SULAMANDA “Obyek Wisata Pantai Desa Mata Air”, Bakal Jadi Primadona Wisata Pantai Usai Didandani Kades Benyamin Kanuk

Kupang Tengah, Topnewsntt.com., Desa Mata Air  ternyata memiliki potensi wisata pantai yang indah namun masih tertutup selama ini karena belum dikelola oleh pemerintah Kecamatan Kupang Tengah dan  Kabupaten Kupang, yaitu  Pantai Sulamanda  yang awalnya bernama Pantai Perawan.

Pantai Sulamanda  ini terletak di Desa Mata Air dan jaraknya adalah 1000 meter dari pintu gerbang masuk Desa Mata Air persis di ujung jembatan Tarus. Dan 800 meter dari Kantor Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah.

Pantai Sulamanda  adalah obyek  wisata pantai yang  baru saja dibuka sejak tahun 2017 lewat pengelolaan Bumdes Desa Mata Air. Nama Sulamanda sendiri adalah kepanjangan dari “Sudah Lama Menanti Anda” ini diberikan  oleh Benyamin Kanuk, Kades Mata Air periode tahun 2017-2023.
Namun perintis awal yang membuka obyek wisata pantai Sulamanda sendiri, menurut Beny adalah mantan Kades Mata Air periode 2011-2017 Obi Klau, namun tidak dilanjutkan pengelolaannya karena berakhir masa jabatannya pada 2017.

Saat dirinya menjabat Kades menggantikan Obi Klau, Beny Kanuk   melihat bahwa  potensi wisata alam wilayah pantai di pantai ini sangat unik, karena memiliki dua obyek sekaligus yaitu persawahan dan pantai.  Sehingga  untuk melanjutkan membuka obyek wisata pantai ini dirinya  menggali gagasan dari dusun. Dan dari penggalian ide ini  disepakatilah  beberapa hal, yang pertama adalah mengubah nama jalan masuk lokasi pantai  dari nama sebelumnya  “Jln.Usaha Tani”  diubah menjadi “Jalan  Pariwisata”. Kedua adalah mengubah nama pantai sebelumnya Pantai Perawan menjadi Pantai Sulamanda yang memiliki arti “Sudah Lama Menanti Anda.” Dengan gunakan dana Bumdes maka tahun 2017 dan 2018 dibangunlah fasilitas tahap pertama dengan anggaran Rp.200 juta yaitu 2 lopo, 2 lapak dan 1 prewedding spot serta kolam pemancingan.

Lokasi Pantai Sulamanda Di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang dengan fasilitas yang sudah dibagun pada tahap pertama tahun dari dana Bumdes 2017 dan 2018

“Potensi wisata yang bisa ditawarkan dan menjadi daya tarik bagi pengunjung adalah bahwa ada dua alam yang bisa dinikmati disini yaitu alam persawahan dan alam pantai dengan hutan bakau ini menurut Benny Kanuk mungkin hanya ada di Desa Mata Air ini.  Ruas  jalan masuk ke areal pantai adalah membelah  areal sawah di kiri kanan jalan. Dan masuk kedalamnya areal pantai kita akan disambut dengan hutan bakau yang memenuhi bagian depan pantai. Potensi lain adalah tersedianya dua lopo, arena spot foto prewedding, dua lapak jualan, dan kolam pemancingan yang kesemua fasilitas ini dibangun dari dana bumdes. Dana bumdes sendiri di ambil dari dana desa seumlah Rp.200 juta sebagai dana penyertaan modal.” Jelas Beny bangga.

Untuk tahapan kedua pembangunan fasilitas wisata, rencanya sudah disiapkan anggaran Rp.75 juta bagi instalansi listrik ke lokasi pantai, serta sedang mendorong ke APBD Kabupaten Kupang bagi pembangunan 10 lopo, dan satu Aula Serba Guna.
“Tahun ini kita sudah siapkan dan Rp.75 Juta rupiah bagi pemasangan instalansi listrik ke lokasi pantai ini. Serta pembangunan 10 lopo dan 1 aula serba guna untuk disewakan bagi kegiatan apa saja. Kita sedang menunggu BKM menyelesaikan Ranperdes untuk diasistensi ke APBD Kabupaten demi penerbitan Perdes tentang retribusi untuk dikelola Bumdes.” Jelasnya tenang.

Pantai yang awalnya bernama “Pantai Perawan” ini kini sudah  berubah Nama menjadi Pantai Sulamanda, telah berubah penampilannya menjadi lebih cantik dan  menjadi obyek pariwisata Pantai kebangaan Desa Mata Air diharapkan bisa menjadi alternatif wisata alam pantai demi mendukung program Gubernur NTT menjadikan Pariwisata Sebagai Lokomotif Perekonomian Masyarakat NTT.

Walau belum keseluruhan bagian pantai Sulamanda ini dibangun fasilitas obyek wisata, tapi sudah banyak pengunjung yang datang.

Ditemani Kades Mata Air Benyamin Kanuk, Tim Media mengunjungi pantai berpantai pasir putih siang itu pukuk 12.00 wita pada Rabu, 16/1/2019. Kami disambut areal sawah yang terbentang dibagian kiri dan kanan jalan menuju lokasi pantai Sulamanda. Melewati jalan masuk beraspal  sepanjang 1.2 meter  dengan lebar 2 meter yang adalah jalan desa,   itu memang belum cukup luas untuk jalur mobil dua arah. “Sebelumnya wilayah ini adalah daerah rawa. Namun setelah kami bangun, sudah menjadi areal yang bisa dilalui kendaraan dan manusia.” Jelasnya sambil menunjuk bagian pantai yang sebelumnya adalah rawa yang sudah berubah menjadi padat.

Di pantai yang masih asri berpasir putih dengan wilayah pantai yang lumayan luas sepanjang 3 kilo 700 meter ini sudah dibangun  tembok garis pantai sepanjang  400 mtr (dana kementerian Perikanan dan Kelautan RI). Juga terdapat tembok pemecah ombak sepanjang 100 meter  yang gunakan dana desa.
“Pengelolaan pantai ini kami serahkan kepada Bumdes dengan dana penyertaan modal Rp.200 juta. Dana pemeliharaan untuk  bumdes adalah sebesar  5 % dari  pnghasilan bumdes masuk ke Kas desa dan sisanya di dikelola oleh  bumdes.” Tandasnya.

Secara ringkas Benny Kanuk menjelaskan proses awal pengelolaan obyek wisata Pantai Sulamanda pada 2017 adalah dengan membentuk panitia pemetaan untuk  survei lokasi dan berproses selama 6 bulan,  dilanjutkan dengan membentuk bumdes dan pelatihan bumdes unit pariwisata. Kendala yang dihadapi yaitu penerangan, dan transportasi karena wilayah jadi agenda pembacaan sebelum pembukaan wilayah pantai ini. Dan akhirmya pada  Juli 2017 Bumdes mulai bangun dua lapak, dan masuk awal 2018 dibangun dua (2) lopo dari  dana bumdes sebesar 200 juta.

“Target kami obyek wisata ini akan dilaunching pada Maret 2019 setelah BPK serahkan hasil perdes tentang Perdes Penetapan Retribusi Desa.
“Rencananya jika cepat selesai dengan Perdes Maret 2019 akan dilaunching. Planingnya dalam RUP  untuk tahun 2019 sudah masuk dana yang didorong ke APBD Kabupaten Kupang untuk  pembangujah  10 Lopo dan 1 Aula Serba Guna untuk disewakan dan hasilnya masuk ke Bumdes.  Karena ini satu-satunya obyek pariwisata pantai di Desa Mata Air maka saya harap pantai ini harus jadi salah satu perhatian pemkab. Alasanbya adalah karena dekat dengan  kota Kupang, memiliki alam yang masih asli dan bersih, dan ke lokasi  ini lewati areal pertanian sehingga pengunjung bisa nikmati dua alam wisata sawah dan pantai sekaligus.  Karena ada dibuka jalan masuk persawahn dengan gunakan dana desa ke barat sepanjang 750 meter ke arah timur seoanjang  895 meter dari dana desa sejumlah Rp.183 juga. Ruas jalan ke arah Barat dibangun pada tahun 2017 dengan biaya Rp.183 juta dan ke arah Timur dibangun pada tahun  2018  dengan dana  sejumlah Rp.183 juta.” Jelasnya bangga.

Dalam AD ART Bumdes tlah  diatur tentang  kontribusi  bagi pelaku ekonomi pariwisata ke Bumdes yaitu  selain kewajiban  bersihkan pantai, tapi juga berikan kontribusi beberapa persen ke Bumdes yang besar presantasenya tertuang dalam AD ART Bumdes. Yang perlu dibuat oleh Pemerintahan Desa adalah menerbitkan  Perdes Retribusi bagi pengunjung yang akan dikelola oleh Bumdes.

“Dengan terbitnya Perdes Retribusi bagi pengunjung maka akan ada payung hukum bagi Bumdes untuk menetapkan retribusi sehingga bisa dijadikan biaya pemerliharaan kebersihan dan pengelolaan pantai. Sehingga pantai menjadi obyek wisata yang menyenangkan, aman dan bersih.” Jelas Beny Kanuk diakhir wawancara kami.**))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *