SMA Swasta Nesi Neomnat Kupang, 4 Tahun Setia Didik Anak NTT Walau Banyak Keterbatasan

KUPANG, TOP News NTT■ SMA Swasta Nesi Neomnat Kupang  pernah viral karena upaya kepala sekolahnya Simon Nesi,Amd yang berjuang mengikutkan Ujian Persamaan SMP bagi dua kakak beradik pemulung di Lippo untuk bisa dididik dengan bebas SPP di SMA ini pada 2016 silam.

Sudah 4 tahun berlalu dan tentu kedua siswa kakak beradik tersebut sudah lulus.

Top News NTT menyambangi sekolah ini pada Rabu, 07/10 siang ditengah teriknya matahari Kota Kupang.

SMA Swasta yang masih setia berjalan beriringan dengan sekolah-sekolah negeri dan swasta lain yang kondisinya jauh lebih layak dari kondisi sekolah yang dirintis sejak 2016 silam oleh seorang guru swasta sederhana  Simon Nesi, tegak berdiri dan  setia mendidik anak NTT,  walau ditengah keterbatasan. Walau hanya menempati bekas gedung Kantor Bupati Kupang di Kelurahan Fontein.

Gedung yang sudah lama tak terpakai sejak Kantor Bupati Kupang pindah ke Kompleks Oelamasi ini nampak bersih dari mulai halaman luar, dinding, dan ruangannya. Walau tidak dicat baru hanya cat putih namun nampak bersih.

Ada sekian banyak ruangan bekas kantor di kompleks gedung ini, namun hanya 13 ruangan saja yang dipakai oleh Simon dan rekan guru dan staf untuk menjadi ruangan kelas, kantor, lab dan perpustakaan.

Kami menuju sisi dalam gedung yang menjadi ruang kerja kepala sekolah.  Simon dengan senyum ceria dan polosnya menanti kedatangan kami dengan sapaan “selamat siang mama, terima kasih sudah kunjungi kami.” Ucapnya sambil mempersilahkan kami masuk.

Diruangan ukuran 4×6 meter, dibatasi tripleks menjadi 2 ruangan, ruangan tamu dan ruang kepala sekolah, kami disambut duduk di kursi sofa merah yang sudah tidak baru namun cukup empuk, dan  cukup menyita ruangan. Namun suasana terasa menyenangkan karena disambut dengan sukacita dan ramah oleh yang empunya ruangan. Nampak benar dalam kesederhanaan ada sukacita dan keramahan yang tidak dibuat-buat.

Pria berkulit coklat berusia 53  tahun ini dengan ramah menjawab pertanyaan kami bahwa kondisi sekolah walau dalam Pandemi tetap berjalan dengan sistem pembelajaran Daring dan Luring.  Di sekolah yang masih menyewa  bekas gedung pemkab.Kupang Rp.20 juta pertahun selama 15 tahun, dengan kewajiban membayar tagihan listrik Rp.1.300.000 dan PDAM Rp.500.000 per bulan inilah, namun Simon mengabdikan dirinya mendidik 327 siswanya. Dengan lugas dikatakannya  bahwa KBM tetap berjalan walau dalam masa pandemi.
“KBM tetap berjalan secara daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) atau sistem online dan offline.” Jelasnya diawal wawancara kami.

Di sekolah  yang disebut Simon “tempat buangan” ini, kebanyakan siswanya adalah dari keluarga miskin, sehingg banyak siswa  tidak memiliki HP Android yang saat ini justeru menjadi kebutuhan utama  agar  tetap meneruskan pendidikan secara online.

Namun oleh Simon hal tersebut bukanlah menjadi kendala, dengan  semangat mendidik yang sudah mengalir sejak awal ia merintis lembaga pendidikan menegah atas swasta ini 2016 silam dan dengan dukungan 30 personil sekolah (guru, staf dan sekurity), Simon memakai semua sumber daya yang ada guna mempersiapkan sistem dan perangkat pembelajaran daring dan luring, dengan satu saja komitmen “siswa harus tetap belajar, dan pintar.”

Semua kendala bagi ayah berputeri dua ini bukanlah kendala, tapi tantangan demi menghadirkan sebuah produk pendidikan berkualitas dari tengah minimnya fasilitas.

Mungkin keberadaan Infocus bagi sekolah negeri atau sekolah swasta berdana besar di provinsi ini bukanlah hal istimewa, namun, bagi Simon dan rekan guru yang memiliki keterbatasan dalam sarpras pendukung, sudah merupakan sebuah barang mewah. Dengan jumlah siswa 327 orang, bisa dibayangkan berapa dana BOS yang diterima, dikurangi pengeluaran rutin bagi operasional sekolah.

3 Unit Infocus yang disiapkan adalah guna menayangkan materi pelajaran lengkap dengan penjelasan bagi siswa yang tidak bisa mengakses pelajaran lewat hp android dari rumah. Sekolah pun menyiapkan 3 ruangan besar di sekolah  sebagai kelas dengan masing-masing dengan 1 unit Infocus dan  bimbingan guru untuk membimbing para siswa belajar.
“Jadi siswa yang tidak punya hp datang ke sekolah dan belajar di 3 ruang besar dengan protab kesehatan ketat, pakai masker jaga jarak dan cuci tangan dan lewat infocus mendengar penjelasan materi pelajaran, mengerjakan tugas dan mengumpulkannya kepada guru yang stand by di sekolah. Jika masih lambat dalam penyelesaian tugas siswa kami persilahkan pulang dan  kerjakan tugas di rumah. Besok dikumpulkan dan mengambil tugas dan materi baru. Jam penayangan dibatasi 3 jam sehari dan setelah itu diganti siswa lain.”jelasnya.

Walau sarpras pendukung dan kondisi sekolah yang belum layak, karena merupakan bekas gedung  perkantoran,  10 rombel dengan jumlah siswa 32 dan ada yang 33 orang ini,  tetap dijalankan dengan rasa  syukurnya. Dimata Simon dan krue guru sumber daya yang ada  sudah cukup, walaupun fakta jauh  dari cukup dan layak.

Dengan jumlah siswa 327, dibandingkan jumlah guru yang berjumlah dari 16 orang (3 orang kontrak daerah dan sisanya honor komite dan dibayarkan dari dana bos dan Komite), komputer hanya ada 20 unit memang belum memenuhi standar sebuah sekolah menengah atas yang layak, apalagi ditengah kota Provinsi NTT seperti kota Kupang.  Namun dengan dorongan semangat dari kepala sekolah segala kendala jadi tidak berarti dan KBM Masa Pandemi tetap berjalan. Bahkan saat ini pihak sekolah tengah  mempersiapkan ujian online akhir sekolah bagi siswa kelas 12.
“Siswa kelss 12 kami minta meminjam laptop untuk persiapan ujian akhir online,  namun sekolah tetap menyiapkan 20 unit yang sudah ada di sekolah untuk menjaga kemungkinan jika ada siswa yang tidak memiliki laptop. Bagaimanapun kondisinya kami akan tetap siap untuk ujian akhir nanti.” Tandasnya berjanji.

Bagi sekolah ini, hambatan utama adalah belum memiliki lahan dan gedung sendiri sehingga belum mampu mengakses begitu banyak dana pengembangan sekolah dari Kementerian. Selama inj, menurutnya pihak Yayasan   sedang berupaya  lakukan  pendekatan untuk memperoleh tanah impian guna membangun gedung sekolah milik lembaga ini.

Hal utama yang menjadikan SMA ini patut diapresiasi adalah fakta bahwa banyak siswa yang datang bukan hanya tidak mampu, tapi juga bermasalah dalam beberapa aspek yang sebabkan mereka tidak diterima di sekolah lain. Atau istilahnya siswa buangan.

Namun penanganan yang dilakukan  oleh kasek dan gurunya memakai prinsip  mendidik bahkan memperbaiki kelakuan siswa yang sering dikatakan “bermasalah” patut diacungi jempol.   Terhadap siswa tersebut bukan saja dididik  secara intelektual, tapi diterma dan ditangani dengan menerima keberadaan siswa tersebut tanpa melihat latar belakang buruk dari siswa, namun lebih memfokuskan pembinaan untuk perbaikan intelektual dan karakter. Simon yakin dengan mengabaikan kekurangan siswa, dan hanya fokus pada sistem pendidikannya, menerima diri siswa apa adanya dengan membangun komunikasi dua arah antara sekolah, siswa dan orangtua, maka siswa akan berubah menjadi lebih baik.

Kebijakan lain yang menunjukkan benar bahwa jati diri dan tujuan pendirian lembaga pendidikan ini murni pendidikan, bukan bisnis pendidkan adalah penetapan besaran SPP yang bisa dibilang untuk jaman ini  amat murah,.  Untuk kelas X dan XI SPP hanya Rp50.000 perbulan dan kelas XII Rp75.000 per bulan, dan tidak ada lagi biaya lain. Namun itupun banyak tunggakan, aku Simon tertawa. Walaupun demikian, tidak melemahkan dirinya dan rekan guru dan staf untuk menyiapkan, melakukan dan mempersembahkan yang terbaik bagi siswa dan provinsi ini lewat kualitas lulusan.

Hal miris lain yang bagi orang lain adalah kendala yang melemahkan semangat mendidik namun bagi semua personel SMA Swasta Nesi Neomnat adalah sebuah pecut pembuktian jati diri profesi guru mereka adalah soal status profesi dan honor guru yang jauh dari layak, namun tetap diterima dengan ketulusan mendidik siswa dengan semua daya upaya dan sumber daya yang mereka miliki.

Dari ke 30 personel, 13 adalah guru honor komite dengan honor Rp.300.000 per bulan ditambah honor dari dana BIS Rp.400.000,  3 lainnya adalah guru honor daerah dengan honor Rp.400.000 perbulan ditambah intensif dari Dana BOS Rp.300.000 per bulan. Sedangkan honor staf dan sekurity dibayar dari dana Komite Rp.400.000 per bulan.

Namun semua diterima dengan suka cita dan mereka masih tetap ada di sekolah ini sampai sekarang bersama-sama Simon mendidik putera-puteri NTT.

Perhatian pemerintah lewat dana PIP sudah dua kali diperoleh dengan total siswa penerima adalah  113 siswa, dan Simon berharap Pemprov.NTT lewat Dinas Pendidikan dan Pemangku Kepentintangan Anita Gah bisa mengusulkan dan memperjuangkan semua siswa 327 bisa peroleh Dana PIP.

Ujian Akhir tetap akan dilaksanakan namun masih menunggu arahan pemerintah dengan ujian online. Di sekolah ads  20 unit komputer dan   siswa diminta persiapkan juga di rumah untuk persiapan ujian.

Selama 4 tahun berjalan, menurut Simon, ada perkembangan jumlah siswa, dari 39 siswa pada tahun 2009/2010, pada 2010/11 menjadi 49 siswa, pada TA  2011/2012 56 siswa, dan meningkat paling banyak 2015/2016 menjadi 76 siswa. Sedangkan 2017/2018 menjadi 108 siswa,  dan 2018/2019 menjadi 300 siswa  lebih dan saat ini mencapai 327 siswa.

Diakhir wawancara, Simon berpesan kepada para guru untuk konsisten ke pelayananan mereka.  Ia juga meminta  kepada para guru agar bersabar dan tahu dimana harus merubah diri.
“Saya siap.menerima anak dari berbagai kondisi, dan siap mengeluarkan mereka dari sekolah dengan kualitas terbaik dan memiliki masa depan.  Pergumulan utama adalah masalah tanah bagi pembangunan sekolah.” Ujarnya.■■ juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *