Sinergitas Perguruan Tinggi dan BI Untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi NTT

  • Bagikan

Fred Benu : “Sektor Pertanian adalah yang paling bertahan dan beri kontribusi cukup besar dorong pertumbuhan ekonomi NTT “

I Nyoman Ariawan Atmaja : “BI akan dukung penuh pembiayaan pembangunan di sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan dengan dorong digitalisasi transaksi keuangan.”

NTT, TOPNewsNTT||Demikian antara lain pernyataan dua pemateri ahli (Frederik Benu, Rektor Undana periode 2017-2021 dan Kepala BI Kpa  NTT I Nyoman Ariawan Atmaja) pada acara Webinar : BI Mengajar yang mengusung Thema “Memperkuat Inovasi, Sinergi dan Kepedulian Sosial Sebagai Kontribusi bagi Pemulihan Ekonomi Nasional.”

Kegiatan dilaksanakan pada Senin, 30/8 lewat zoom meeting yang pertama kali dengan peserta terbanyak yakni 1.500 orang,  kebanyakan dari kalangan mahasiswa Undana, dan Perguruan Tinggi negeri dan swasta lain baik didalam dan luar NTT, Pelaku UMKM, GenBI dan jurnalis di kota Kupang.

Pada pembukaan webinar, Rektor Undana Prof.Fred Benu dalam pemaparan materi mengatakan bahwa ia sangat  menyambut baik ajakan BI untuk kolaborasi bangun ekonomi NTT.

“Upaya sinergitas ini sangat baik,  supaya kita membuka akses bagi sektor UMKM khususnya sektor pertanian yang memberikan kontribusi yang cukup besar. Saya sangat menyambut baik upaya pemerintah provinsi NTT dan kabupaten kota dan BI yang terlibat secara aktif terhadap kolaborasi dan upaya yang sudah dilakukan.” Tandasnya.

Ia juga menekankan bahwa sinergitas dan inovasi sangat dibutuhkan dan harus dilakukan saat ini dari seluruh pemangku kepentingan tapi tentu dalam koridor regulasi aturan yang berlaku. Tidak bisa buat sinergitas dengan melanggar regulasi dan aturan.

“Upaya kita untuk kepedulian sosial dan atas nama kemanusiaan harus taat aturan dan regulasi tapi diaesuaikan dengan kebijakan yang bisa diambil. Sehingga gubernur NTT sebelum melakukan sinergitas dan kolaborasi terlebih dahulu melakukan penandatangan MoU dengan seluruh pimpinan Perguruan Tinggi di NTT untuk mendukung program pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi. Sehingga kolaborasi dan sinergitas ini berjalan sesuai regulasi yang berlaku.” Tandas Fred lugas.

Isi kesepakatan tersebut, jelas Fred, yang akan mengakiri jabatan sebagai sektor pada Desember 2021 nanti, sudah dilakukan di 2020. “Semua PT harus mendukung program pemerintaj untuk dukung konsep “Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.” Tanggung jawab Perguruan Tinggi adalah bentuk sinergitas yang harus kita lakukan.” Kata Benu.

“Undana sudah kawal Program TJPS dan ada hampir 100 mahasiswa pertanian yang bertanggungjawab terhadap program TJPS dilahan hampir 800 h di desa Manusak, kelurahan Kule Doki. Semua mahasiswa saat ini ada di sana mengolah tanah, memupuk tanaman dalam rangka untuk sukseskan merdeka belajar dan kampurs merdeka dan untuk kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat sukseskan program TJPS.” Tambahnya lagi.

Selama pandemi, ungkap Benu,  sektor yang bertahan adalah sektor pertanian. Tapi tidak semua sektor pertanian bertahan tapi pertanian tradisional yang tidak tergantung dengan suplai input yang ada hubungan langsung dengan pasar modern.

“Ada kajian  terakhir Undana yang sudah dipublish per 26 April 2021 di Jurnal Argicultuee Internasional yaitu “Respons and Riselience of Asian Agriculture System Covid-19 and Assesmen a Cost Qualified Country  for regional Farming and Food System” yang kajiannya dilakukan oleh 36 pengkaji Pertanian Internasional dari berbagai negara diantara 70an negara di Asia Pasific dan saya wakili Indonesia.” Aku Benu.

‘Temuannya adalah : “the over all, impact on system performance where lossecevier in the agritation with big system and livesevier system in the hill big system. assosiated is the later  case with  great liesivier system with the livesier and disification and less indepent on extra long input  and market change. Farming dan long system riselence and sustinedbility are critical consideration for recovery policy and programme.” ” kutipnya.

“Itu berarti “bahwa sektor pertanian yang menopang perekonomian selama pandemi adalah sistem pertanian yang hill big system. Dan itu ada di NTT . Kita yang paling kuat bertahan dalam pandemi ini.” Tandasnya menerjemahkan.

Di banding dengan sistem pertanian modern, lanjut Fred Menjelaskan “tapi ada kendalanya. Nilai tambah dari model pertanian kita itu kecil. Tingkat kesejahteraan dari pelaku ekonomi rakyat, menjadi basis ekonomi daerah ini tidak cukup besar untuk menopang peningkatan kesejahteraan kita. Demikian juga dengan perekonomian nasional. Karena itu untuk memberikan nilai tambah kita perlu apa yang perlu sinergitas, kolaborasi dan kepedulian sosial.” Jelasnya.

Saat ini, terang Fred, “Pemprov NTT ingin mendorong bukan hanya sektor pertanian saja tapi juga kolaborasi pertanian dan peternakan.  Partisipasi dan sinergitas Undana yaitu lewat program sinergitas Triple Helix bahkan Penta Helix. Uper Helix yaitu Universitas yang bersinergi dengan pertanian dan peternakan.” Ungkapnya.

“Kita ada program di Besipae di lahan pemprov NTT sekitar 3.780 H untuk pengembangan sektor peternakan. Tapi tidak bisa kita kembangkan sektor peternakan ini tanpa sinergitas yang kuat yaitu Penta Helix. Kita juga ada program dengan PLN yang namanya Co-Fireing, pengganti batu bara yang dipakai sebagai pembangkit listrik di Bolok dengan Woodchin yang diambil dari kayu. Ada 3 jenis kayu yang dapat dikembangkan yaitu lamtoro, gamal dan kaliandra.” Jelasnya bangga.

“Yang kita lakukan adalah PLN meminta Undana memasok paling sedikit satu hari 20 ton woodchip dan pada waktunya akan menjadi 50 ton woodchip untuk menggantikan batu bara sebagai pembangkit listrik di Bolok.”

“Tapi itukan 2 pihak, sekarang yang kita kerjakan dengan masyarakat dan pemerintah adalah kita tidak hanya tebang pohon lamtoro tapi tanam lamtoro di kawasan 3.780 H di Besipae. Setelah itu masyarakat yang memangkas untuk tujuan pakan ternak untuk ribuan ekor ternak di Dataran Tinggi Bena. Dinaikkan ke Besipae dipagar dan mereka disediakan makanan pakan ternak lewat program penanaman lamtoro antara Undana dan PLN. Batang kayunya tidak dibuang tapi dibeli dari masyarakat untuk menjadi woodchip tadi sebagai pengganti batu bara melalui program Co-Firering. Model sinergitas seperti ini yang dibutuhkan untuk dorong perekonomian di wilayah NTT.” Tandasnya lugas.

“Saya sebagai rektor berterima kasih karena BI saat ini justeru berbicara tentang sinergitas dan inovasi. Contohnya program Co-Firering tadi.” Tandas Fred Benu akhiri pemaparan, sekalian dengan resmi membuka Webinar  BI Mengajar.

Sedangkan kepala BI Kpa NTT I Nyoman Ariawan Atmaja dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa Thema BI Mengajar adalah  “Cinta, Bangga dan Paham Rupiah.”

Materi yang dipaparkan antara lain status BI yang merupakan Bank Central bukan Bank Komersial yang berikan kredit.

Lalu peran BI adalah menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan dan sistem pembayaran.

Dalam rangka tunjang perekonomian yang sehat, inklusif dalam rangka meningkatkan  kesejahteraan masyarakat, ada 3 hal penting dari peran BI yaitu Stabilitas Moneter, Sistem Keuangan dan sistem Pembayaran dan Kesejahteraan Masyarakat.

“Begitu pentingnya Kesejahtetaan masyarakat  sehingga gubernur NTT canangkan  NTT Bangkit, NTT Sejahtera.” Kata Nyoman.

Cara mencapainya antara lain lewat tujuan BI yang disebut Tujuan Tunggal yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

BI mengeluarkan uamg rupiah sebagai kewajiban moneter yang ada disisi pasivanya pada neraca BI.

BI menjaga nilai rupiah misalnya dengan menukarkan uang lusuh ke BI dengan komitmen masyarakat Cinta, Bangga dan Paham Uang Rupiah.

Ada 2 cara BI menjaga dan mencapai kestabilan uang rupiah yaitu pertama dengan kestabilan uang rupiah terhadap barang dan jasa (perkembangan laju inflasi)  dan kedua kestabilan nilai rupiah dengan mata uang negara lain atau nilai tukar atau kurs terhadap  valuta asing.

Kisaran kurs saat ini jika dalam dolar misalnya 1 US dolar sama dengan Rp.1.400-1.500 rupiah. Dua alat ukur ini  sangat penting bagi BI untuk mengetahui dan mengukur kestabilan mata uang rupiah. Ini demi menunjang pertumbuhan ekonomi yang sehat, berkelanjutan dan iklusif.

Sehat dalam artian negara kita kuat, keuangan dan ekonomi stabil, (berkelanjutan) baik dalam jangka pendek dan jangka panjang selalu tumbuh stabil dan bagus serta menjangkau seluruh masyarakat (inklusif).

Kita canamgkan semua pelajar mahasiswa memiliki rekening untuk semua transaksi keuangan dan usaha demi mendodong pertumbuhan ekonomi. Inilah inklusi dan tidak pengekompokan dan semua bisa beepartisipasi untui dorong laju perekonomian NTT.

3 Kaki BI yaitu kebijakan moneter, kebijakan makro prudensial (stagas sistem keuangan) dan kebijakan sistem pembayaran.

Kebijakan moneter adalah sasaran dan pengendalian moneter, pengendalian suku bunga atau BI seven days 1000 rate.

Inilah yang ditetapkan oleh BI sebagai Jangkar yang kemudian jadi bandage mark bagi perbankkan dan pendanaan, deposito dan kreditnya.

Bi tidak hanya mengeluarkan suku bunga tapi juga ada sasaran-sasaran dan point-point  moneter. Untuk tahu berapa sebenarnya uang yang beredar, berapa kredit yang dikucurkan oleh bank atau lembaga keuangan lain untuk menjaga agar semua sektor ekonomi bisa tumbuh.

Indikator kebijakan prudensial yang beda dengan OJK, BI adalah helikopter viewnya atau makro prudensial yakni bagaimana melihat secara keseluruhan sistem keuangan kita. Sedangkan OJK adalah mikronya yang mengawasi bagaimana bank-bank san non bank. Sehingga tercipta yang namanya stabilitas sistem keuangan.

Intermediasi keuangan harus dijaga dengan baik agar tetap stabil untuk transaksi keuangan. Pembangunan infrastruktur juga dibiayai oleh sektor perbankkan lewat kebijakan prudensial.

Pada sistem pembayaran BI sedang mendorong sistem pembayaran digital seperti e wallet BI harus menjaga sistem server pembayaran digital kita  perbankkan untuk transaksi keuangan digital 1 x 24 jam sistem harus on.

Ketersediaan uang rupiah di BI NTT untuk penuhi kebutuhan di lebih dari 1000 pulau di NTT, kita punya 9 kas titipan dari Atambua sampai Manggarai Barat bagi semua kebutuhan keuangan personal dan pemerintahan dll.

Demikian BI menjaga bauran kebijakan dari 3 kaki kita sehingga PDRB NTT lebih bagus atau sustainable, inflasi kita terjaga secara stabil, neraca pembayaran kita tidak ada yang defisit terlalu besar, nilai tukar rupiah juga stabil, inilah yang akan menjaga stabilitas dari keuangan dan ekonomi kita.

Jadi kalau mau kredit dan menabung jangan ke BI tapi ke bank-bank komersial hanya bank-bank dan pemerintah.

Visi BI adalah menjadi Bank Sentral Digital terdepan yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional dan terbaik diantara negara emergin market untuk Indonesia Maju. Kata kuncinya adalah pertama digital. Kemajuan teknology tidak bisa dibendung hanya dengan android saja, karena semua dilakukan dengan sistem digital dan BI harus jadi terdepan.

Kata kunci kedua yaitu kontribusi nyata untuk dorong pertumbuhan sektor perekonomian. Untuk itu BI lakukan beberapa langkah nyata guna mendorong  yaitu dengan majukan UMKM NTT dan dorong menjadi UMKM digital, mendorong semua pelaku UMKM NTT melakukan transaksi keuangan digital. Selain itu BI juga berkontribusi secara nyata melalui program khusus seperti program sosial. Semua ini dilakukan BI untuk mendorong dan mendukung pertumbuhan ekonomi NTT dan nasional.

NTT sangat luar biasa, pariwisata, budaya dan intelektual luar biasa sehingga kita akan mendukung bibit dan potensi luar biasa baik sda dan sdm yang harus didukung oleh perbankkan dan pemerintah agar generasi muda NTT dapat tumbuh dan tampil cemerlang demi masa depan NTT.

Untuk mewujudkan mimpi diatas, ada 3 kerangka kebijakan BI yaitu di bidang moneter, makro prudensial dan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah (PUR).

Di Moeneter ada 3 kebijakan inflasi yaitu nilai tukar, CAD terkendali dengan suatainable. Jadi BI punya core acount devisa  akan makin banyak .

Jika kita terlalu banyak belanja barang luar negeri maka BI akan banya keluarkan cadangan devisany juga akan makin banyak acount defisitnya. Belanja secara bijak dengan produk-produk dalam negeri tujuannya agar  jangan terjadi devisit.

Kaki yang kedua, sebut Nyoman yaitu makro prudensial. Tujuannya adalah counter civical dinamic. Jadi jangan sampai ekonomi terlalu bergejolak seperti pandemi yang sedang kita jalani hampir dua tahun ekonomi sedang bergejolak, ininyang didorong tidak turun sekali, tapi kalau naik jangan terlalu naik harus stabil kalau tidak akan terjadi bubling economy. Kalau terlalu naik namanya over heating atau terlalu panas maka akan terjadi buble economic. Itu namanya counter civical dinamic sebagai upaya mengontrol  agar ekonomi Jangan tumbuh terlalu cepat atau turun terlalu dalam.

Bi punya  systemic risk , agar jangan seperti tahun 1998 yang terjadi krisis moneter.

Systemic risk dijalankan sebagai upaya BI agar jangan lagi krisis melanda seluruh perbankkan Indonesia, demikian juga dalam masa pandemi ini mudah-mudahan kita bisa menjalani dan menjaga jangan terjadi krisis moneter tentunya dengan ikhtiar dan kerja keras, kerja cepat dan kerja cerdas.

Dan terakhir dari makro prudensial ini adalah bagaimana kita pendalaman pasar keuangan dan industri. Bagaimana sehingga varian-varian produk di pasar keuangan kita bisa kita gunakan lebih baik lagi untuk pembiayaan pembangunan menuju Indonesia Maju yang luar biasa.

Karena ditahun 2024-2045 Indonesia akan  hadapi bonus demografi yang luar biasa. Banyak sekali anak-anak milenial kita. Hampir 60-80 juta anak-anak milenial yang luar biasa akan menjadi sdm yang luar biasa.

Peran BI menjadi sangat penting dalam pembangunan di Indonesia menuju Indonesia Maju dan Sejahtera.

Bagaimana varian-varian produk di pasar keuangan sehingga dapat membiayai pembangunan kita. Begitu juga ekonomi syariah yang dikembangkan BI sehingga banyak sektor terjadi pertumbuhan baru sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Ada wakaf, zakat dll yang bisa menjadi sumber pembiayaan pembangunan kita menuju Indonesia Maju.

Pengembangan, sebut Nyoman, UMKM di NTT ada 437.000 berdasarkan statistik 2016. Tapi yang  sudah masuk kedalam sistem digital dan perbankkan baru sekitar 110.000 yang sudah dapatkan dana dari perbankkan kita.

Kalau digital malah masih perlu improvement. Pada kebijakan internasional, kita perlu berbaur dengan forum internasional. Kita menjaga persepsi di dunia internasional. Sehingga semua investor bisa hadir di dunia internasional, Begitu juga di Indobesia dan NTT. Seperti pembangunan di Labuan Bajo, Alor, pembangunan pelabuhan, bandara. Kita bangga punya Bandara El Tari. Pelabuhan kita yang luar biasa. Kalau kita punya investasi yang bagus semua beranda-beranda kita itu luar biasa, investasi akan datang dan jangan dipersulit, ijin-ijin harus dipermudah. Perlu ada insentif-insentif dari pemerintah pusat dan pemda.” Imbuhnya.

BI juga mempromosikan bagaimana investasi di Indonesia bisa mendapatkan insentif kita berikan sehingga investor itu mau berinvestasi di Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi di NTT pada triwulan pertama 0,12%, triwulan ke-2 tumbuh  4,22% walau dibwah pertimbuhan nasional.0,77%, tapi menurut Nyoman dari grafik sudah tumbuh bagus. Harapannya triwulan 3 akan  tumbuh diatas 5%.

Caranya ada strategi giant change denhan dorong vaksinasi lebih dsri 70% akan terjadi kekebalan kelompok sehingga bisa aktivitas swpeeti biasa seperti di London dan Amerika. Malah semua orang harus di vaksin.

“Pertama buka sektor produktif yang resiko lebih rendah. Pertanian, peternakan hortikuktura, perikanan dll hrs didorong. Dorong pembiayan perbankkan agar dorong sektor-sektor ini lebih cepat tumbuh sehingga ekonomi tumbuh. Dorong digitalisasi keuangan yang kita harus berteman tidak bisa dihindari. Ada QRIS,  e-wallet dan e commemrce apalagi pandemi agar jangan tertular. E-commerce lokal dan internasional. Tapi belinya produk dalam negeri apapun produk UMKM. Seperti kuliner, tenun ikat 4.500 jenis, bawang semau, gula semut Rote, kopi flores manggarai  dll dari NTT.” Kata Nyoman menganjurkan.

Keempat adalah memperkuat sinergi bauran kebijakan baik kebijakan  BI  pemerintah fiskal, OJK dari sistem keuangan, kita sinergikan seluruh keijakan ini. Baik kebijakan moneter BI dan kebijakan mikro perbankkannya, demikian juga kebijakan fiskalnya. Sehingga semua berjalan seiring mendorong pertumbuhan ekonomi kita lebih baik lagi.

Di  triwulan kedua ekonomi tumbuh sebesar 7,07% luar biasa  dan kita berharap di triwulan ke-3 akan tumbuh jadi 8 atau 9%.

Kelimat dorong digitalisasi keuangan perbankkan dan harus ada interkoneksi dengan sistem keuangan digital. Ini yang sudah dilakukan oleh BI.

Inflasi NTT 0,08% year on year. Target kita 3 persen dan ini artinya sangat terkendali.

Penyebab inflasi adalah ikan kembung, daging babi, tukang 0,6% akibat seroja, semangka, cabe rawit. TPID selalu duduk bersama dengan seluruh stakeholder bagaimana kita ciptakan klaster-klaster memenuhi kebutuhan ini termasuk kerja sama antar daerah apabila barang-barang tersebut dari luar daerah NTT kita jaga pasokannya, jaga harganya sehingga tidak terjadi inflasi atau inflasi terkendali dengan baik. Jika inflasi terlalu rendah tidak bagus karena itu artinya ekonomi tidak berjalan dengan bagus.

Untuk cegah penimbunan TPID punya satgas pangan sehingag tidak asa penimbunan. Pendoring deflasi tomat, sawi, buncis dll akibat seroja.

Fulletied food atau stok bahan makanan kita alami inflasi 6,9% year on year,  ini diatas rata-rata yang kita targetkan yaitu 2,33%.

Saya berharap dengan sinergi di TPID dengan seluruh stakeholder dalam 4 bulan ini kita bisa tekan.|| juli br

 

  • Bagikan