Pendeta Marko Leonupun, Padukan Theologi Dan Budi Daya Hortikultura Sebagai Konsep Pelayanan

Kupang, Top News NTT, ■ Pendeta Markus Yonatan Leonupun (37) yang biasa disapa pendeta Marko saat ini sedang bertugas di Jemaat GMIT Noelsinas, Kabupaten Kupang. Pria asal Tepa, Maluku Utara ini memiliki konsep menarik tentang pelayanan seorang pendeta. Kepada Media ini, dirumah sekaligus kebun contoh hortikultura baginya dan siapa saja yang mau belajar budi daya hortikuktura, pendeta Marko mengungkan konsep pelayanan kepada jemaat gereja yang dianutnya. Yaitu memadukan Konsep Theologi dan budi daya pertanian modern.

Bukan tanpa alasan pria yang datang ke Kupang karena kondisi kekacauan di Ambon pasa tahun 2000 ini. Karena ia memiliki prinsip  bahwa jemaat tidak hanya butuh diajar dari mimbar saja, tapi pendeta harus terlibat sampai ke dalam kehidupan  sehari-hari jemaat terutama bisa memberi solusi bagi masalah ekonomi jemaat.

Pendeta yang merupakan  pengungsi Ambon yang pada tahun  2000 berpindah ke Kupang dan kuliah di Theologia Unkris ini punya kiat jitu bagaimana mengimplementasikan Firman Allah kepada jemaat lewat bidang pertanian. Konsep Theologi dipadukan dengan bertani ini sudah dipraktekkannya saat di Ruteng.

Pendeta Marko pernah menjadi Vikaris di Labuan Bajo lada 2006-2007, tapi di  Tabis di Jemaat Koro Oto, Amarasi. Dan penempatan pertama  bertugas  di Borong selama  5 tahun. Dan selanjutnya dipindahkan ke jemaat Imanuel Ruteng selama lima tahun.

Pendeta Marko berkisah saat ditugaskan di Borong, Manggarai Timur selama 3,5 tahun adalah menjadi  awal perkenalannya  dengan sistem Pertanian Hortikultura.

Ia didampingi isterinya mengisahkan bahwa saat di Ruteng, ide mengawinkan kosep Theologi dan budi daya hortikultura datang dari motivasi dan ide isterinya yang adalah sarjana pertanian yang usulkan untuk  memadukan antara pelayanan Theologinyab dengan  pertanian hortikultura.

Ide inilah yang akhirnya diwujudkan pendeta Marko (panggilannya-red) dengan memperkenalkan  dan mengajak jemaat untuk mencoba pertanian hortikultura. Selama bertugas disana itulah pendeta Marko mengajak jemaat menanam mengembangkan pertanian hortikultura dengan menanam Tomat, buncis, lombok besar.

Pendeta Markus (Marko) Leonupun di tengah lahan cabe di rumah pertaniannya di kel Manulai 2, Kec.Alak, Kota Kupang

Memang awalnya kisah pendeta Marko dari sekian  banyak jemaat yang diajak, hanya satu jemaat saja yang ikut yaitu Daud Umbu Napa, pria asal.Sumba yang berdomisili di Ruteng dan berprofesi sebagai sopir.

Pada Januari 2015 saat isterinya alami penyakit jantung dan harus dioperasi di Kupang, ia mengajukan permohonan pindah ke Kupang yang disetujui dan resmi ia berpindah tugas ke jemaat di.  Ia berkenalan dengan pendeta Jefry Watileo dan Eben Taemnanu.

Sebelum ia bertugas di jemaat di Amarasi, ia sempat bertugas di Kopdit GMIT TLM dan membeli sebidang tanah di kelurahan Manulai 2, Kecamatan Alak dan mencoba menanam beberapa  varietas hortikultura seperti tomat, cabe, terung, dan buncis di lahannya yang sangat startegis dilereng yang memiliki pandangan ke lembah yang sangat indah. Dan setelah ia berpikir bahwa jika ia berusaha sendiri menghimbau jemaat untuk menanam, maka akan sulit. Karena jemaat lebih banyak petani.

Dan  ia mengajak beberapa pendeta GMIT untuk berdisuksi tentang konsep memadukan pelayanan Firman Tuhan dengan mengajar jemaat pola budi daya hortikultura. Dari pengalamannya bertuga di Ruteng berhasil mengajak jemaat bertani hortikultura di lahan Gereja dan hasilnya sangat bagus. Pengalaman bertani di Ruteng dan di lahan miliknya di Manulai 2 ini, dan dengan melihat latar belakang jemaat yang kebanyakan petani, Pendeta Marko berpikir ingin memadukan Theologi dengan Pertanian Hortikultura.
Maka lewat diskusi kecilnya bersama beberapa rekan pendeta, antara lain pendeta Jefry Watileo, pendeta Nyongky Riri dan isteri, ibu pendeta Marlis Babys- Riri,  Marsel Tuan dan teman-teman pendeta lainnya, akhirnya mereka sepakat membentuk Kompas Tani pada 28 April 2016.

Pendeta Marko menjelaskan alasan pembentukan Kompas Tani ini adalah pertama karena hobby, tapi setelah melihat jemaat terbanyak petani maka terobosan untuk membantu jemaat adalah lewat bertani hortikultura. Jadi ada perubahan dari sistem konvensional ke modern agar pertanian memberikan hasil yang merubah ekonomi. Jadi tidak sekedar berkhotbah, ajak jemaat ke gereja dan  kasi kolekte, terus apa yang bisa dibuat untuk jemaat. “Ide membentuk Kompas Tani ini dan mengajak jemaat bertani karena melihat juga dari sistem yang dibangun oleh yayasan gereja Khatolik di Ruteng. Para pastor tidak sekedar berkhotbah dam menolong jemaat lewat pelatihan dan pengembangan bidang pertanian, peternakan dan perikanan. Potensi pada jemaat digali untuk dibantu gereja lewat  berbagai lembaga yang mewadahi profesi jemaat dengan bantuan dana dari gereja. Sehingga rata-rata jemaat Katholik memiliki kehidupan ekonomi yang baik. Demikian juga pada umat Muslim. Lembaga agama mereka memperhatikan kehidupan jemaat. Tidak sekedar memberikan makanan rohani di mimbar tapi juga membantu sampai masalah ekonomi dna pendidikan. Jadi bukan dengan sumbangan tapi siapkan wadah, pelatihan dan anggaran untuk ajak jemaat mau bekerja sesuai bidang profesi mereka. Hal ini saya buat di jemaat Imanuel Ruteng. Dan walau hanya satu orang waktu itu yang bisa termotivasi dan menjadi petani hortilultura, tapi paling tidak ada yang bisa diharapkan memberi motivasi kepada jemaat lain untuk mencoba. Jemaat GMIT Imanuel Ruteng yang berhasil adopsi ilmu budi daya hortikultura  Daud Umbu Napa.  Ialah orang pertama dan satu-satunya yang menyambut baik ajakan saya lewat mimbar. Dan ia berhasil mengembangkan pertanian hortikultura hingga sekarang. Saat awal tanam cabe dan tomat.” Kisah Pendeta Marko dengan santai.

Kompas Tani sendiri setelah terbentuk, menurut pendeta Marko sudah lakukan pelatihan motivasi  budi daya Hortikultura sebanyak empat kali. Yang pertama kali Sekolah Lapangan Nekamese, milik Frarry Francis yang saat itu sangat antusias membantu dengan menyiapkan tempat pelatihan,  bibit serta yang menghubungkan Kompas Tani dengan Kementerian Desa Tertinggal. Pelatihan pertama 2016, kedua dan ketiga pada  April dan Agustus 2017 di tempat yang sama. Dan pelatihan keempat pada April dan Agustus di Malaka pada   2018. Terobosan yang dibuat pendeta Erni adalah merubah TKW (Tenaga Kerja Wanita), menjadi KWT (Kelompok Wanita Tani). Menghimpun semua jemaat perempuan yang mantan TKW menjadi anggota kelompok Wanita Tani. Agar mereka tidak nganggur setelah pukang TKW dan jadi korban traficking, jelas Pendeta Marko.

Sebagai sekretaris Kompas Tani, Pendeta Marko jelaskan sudah banyak pendeta yang tergabung sampai saat ini dan membuka kelompok-kelompok tani di tempat tugas masing-masing.

Ia juga menemukan dalam pelayanannya bahwa banyak jemaat punya lahan tapi tidak tahu bagaimana mengolahnya menjadi lahan hidup yang menghasilkan uang lewat budi daya hortikultura. Ia lakukan pendekatan verbal kepada jemaat dari misalnya kenapa tidak sering masuk gereja. Ia lakukan kunjungan rumah dan alasannya adalah ekonomi. Tidak punya uang untuk kolekte. Miris sekali,  seolah-olah kolekte jadi hambatan orang ke gereja. Dan ia  ajak jemaat itu untuk melihat kebunnya. Dan membantunya managemen budi daya Hortikultura untuk mengelola tanahnya yang awalnya “lahan tidur” menjadi “lahan hidup.” Mengganti pola pertanian lama dan imeg hanya untuk makan dengan pola budi daya hortikultura yang baru yang dipelajarinya selama setahun dari Pendamping Panah Merah Eben Taemnanu, yamg bisa hasilkan panen yang meningkat dan otomatis duit untuk kehidupan keluarga. Tapi diakuinya ilmu yanh dipelajarinya di praktekkannya dengan mengolah lahan sendiri di kelurahan Manulai 2 ini. Dan setelah alami dan rasakan hasilnya ia menularkannya kepada jemaat. Tapi hal awal yang dilakukannya adalah memotivasi dan merubah cara pandang jemaat tentanh pertanian pada umumnya yaitu dari hanya karena pengalaman warisan yang konvensional dan hanya untuk makan, kepada pola pandang baru bahwa pertanian bisa jadi profesi yang punya andil penting bagi ekonomi keluarga. Bahwa pertanian bisa hasilkan uang yang banyak, bisa jadi bisnis pertanian asalkan dalam managemen pengelolaan yang modern dan serius. Dan kedua memperkenalkan budi daya hortikultura, bahwa pertanian hortikultura punya prospek yang bagus jika dikerjakan dengan serius dan sistem yang benar.

Setelah para jemaat mengerti dan termotivasi, barulah pihak gereja menyediakan bibit, pupuk dan alat kerja pendamping. Bahka jika ada jemaat tidak memiliki lahan maka lahan gereja dipakai dengan membentuk kelompok tani. “Itu sistem kerja kami. Semua masuk kelompok tani, namun lokasi kerja bisa diatur. Yang punya lahan bisa kerja di lahan sendiri, yang tidak punya dilahan gereja kerja dalam kelompok. Dan pola itu yang saya terapkan di desa kecamatan Nekamese dimana saya bertugas. Dan di jemaat di desa Tunfeu sudah terbentuk kelompok tani yang terdiri dari orang muda. Dan mereka sekarang berhasil mengbangkannya.” Jelas Pendeta Marko bangga.

Sedangkan pendampingam akunya didapatnya dari Panah Merah dan Roda Tani, motivatornya ada Hery Heriyanto Owner Roda Tani. “Kompas Tani bermitra dengan Panah Merah dan Roda Tani dalam menolong jemaat petani.” Akunya.

Diakuinya pendampingan Panah Merah dan Roda Tani sangat bagus dan patut ditiru oleh pemerintah dalam menolong masyarakat petani.

Pendeta Marko beri kesaksian bahwa lewat perpaduan pertanian Hortikultura dan theologi, salah satu jemaat di Ruteng Daud Umbu Napa bukan hanya berhasil merubah ekonominya saja. Tapi bahkan mampu merubah pola hidupnya dimana rumahnya jadi tempat bermain judi. Setelah peroleh hasil pertama Rp.50 juta dari panen tomat, cabe dan ketimun, Daud tidak berjudi lagi karena waktu habis di lahannya. Akhirnya satu-satu kawan penjudi pergi
Bahkan sekarang Daud mampu memotivasi jemaat lain bahkan penduduk desa tempatnya tinggal untuk bertani Hortikultura. Rumahnya berubah fungsi jadi tempat diskusi pertanian dari kelompok tani yang terbentuk. Kejadian serupa juga terjadi di desa Noelsinas, dimulai dari Felix,  walau kekurangannya adalah masalah air tapi sudah mencoba tanam. Tapi diakui pendeta Marko baik Felix, James dan Ari tetap komitmen tanam walau harus dengan membangun bak air dan memakai air tangki. Ada juga James Amnahas seorang guru honor yang menjadi petani demi peningkatan ekonomi. Sedangkan James Lasa sebelumnya adalah sopir dan berhenti total dan menekuni budi daya hortikultura.

Bahkan pendeta Marko sendiri akui bahwa dirinya sendiri sudah merasakan hasil panen yang memberi nilai tambah bagi keluarganya.

Ia juga bersama Kompas Tani berpikir alangkah baiknya jika Pemerintah ikut memberi kontribusi. Dan setelah berdiri selama  3 Tahun Sinode GMIT memberi wadah bagi Kompas Tani masuk ke Sinode GMIT. Konpas Tani sudah jadi Satgas dan pendeta Marko sebagai Ketua Satgas. Dan sudah ada program kerja tahunan. “Ada program yang akan dijalankan yaitu Program Pendampingan Purna Migras. Jadi kita dukung moratorium TKW dengan mendampingi mereka yang pulang kampung dibidang pertanian hortikultura. Agar tidak bingung mo kerja apa setelah pulang TKW. Jadi program itu akan beri pelatihan, motivasi dan modal kerja dalam kelompok. Sehingga tidak berpikir untuk pergi TKW lagi tapi mengolah tanah dan jadi bos di negeri sendiri. Dan Kompas Tani yang dipercayakan menjalankan program itu karena kami sudah ada konsep dan tenaga pelatihan dan pendampingan. Jadi akan kerja tim Kompas Tani, Panah Merah dan Roda Tani.” Jelasnya bangga terhadap perkembangan Kompas Tani.

Bahkan gubernur NTT Viktor Laiskodat sudah datang ke Pondok diskusinya untuk mendengar langsung tentang Kompas Tani saat ada rapat internal. Dan setelah mengenal apa konsep dan tujuan Kompas Tani maka Gubernur VBL mendukungnya lewat anggaran.

“Prinsip kerja pelayanan saya adalah memotivasi jemaat ke gerja dengan menyentuh kepada kebutuhan jemaat. Terutama ekonomi. Ekonomi jemaat ikut menentukan kerajinan jemaat bergereja dan mempengaruhi iman. Jadi saya ubah konsep pelayanan agar berkhotbah harus dengan kerja menolong jemaat. Tidak bisa berdoa saja, berkhotbah saja dan menyuruh jemaat masuk gereja tanpa mencari tahu apa yang jadi kendala dan kebutuhan jemaat. Ora et labora.” Jelasnya.

Sebagai seorang ketua majelis jemaat, pendeta Marko punya konsep sederhana dalam membimbing jemaat yaitu sebaiknya ubah konsep kegiatan eforiah yang kosong tapi gereja harus bisa ajak jemaat kerja dan bahkan beri teladan kerja duluan sehingga jadi motivasi bagi jemaat. Bahkan tahun 2018 di jemaat Noelsinas ia ubah kegiatan perayaan Paskah dengan buat lomba jalan salib hortukultura. Tujuannya ajak jemaat bertani. Karena pertanian adalah bidang yang memberi kehidupan dasar bagi manusia. Manusia yang butuh makan pasti butuh petani. Apapun profesi kita bertani bisa dijalani berdampingan dengan pertanian.

Kepada pemerintah, pendeta Marko menghimbau agar mau turun dengan serius ke masyarakat petani dan melihat apa kendala dan kebutuhan mereka sehingga  belum sejahtera. Dan  bantuan harus langsung ke petani dengan melihat kebutuhan masing-masing petani. Sehingga tepat sasaran. Karena petani adalah pendukung utama ekonomi masyarakat.

Jadwal rutin Kompas Tani adalah dua kali setahun pelatihan bagi pendeta, petani dan pemuda. Dan tahun 2019 akan ada pelatihan di Kabupaten Rote Ndao. ■■Juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *