah jauh. Karena sekolah jauh atau kelas filia beda dengan kelas belajar.

Kelas Belajar maksudnya anak belajar disana (tempat tinggal siswa) dan guru kami kirim dari sekolah untuk mengajar ke Kelas Belajar sehingga siswa tidak perlu datang jauh-jauh ke sekolah untuk belajar, tapi pihak sekolah yang pergi lakukan kegiatan KBM disana. Kebetulan saya juga punya tanah kurang lebih setengah hektar disana dan ada rumah darurat juga, dan itu akan kami pakai sebagai kelas belajar. Sehingga anak-anak yang ada di Matani mereka tidak jalan jauh-jauh mencari sekolah ke sini, tapi mereka tetap bersekolah disana dan guru kamilah yang akan pergi ke sana mengajar mereka di Kelas Belajar.

Karena itu lewat media ini saya ingin sampaikan ke masyarakat kota Kupang dan kabupaten Kupang, saya sedang mencari tenaga profesional S1 PGSD, saya sedang butuh 3 tenaga guru dan satu tenaga komputer yang mana dia akan punya kewajiban sebagai operator. Karena didalan sebuah lembaga pendidikan adalah tulang punggung sekolah dalam hal Dapodik. Namun dalam penggajian kami tidak mampu menggaji besar sesuai dengan kemampuan keuangan sekolah. Karena SD Komodo Ine Rie baru 1 kali menerima Dana BOS tahap terakhir sebanyak Rp20-an juta.

Target penerimaan siswa PAUD 50 orang. Di PAUD ada selain 3 ruang kelas, tenaga guru 4 dan ATE atau Permainan Edukatif luar dan dalam, dan PAUD sudah dapar BOP dari Pemkot Kupang. Syukur pada Tuhan saya kami tahun pertama sudah dapar dana BOP untuk TK dan Dana BOS untuk SD sebesar Rp62 juta (71 siswa dikali Rp900.000), karena kami dahulukan membuat ijin dan badan hukum yayasan.

Target penerimaan siswa baru untuk SD 2 kelas dengan siswa dengan 28 siswa, satu kelas di Bimopu dan satu Kelas Belajar di Matani, Penfui Timur.

Sarana prasarana SD masih gedung darurat karena itu lewat media ini kami memohon dari yayasan dan pihak manapun yang peduli pendidikan untuk membantu kami.

Yayasan Pendidikan ini kami dirikan oleh kami suami isteri dengan murni gaji yang diketahui semua orang. Maka kita yang hanya mengharapkan gaji untuk membangun sebuah gedung yang luar biasa maka kami belum mampu saat ini. Tapi,  saya punya komitmen tahun pada Juli tahun ini saya pensiun maka uang pensiun saya akan saya pergunakan untuk membangun satu ruang permanen untuk SD.

Komitmen saya, suami dan anak serta anak mantu sebagai pendiri dan pengurus Yayasan Pendidikan Komodo Ine Rie dan Drs.Ambrisius Pan,M.Pd sebagai pengawas, kami punya komitmen dasar pertama pendirian sekolah adalah membantu masyarakat kecil. Disini hampir seluruh masyarakat hidup rata-rata sama seperti kami.

Di Yapendik Komodo Ine Rie ada ditetapkan SPP.  SPP PAUD dari Rp5.000, naik Rp10.000 san saat ini Rp15.000. Tapi dari total siswa 46 orang yang bayar baru 5 orang. Sekarang mau tamat 17 siswa menunggu pelepasan baru 5 orang terkumpul uang wisuda.

Di SD sarpras mubelair kursi meja, labtop kami siapkan dari keuangan yayasan murni (gaji kami) hanya buku-buku yang kami beli dari Dana BOS.

Kami sudah lakukan pendekatan dengan Dinas Pendidikan dan mereka berjanji akan memperhatikan sekolah ini. Tapi kami mengerti bahwa Dinas Pendidikan Kota Kupang mengurus begitu banyak sekolah sehingga kami menunggu saja kapan waktu Tuhan untuk kami peroleh bantuan. Intinya kami akan menerima dengan tangan terbuka setiap uluran tangan dan bantuan yang akan datang pada kami dari manapun. Terkait SPP san uang komite orangtua masih berprinsip bahwa wajib belajar 9 tahun gratis. Padahal kami sekolah swasta.

Haraoan kami, kami sudah ada niat bantu pemerintah untuk buka sekokah. Dan kami harapkan perhatian dan bantuan pemerintah untuk membantu kami misalnya dana bangum gedung yang layak, mubelair, komputer dan printer. Walau kami sebagai yayasan juga tidak berpangku tangan, karena kami akan membeli.

Laptop awal buka SD kami beli satu tapi sudah berjakan tahun ketiga dan laptop sudah rusak. Dana BOS tahap 3 71 siswa x 900 ribu kali 30%  dapat sekitar Rp20an juta kami prioritaskan untuk pengadaan meja kursi, gaji guru dan buku dan laptop. Guru dan pegawai SD 10 orang dengan gaji murni dari yayasan SPP dan dana BOS. Tapi awal-awalnya kami gaji dari Yayasan.

Gaji guru berkisar Rp300-Rp400 ribu sedangkan staf Rp250-300 ribu tergantung lama kerja.

Selama ini belajar online dan offline. San pada Juli 2021 siswa akan belajar tatap muka dengan pembatasan dan pembagian sift, sesuai dengan SKB 4 Menteri. Dan tentu dengan penerapan prokes ketat.|| juli br

 

 

  • Bagikan