Potret Perkembangan Ekonomi NTT Agustus 2019

NTT, TOP NEWS NTT ■■ BPS Provinsi NTT kembali merilis hasil survei perkembangan ekonomi NTT yang meliputi perkembangan Indeks Harga Konsumen, Nilai Tukar Petani, Eksppr-Impor, Pariwisata, tingkat hunian hotel, kedatangan penumpang udara.

Rilis ini digelar dalam press confress bersama media dan OPD tingkat Provinsi NTT pada Senin, 2/8/2019 di pres-com room BPS Provinsi NTT.

Pada kesempatan ini rilis dipimpin oleh Kabid.Statistik dan Distribusi, Damarce M.Sabuna yang mewakili kepala BPS Maritje Pattiwaellapia yang sedang tugas luar daerah, didampingi oleh Tio Farida Gultom, Kabid IPDS  (Integrasi Pengolahan dan Desiminasi Statistik).

“Agustus 2019, Provinsi NTT dan dua kota sample IHK (Indeks Harga Konsumen) lainnya di NTT alami deflasi. Untuk provinsi NTT alami deflasi sebesar 0,29% dengan IHK sebesar 134,61. Sementara dua kota sample IHK di NTT yaitu Kota Kupang alami deflasi sebesar 0,33% dan Kota Maumere alami deflasi sebesar 0,04%.” Jelasan Demarce mengawali press-com ini.

Deflasi Agustus 2019, menurut Damarce,  terjadi karena adanya penurunan harga pada 5 kelompok pengeluaran. Dimana kelompok bahan makanan yang mengalami penurunan terbesar yaitu 1,23%, diikuti kelompok transpor menurun sebesar 0,06%, kelompok makanan jadi alami penurunan sebesar -0,02%, kelompok pendidikan turun sebesar -0,01%. Sedangkan kelompok sandang dan kesehatan alami kenaikan indeks harga sebesar 0,33% dan 0.12%.

Dari 82 kota sampe IHK Nasional, 44 kota alami inflasi dan 38 kota alami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kudus sebesar 0,82%, terendah terjadi di Kota Pare-Pare, Madiun dan Tasikmalaya dengan inflasi sebesar 0,04%. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Bau-Bau sebesar 2,10% dan terendah terjadi di Kota Tegal dan Palopo sebesar 0,02%.

Dibandingkan dengan Juli 2019, NTT alami inflasi 0,21%. Terjadi penurunan IHK dari 135,00 pada Juli 2019, menjadi 134,61  pada Agustus 2019. Deflasi ini terjadi karena adanya penurunan harga pada 5 dari 7 kelompok pengeluaran. Inflasi secara Year on year atau tahun kalender sebesar  -0,07%, inflasi tahun ke tahun Agustus 2019 terhadap Agustus 2018 sebesar 1,86%. Untuk kota Kupang inflasi tahun kalender adalah -0,15%,  inflasi tahun ke tahun, 2019 terhadap 2018 adalah 1,39%.

Kota Maumere alami  inflasi tahun kalender 0,50%, inflasi tahun ke tahun adalah  sebesar 1,36%.

5 kelompok pengeluaran alami deflasi dan 2 kelompok pengeluaran alami inflasi. “Barometer kestabilan IHK adalah dilihat dari kelompok bahan makanan, jika alami deflasi berada pada posisi 2–3 persen maka  bisa disimpulkan kondisi aman. Walaupun transportasi deflasi, tapi harga sudah terlanjur naik sehingga walaupun turun, tapi tidak akan buat perubahan banyak. Di kota Kupang deflasi 1,35% dan paling tinggi. Penurunan kelompok pengeluaran pada bahan makanan secara nasional adalah bawang merah, sawi putih. Sedangkan di NTT  kopi alami penurunan di tingkat pedesaan dan konsumen. Sedangkan harga emas naik. Harga pembalut juga naik. Biaya pendidikan agak meningkat terutama sekolah swasta.” Ujar Damarce menjelaskan.

Deflasi pada Agustus 2019 di NTT sebesar 0,29% searah dengan yang terjadi pada tahun sebelumnya yaitu pada Agustus 2018 dimanan provinsi NTT alami deflasi sebesar 0,45%.

Menurut kelompok pengeluaran, pemberi andil terbesar dalam pembentukan deflasi di NTT bulan Agustus 2019 adalah kelompok bahan makanan dengan andil negatif sebesar 0,29%. Sedangkan kelompok sandang dan kesehatan memberikan andil positif terhadap deflasi sebesar 0,02% dan 0,01%.

“Khusus untuk kota Kupang dan Maumere, sebagai 2 kota yang masuk 4 besar yang tahun kalendernya menurun. Sehingga kemungkinan NTT akan peroleh penghargaan kota deflasi terendah jika dapat pertahankan kondisi deflasi.
Harga stabil dalam level 2–3% dalam setahun, maka akan sangat mendukung perkembangan ekonomi di suatu daerah. Rencananya ke depan Sumba Timur akan jadi kota sample IHK di NTT. BPS memantau diseluruh 22  kabupaten Kota di NTT.” Tandas Damarce lagi.

Nilai Tukar Petani (NTP) bulan Agustus 2019 didasarkan padaperhitungan NTP dengan tahun dasar 2012 (2012=100).

Penghitungan NTP ini mencakup 5 sub-sektor, yaitu sub-sektorpadi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

Pada bulan Agustus 2019, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 106,83 dengan NTP masing-masing sub-sektor tercatat sebesar 106,86 untuk sub-sektor tanaman padi-palawija (NTP-P); 103,01 untuk sub-sektor hortikultura (NTP-H); 105,51 untuk sub-sektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 110,80 untuk sub-sektor peternakan (NTP-Pt) dan 108,45 untuk sub-sektor perikanan(NTP-Pi).
“Terjadi peningkatan sebesar 0,39 persen pada NTP Agustus 2019jika dibandingkan dengan NTP Juli 2019. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan/daya beli dan daya tukar (term oftrade) petani di pedesaan meningkat dibanding bulan sebelumnya atau terjadi peningkatan pendapatan petani 6,83% dengan biaya hidup yang dikeluarkannya. Hal ini disebabkan adanya peningkatan harga jual hasil pertanian, sedangkan harga konsumsi rumah tangga mengalami penurunan. Di daerah perdesaan terjadi deflasi khususnya pada harga komoditi sandang, bahan makanan dan perumahan.” Jelas Damarce.

Ekspor Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan Juli 2019 adalah senilai US $ 1.432.105 dengan volume sebesar 6.840,6 ton, artinya mengalami peningkatan sebesar 29,02 persen dari ekspor bulan Juni 2019 yang sebesar US $ 1.109.999.
” Nilai ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US $ 140.665 dan ekspor non-migas senilai US $1.291.440. Komoditas ekspor Provinsi NTT bulan Juli 2019 seluruhnya dikirim ke Timor Leste sebesar US $ 1.432.105. Komoditas terbesar yang diekspor Provinsi NTT pada bulan Juli 2019 adalah kelompok komoditas Garam, Belerang, dan Kapur (25) senilai US $ 275.541. Impor Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Juli 2019 senilai US $6.900.751 dengan volume sebesar 14.379,5 ton dengan komoditas impor terbesar Bahan Bakar Mineral (27) yang didatangkan dari Malaysia. Jika membandingkan kumulatif nilai ekspor sebesarUS $ 8.234.391 terhadap kumulatif nilai impor sebesar US $38.014.986 maka pada tahun 2019 terdapat defisit sebesar US $29.780.595.” Jelasnya.

“Untuk tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Juli 2019 adalah sebesar 53,12 persen, naik 1,72 poin dibanding TPK Juni 2019 yang sebesar 51,40 persen. Jumlah tamu menginap pada hotel bintang bulan Juli 2019 sejumlah 36.622 orang dengan rincian 32.259 orang tamu usantara dan 4.363 orang tamu mancanegara. Rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang pada bulan Juli 2019 selama 1,55 hari. Rata-rata lama tamu nusantara menginap selama 1,41 hari dan rata-rata lama tamu mancanegara menginap selama 2,71 hari. Jumlah penumpang angkutan udara yang tiba di NTT pada bulan Juli 2019 berjumlah 189.359 orang sedangkan penumpang yang berangkat berjumlah 173.099 orang.” Lanjutnya.■■Juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *