Pdt.Jefry Watileo,S.Th Injili Jemaat Lewat Ajakan Bertani

NTT, Topnewstt.com., Kiprah pendampingan Badan Usaha Roda Tani, Panah Merah,  Nufarm dan Kompas Tani, makin  dikenal banyak pihak petani di berbagai daerah di NTT bahkan diluar NTT. Belum banyak yang tahu kisah petani sukses setelah ada pendampingan dari Kompas Tani, Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm. Usai panen perdana melon di Kebun Contoh dan Pelatian Roda Tani di Liliba, pada Jumat, 2/11 bersama wakil walikota Kupang dr.Hermanus Man, makin banyak pihak yang penasaran dengan dan seperti apa komuitas ini.

Untuk lebih memperkenalkan kiprah komunitas Kompas Tani, BU Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm,  maka pada Jumat, 9/11 Topnewsntt.com menemui pendeta Jefry Watileo seorang pendeta GMIT yang melayani di Jemaat Fatububut, Klasis Amanuban Selatan, Kabupaten TTS yang juga adalah ketua Komunitas Pendeta GMIT Suka Tani (Kompas Tani),  di Kantor Roda Tani jalan Cendrawasih Kupang.

 Didampingi Hery Heriyanto Pemilik Toko Pertanian Roda Tani, Eben Taemnanu pendamping Pertanian dari Komunitas Panah Merah ( PT. East West Seed Indonesia),  Watileo mengisahkan tentang kisah sukses petani di wilayah pelahanannya dan kiprah pendampingan Kompas Tani, Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm terhadap petani di jemaatnya.

Pendeta Jefry Watileo adalah seorang pendeta GMIT di jemaat  Fatububut, Klasis Amanuban Selatan yang sudah bertugas sejak 2004 hingga kini.

Ketua Komunitas  Pendeta GMIT Suka Tani (KOMPAS Tani)  yang terdiri dari para pendeta ini mengisahkan bahwa dalam Komunitas KOMPAS Tani ini sudah ikut bergabung dan menjadi donatur antara lain pendeta Merry Kolimon, Farry Francis dan Bobby Fanggidae.

Sebagai seorang pendeta, Watileo jelaskan bahwa ide mendirikan Komunitas KOMPAS Tani pada 2016 adalah karena  bersama beberapa pendeta rekan pelayanan mereka memahami  bahwa seharusnya prinsip menginjili dalam konteks kekriatenan bukan hanya  berkhotbah dimimbar saja. Tapi harus juga memperhatikan kesejahteraan jemaat. Salah satunya lewat melihat potensi sda dan sdm jemaat sekitar tempat pelayanannya di desa Fatububut, Kecamatan Amanuban Selatan, TTS yang kebanyakan memiliki lahan tapi masih hidup dibawah garis kemiskinan akibat pola dan sistem bertani yang bukan cuma konvensional dan bertani hanya untuk habis dimakan atau dikonsumsi bukan sebagai petani profesional yang bisa dijadikan sumber penghasilan sehingga kehidupan ekonomi petani berubah.

“Sejak tahun 2014 saya ajak petani dengan membuat tambak ikan air tawar dan ternak ayam kampung dan secara konvensional ternyata biaya tinggi. Dan pada tahun 2016 kami coba mencari model pemberdayaan apa yang hanya dengan biaya murah tapi dapat hasilkan banyak. Dan Tuhan membawa kami bertemu dengan Ebn Taemnanu ( Pendamping dari Komunitas Panah Merah (PT. East West Seed Indonesia)),  sebuah perusahaan yang memproduksi semua jenis bibit holtikultura.

” Lewat pendampingan yang dilakukan oleh Eben Taemnanu, kami ajak petani  beralih menanam kangkung dan tomat di tanah liat dengan sistem pertanian yang ditawarkan  oleh pak  Eben.  Pendampingan olehnya iti ternyata membawa kami menghasilkan produk pertanian holtikultura yang lebih banyak berkualitas. Dan akhirnya timbullah ide membentuk komunitas KOMPAS Tani pada 29 April 2018 dimana Ketua Sinode GMIT Pdt.Mery Kolimon, Ketua Komisi 5 DPR RI Farry Francis, dan Bobby Fanggidae ikut bergabung dan menjadi donatur.” Jelas Watileo dengan bangga.

Setelah melihat hasil perdana setelah pendampingan Eben Taemnanu itu, para pendeta berpikir bahwa ilmu dan teknologi pertanian yang diajarkan ini ternyata sangat murah tapi menghasilkan produksi pertanian yang bagus. Maka timbullah ide  membentuk  sebuah sosialisasi perdana di Sekolah Nekamese bagi para pendeta demi membuka dan merubah mindset berpikir  untuk menjadikan bidang pertanian sebagai sebuah profesi yang bisa memberi hasil yang maksimal dan merubah hidup ekonomi jemaat.

” Dan itu awal mula bertemu dengan pendamping lain dari Toko Pertanian Roda Tani pak Hery dan pendamping dari Nufarm Nufam. Kami makin bersemangat setlah melihat hasil dan respon makin banyaknya petani dan masyarakat yang ingin tahu tentang pola bercocok tanam yang diajakrkan kami. Dan makin banyak petani yang kami dampingi. Dan kami lanjutkan dengan gelar Sosialisasi kedua di Malaka, Pelatihan dan sosila keempat  bekerja sama dengan Roda Tani, Nufarm dan Panah merah yang  sasarannya  adalah para penatua gereja, dengan pertimbangan bahwa kami para pendeta suatu saat akan berpindah tempat tugas bahkan pensiun dan tidak akan selamanya bersama jemaat. Sehingga ilmu ini patut kami turunkan kepada para penatua karena merekalah yang akan tinggal ditengah-tengah jemaat dan bisa membagikankan ilmu. Bahkan kami berniat melakukannya pelatihan juga bagi jemaat agar mereka juga bisa berubah dalam cara berpikir tentang bidang pertanian. Bahkan Roda Tani ikut mendukung dengan pemberian Kartu Member yang sekaligus Kartu Diskon bagi para petani yang nota bene adalah jemaatnya untuk berbelanja berbagai produk pertanian  di Toko Roda Tani.” Kisah Watileo. 

Dalam jabatannya sebagai pendeta dan ketua majelis jemaat dipedalaman dan melayani lima (5) mata jemaat ini Watileo akui sangat miris melihat kondisi kehidupan ekonomi. Selama berpuluh tahun kelola lahan turun temurun hingga anak cucu hanya untuk penuhi kebutuhan hidup sehari. Hasil pertanian konvensional jemaatnya belum bisa membiayai kehidupan mass depan seperti pendidikan, perumahan dan investasi. Dan hal ini juga mempengaruhi kondisi iman jemaat karena kehidupan ekonomi jemaat yang lemah. Dan hal aku Watileo, jadi bahan pergumulannya sebagai hamba Tuhan. Ia berprinsip bahwa sebagai pelayan Firman Tuhan, Gembala yang dipercaya Tuhan menggembalakan domba-dombaNya, ia ingin menolong para jemaat. Caranya adalah dengan merubah mindset atau cara pandang jemaat  bahwa profesi petani adalah sangat mulia karena laksanakan tugas memberi makan orang lain lewat hasil pertanian, bahwa profesi petani jika di tekuni dengan benar dan sesuai pola yang tepat maka bisa hasilkan produk pertanian yang bukan cuma untuk dimakan saja tapi di jual dan memberi hasil berupa uang yang mampu merubah masa depan berbagai bidang.

Prinsip dan niat mulia  inilah yang membuatnya bersama beberapa rekan pelayan ( pendeta) GMIT di seputaran TTS membentuk KOMPAS Tani dan  membawanya bertemu dengan Badan Usaha Roda Tani, PT. Nufarm Indonesia dan Panah Merah (PT. East West Seed Indonesia) dalam mendampingi petani-petani di berbagai tempat seperti TTS, Kabupaten Kupang, TTU, Malaka dan  Rote, Sumba untuk memotivasi mereka menjadi petani profesional dengan menggunakan pola tanam menggunakan pupuk, pestisida, dan mengenal  bakteri dan penyakit tanaman dengan pola yang tepat dan petani bisa menanam dan panen holtikultura di musim hujan yang biasanya mustahil dilakukan. Sehingga dengannya petani dapat menghasilkan produk pertanian yang jauh lebih banyak dan berkualitas termasuk dalam hal memanagemen pemasaran produk hasil pertanian para petani. Pola penghematan penggunaan pestisida dengan dan biaya penyiangan gulma dengan menggunakan plastik  dan irigasi tetes.

Watileo, pria berusia 43 tahun asal Sabu Raijua ini ungkapkan bahwa dengan ajakan KOMPAS Tani maka ada perubaha cukup bagus kehidupan ekonomi petani dijemaatnya. Ada Ayub tameon, Lius Tameon dan Yanto Baun yang awalnya hanya petani musiman untuk  makan, namun setelah managemen yang dibangun KOMPAS Tani dan kawan-kawan maka ketiga petani ini sudah mampu menanam cabe, tomat dan sayuran untuk dijual serta mampu membeli motor,  bangun rumah dan pembiayaan lain.

Sistem kerja yang dibangun di jemaat pelayanannya sejak awal adalah pembentukan kelompok dan selama satu tahun ini, sudah ada beberapa petani yang secara personal  beranikam diri membentuk sel-sel petani dan mengolah sendiri lahan mereka walau belum dalam luasan areal yang besar. Namn dari hasil pengamaannya pendeta berputera dua ini pastikan ada perubahan dalam kehidupan ekonomi.
” jika awalnya mereka jemaat saya ini agak kesulitan membeli beras dan makan dengan lauk ala kadarnya karena pertanian musiman sehingga hasil sayur terbatas, setelah penerapan managemen sistem pertanian baru dari 4 komunitas ini, mereka sudah bisa makan dengan seimbang gizi. Dan kebutuhan lainnya juga terpenuhi. Dan jika kehidupan ekonomi terpenuhi baik maka kehidupan rohani juga bisa diharapkan lebih baik.” Tandasnya gembira.

Watileo juga berharap agar pemerintah bisa lebih pro aktif menjemput bola kebutuhan masyarakat dan masyarakat juga bisa menjemput bola program pemberdayaan dan informasi lain terkait teknologi pertanian. Sistem penggajian tenaga lapangan baik tenaga kontrak dipemerintahan dan swasta seperti di komunitas ini agar bisa digaji.
Sehingga kinerja pendampingan bisa lebih berkualitas dan dengannya petani bisa berhasil dalam bidangnya.

Sedangkan Pimpinan Badan Usaha Roda Tani yang hadir juga saat wawancara di kantornya ini menjelaskan bahwa dengan metode penanaman dan perawatan tanaman hortikultura dengan pengenalan hama dan penyakit tanaman serta pola pemberian pupuk yang tepat waktu dan tepat ukuran, maka hasil produksi pertanian lebih meningkat dari segi jumlah dan kualitas yang notabene berimbas kepada penghasilan petani. Dengan penggunaan plastik moulsa maka biaya penyiangan gulma makin kecil. “Kami ingin membuka dan merubah berpikir masyarakat bahwa menjadi petani dengan pola berubah maka akan menjadikan kehidupan petani berubah.” Tandasnya

Eben Taemnanu akui bahwa penerapan irigasi tetes, plastik moulsa dan pengenalan hama penyakit tanaman dan pemberian pupuk dan pestisida yang tepat, bisa di dipilih sesuai kondisi tanah dan tanaman apa yang ditanam.” Jelasnya diakhir wawancara.**))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *