Ren Sinlae, Kubur Impian Jadi PNS Malah Sukses Jadi Petani Setelah Selamat Dari Tenggelamnya KMP Jembatan Madura

Kupang Tengah, Kupangmedia.com., Kisah Petani Sukses yang mengisi ruang “Ceritera Inspiratif” Top News NTT Senin, 10/12 kali ini adalah petani yang terbilang sukses dan jadi brand kesuksesan petani di desa Noelbaki, Kecamatan  Kupang Tengah. Ditemui Media ini di rumahnya di desa Noelbaki pada Minggu, 11/11, Ren kisahkan perjalanannya sejak awal mulai rintis hidup menjadi petani.

Ren yang berusia 45 tahun yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Ekonomi  STIM Kupang ini sebenarnya bercita-cita menjadi PNS. Sejak diwisuda pada tahun 2002, Ren yang memiliki puteri 2 dan putera 2 orang ini dengan tekun memasukkan lamaran kerja ke Pemerintahan Kabupaten Kupang dan Rote Ndao  pada setiap tahun pembukaan lowongan CPNSD. Namun selalu gagal sampai akhirnya usianya melewati  batas maksimum yang dipersyaratkan bagi pelamar berijasah  S1 yaitu 35 tahun. Niatnya jadi PNS pupus setelah usaha ikut tes terakhir tahun 2006 dimana dirinya selamat dari kapal Fery Jembatan Madura  yang tenggelam pada saat dirinya ingin ikut tes CPNSD ke Rote Ndao. Dan kejadian lolos dari kecelakaan Kapal Fery JM  itu menjadi titik awal yang  membuat dirinya stop ikuti tes CPNSD dan banting stir ke pertanian. “Saat itu saya sudah beli tiket dengan motor Rp.55.000, tapi  saya telat naik kapal ferry Jembatan Madura.  Saya sempat disuruh loncat naik saja dan tinggalkan motor dipelabuhan. Tapi saat itu saya tidak mau karena berpikir mungkin Tuhan tidak setuju. Dan saya akhirnya pulang rumah dan setelah sampai rumah baru saya dengar kapal fery itu tenggelam. Dan saya benar-benar mulai konsentrasi ke bidang pertanian. ” kisahnya.

Awal mulai usaha pertanian ini, Ren kisahkan hanya dengan satu bidang  sawah sewaan. Dirinya juga yang menjadi perintis pangkalan ojek di jalan masuk Tilong. Namun  hal ini tidak membuatnya depresi, Ren yang sejak duduk dibangku SMA sudah menjadi petani holtikultura jenis Ketimun,  Kacang Panjang, cabe dan tomat ini tidak putus asa. Malah ia terpacu semangat untuk lanjutkan profesi bertani ke jenis tanaman padi di lahan yang lebih luas dengan menyewa sawah orang. Namun tanaman holtikultra tetap ditanamnya menjadi tanaman tumpang sari. Menurut Ren yang penting dalam pertanian adalah managemen yang baik akan hasilkan panen yang besar. Dengan perhitungan ekonomi yang baik, maka usaha pertanian pun bisa memberi hasil yang melebihi gaji PNS. Sehingga itulah yang menjadi dasar usaha pertaniannya.

Bapa Ren Sinlae, Dilahan sawahnya

Kisah inspiratif dari bapak Ren yang  sudah membiayai sekolahnya sejak SMA dengan hasil pertanian holtikultura ini bahkan sudah dikenal banyak petani dan masyarakat di Desa Noelbaki,  Kecamatan Kupang Tengah.  Sehingga setelah menikah pun dan gagal menjadi PNS tidak menjadi sebuah masalah buatnya.
Bahkan Bapa Ren yang berasal dari kabupaten Rote Ndao ini tetap bersemangat. Baginya tidak menjadi PNS bukanlah hal yang harus membuatnya berleha-leha berpangku tangan. Apalagi sejak kuliah sudah memiliki rumah sendiri, dari hasil menanam holtikultura (ketimun dan kacang panjang),  serta menikah setelah wisuda ini sudah memiliki tanggung jawab. Dari pengalamannya mampu membiayai biaya Sekolah sejak SMA dari hasil pertanian ini, makin menggenjot semangatnya  untuk merambah dunia pertanian. Dan kali ini tanaman padi jadi pilihannya dengan pertimbangan hasil panen masih bisa disimpan dalam jangka waktu lama dan harga malah naik setiap saat dibanding tanaman holtikultira jenis sayur dan buah-buahan.

Karenanya bapa Ren nekad menyewa lahan sawah milik orang dan memulai  usaha pertaniannya. Dan saat ini, aku bapa Ren dirinya sudah memiliki 11 lahan didua lokasi  berbeda yaitu di kelurahan Oesao dan Desa  Noelbaki,  kecamatan Kupang Tengah dan Kupang Timur. Yang semuanya ditanami padi.

Diakuinya awalnya hasilnya tidak begitu memuaskan. Walau masih mampu hidup dari hasil panen padi, namun diakuinya jika belum bisa untuk meningkatkan hasil panen untuk komoditi jual yang  bernilai jual tinggi.

Pada tahun 2008, awal dirinya bertemu dengan Pendamping Emauel Tey Seran dan Yacob Suni dari produk  Nufarm dan bisa hasilkan 13 ton padi setelah dapatkan pendampingan.

Namun Bapa Ren di Desa Noelbaki , kecamatan Kupang Tengah sendiri sudah dikenal di kalangan petani lain  dan pemerintah kabupaten Kupang sebagai petani yang sukses, walau dengan sawah sewaan dan sering diminta memberi testimoni kisah suksesnya dan memberi motivasi pada acara-acara pertanian dengan BPLP Naibonat dan Dinas Pertanian Kabupaten Kupang pada kelompok Tani Rindu Sejahtera.

Lewat beberapa kegiatan kelompok Tani Rindu Sejahtera  inilah bapa Ren akui  bisa berkenalan dengan
pendamping Nufarm (Produsen Pupuk dan Pestisida) Emanuel dan Roda Tani pada 2008. Selanjutnya  ia akui peroleh pendampingan yang sangat modern dimata Bapa Ren yang  mampu menaikkan produksi pertaniannya hingga ratusan kali lipat (13 ton) pada 2008 dari sebelumnya. Pola sistem tanam dan perawatan ini  diakui bapa Ren sebagai pola tanam standar nasional.

Hasil panen dari  ke-11 lahan yang terletak di dua lokasi berbeda yaitu di Desa Dendeng dan Oesao sangat melimpah dan ia sudah bisa pekerjakan tenaga kerja yang lumayan banyak. Walau dengan menyewa lahan saja, namun Bapa Ren akui hasil makin meningkat setiap panen berkat pendampingan  dari  Nufarm.
Dan saat ini Bapa Ren bahkan sudah dalam tahap akhir penyelesaian Ruko dan gudang serta rumah berlantai tiga di depan rumahnya di Desa Dendeng. Dan sudah miliki tempat penggilingan padi sendiri, dan mobil penggilingan padi.
Karenanya Ren sangat berterima kasih kepada pola pendampingan Nufarm ini karena sangat bertanggung jawab sebagai distributor penyalur dan perusahaan produk pertanian.

Bapa Ren juga nyatakan puas dengan hasil yang ada dan saat ini hanya meneruskan saja usaha pertanian yang sudah ada, dan ia juga sudah mampu membeli beberapa petak tanah sawah dan kebun untuk dijadikan lahan pertanian. Dan selalu mengajak orang lain untuk ikut mengolah tanah. Menjadi petani karena dirinya sendiri sudah rasakan seperti apa hasilnya bagi dirinya dan keluarga. Bapa Ren sendiri sering diundang  memberi testimoni kepada kelompok tani lain dalam kegiatan yang digelar oleh Nufarm di Kelompok Tani Rindu Sejahtera.

Diakhir wawancara Bapa Ren mengharapkan perhatian pemerintah untuk memperhatikan sirkulasi dan birokrasi distribusi pupuk yang masih menjadi kendala hingga kini bagi para petani. Dan siapkan tenaga ppl yang lebih  banyak agar bisa layani petani. “Seperti pendamping dari Nufarm dan  Rodyang selalu ada bila dibituhkan. Lalu untuk sejahterakan petani Saya juga minta pemerintah bisa batasi beras impor. Agar beras lokal bisa  naik harga. Jika tidak beras kami menumpuk dan jadi turun harga. Mungkin juga pemerintah bisa buat brand desa dengan penghasil yang jadi ciri khas daerah itu. Sehingga orang mau belanja datang ke desa kami. Dan mungkin program serta dana pemberdayaan bagi petani.” Sarannya sederhana.

Kepada masyarakat NTT atau pun petani yang punya lahan Bapa Ren ajak untuk mulai kelola tanah, tanam dengan aneka jenis tanaman padi dan holtikultura lainnya. Agar sejahtera hidup. “Tanah kita subur dan masih berpotensi  baik untu di olah. Kita bisa jadi bos di tanah sendiri. Saya sudah buktikan. ” Tandasnya memotivasi.**))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *