Ngopi Bareng awak media, Ini Komitmen Julie & Mery Bangun NTT lewat PKK dan Dekranasda

KUPANG, TOP News NTT■■ Ketua Dekranasda dan Ketua TP PKK NTT Julie Sutrisno dan Maria Fransisca Djogo Wakil Ketua TP PKK NTT menggelar Acara Ngopi Bareng Awak Media pada Kamis,8/10 di Galeri Dekranasda Provinsi NTT Jalan Jend.Soeharto Kuanino, Kupang, NTT.

 

Berbagai aksesoris hasil tenun ikat dan bahan lokal NTT

Menurut Julie dalam sambutan awal membuka kegiatan yang dihadiri sekitar 100 awak media cetak, elektronick (tv dan radio), dan media online ini dilakukan atas banyak  permintaan dari jurnalis sendiri untuk memperkenalkan sosok Julie Sutrisno baik sebagai isteri gubernur fenomenal Viktor Bungtilu Laiskodat, maupun sebagai dirinya sendiri yang memegang beberapa jabatan penting baik yang melekat sebagai isteri gubernur, Ketua PKK, Ketua Dekranasda, Bunda Paud, Bunda Baca, maupun sebagai Anggota DPR RI fraksi  Partai Nasdem, maupun sebagai pebisnis dan pecinta Tenun Ikat NTT.
“Pak gubernur kan  sudah buat coffe morning dengan wartawan toh,  dan beliau minta saya juga memberi perhatian kepada rekan-rekan  wartawan, maka dengan pencetus dan koordinasi salah satu wartawan, kita ketemu hari ini disini, di Galeri Dekranasda NTT ini.” Ujarnya dalam dialek Kupang campur Jakarta dan penuh guyon.

Pajangan kain tenun ikat NTT dan gaun tenun ikat NTT karya perancang lokal NTT

Julie dengan bangga memperkenalkan Galeri Dekranasda NTT kini yang berupa  sebuah toko yang memamerkan sekaligus menjual semua hasil seni budaya NTT mulai dari Kain Tenun Ikat NTT dan semua produk ikutannya, di lengkapi caferitaria lengkap dengan barista yang menyiapkan 11 jenis kopi dari 11 daerah di NTT,  dan juga galeri yang ditempati pelaku UMKM  NTT yang menjual semua pangan berbahan serba lokal NTT, terutama kelor.

Jabatan ketua TP PKK dan Dekranasda NTT, pada dirinya dan jabatan wakil ketua TP PKK NTT pada Maria Fransisca Djogo langsung melekat kepada keduanya sebagai isteri, jelas Julie,  begitu Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef A.Nae Soi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada 5 September  2018 lalu.

Dalam perjalanan waktu, aku Julie dirinya dipercaya sebagai Bunda Baca NTT oleh Perpustakaan Nasional dan  10 September 2020 oleh  Kementerian Pendidikan didaulat sebagai Bund PAUD  NTT.

Dalam bidang politik, Julie akui dirinya dipercaya juga sebagai Ketua tentorial pemenangan NTT,  NTB,   Bali  dari partai Nasdem dan ketua DPW Nasdem Bali.

Dalam pelaksanaan tugas sebagai ketua TP  PKK NTT,  jelas Julie ada 10 program wajib yang semuanya  berusan dengan  hayat hidup masyarakat NTT dan menjadi bidang tugas wajib dari ke-39 OPD yang ada  di pemerintahan provinsi NTT,  yang bertujuan untuk mewujudkan komitmen Gubernur dan wakil gubernur NTT yaitu untuk NTT bangkit dan NTT sejahtera.
“Sebelum VBL jadi Gubernur NTT, kami adalah orang swasta dan saya tidak tahu apa itu PKK. Namun bersama bunda Mery Fransisca Djogo (Bunda 2), kami ingin sempurnakan semua program PKK demi sejahterakan masyarakat  NTT.” Ungkap Julie bangga.

“Jika gubernur dan wakil gubernur konsern ke infrastruktur, maka saya bersama  ibu wakil konsern kepada  sdm masyarakat  NTT, karena saat ini NTT merupakan provinsi dengan masalah stunting dan masalah gizi buruk tertinggi. Kedua hal itu  amat  berpengaruh besar kepada  kepintaran anak NTT. Tentu untuk mengentaskannya bukan hal mudah, namun paling tidak yang bisa berdua lakukan Bunda 1 dan Bunda 2 adalah menekannya agar kedua kondisi ini menjadi minim atau berkurang.” Tandas Julie bersemangat.

Di NTT, kupas Julie,   terdapat 3.026 desa sehigga dalam kurun waktu 5 tahun saja  tidak akan cukup untuk  tuntaskan masalah stunting dan  gizi buruk.
“Karena itu kami berdua membuat project  desa /kelurahan model sebagai pilot project untuk mendorong percepatan pelaksanaan prorgram-program pengentasan Stunting dan Kurang Gizi di 22 Kabupaten/kota di NTT.  Untuk sukseskan program ini,  kami minta dukungan  dari isteri para Bupati dan walikota yang juga menjadi Ketua TP PKK Kabupaten/kota. Di kota Kupang sudah ada kelurahan Manutapen sebagai kelurahan model. Kami buat program untuk bisa mengatasi  kedua masalah ini. Untuk pelaksanaan program kerja PKK, kami dikasi anggaran  pada tahun 2020 sebesar  Rp30M.  Kecil sih, tapi kami berdua bertekad, walau anggaran hanya sebesar itu,  tidak akan ada perjalanan dinas, anggaran itu khusus untuk  fasilitasi  dan berantas kedua masalah itu.” Ujarnya lagi.

Komitmen kedua perempuan beda wilayah dan usia ini adalah seiring sejalan dalam konsep menudukung gubernur dan wakil gubernur dalam memberdayakan perempuan sebagai aset dasar pembentukan masyarakat keluarga. Dan untuk mengatasi kedua masalah diatas, ditunjukkan lewat komitmen kuat keduanya tetap berjalan walau anggaran hanya Rp30 M. Prinsip keduanya “jangan hanya habis dibahas tapi eksekusi.”
“Maka TP PKK NTT dengan prinsip ‘Think Outside the box dan bekerja dengan hati”,  menggunakan sebagian dana Rp30 M dengan memulai dari  pembenahan PAUD  dan SD dengan pemberian sarana dan prasarana pendidikan untuk memenuhi standart akreditasi Nasional. Juga  memberi makanan perbaikann gizi, dengan tambahan berupa  sarapan pagi bersama setiap pagi selama bersekolah. Gizinya  kami mnta ahli gizi menentikan, dan wajib makan kelor dan ikan. Kelor gizi 17 x lebih baik dari susu dan makan ikan. Dan setiap 3 hari ada pergantian menu untuk sarapan bersama.” Ungkapnya.

Menurut Julie, Gubernur NTT  meminta kepadanya untuk membuat program tidak boleh 1 unsur saja,  karena untuk mendukung NTT  Bangkit dan Sejahtera  harus ada beberapa unsur. Yang masuk adalah para  ketua TP PKK di setiap daerah. Jadi  program harus bisa  tuntaskan stunting dan gizi buruk  serta perbaikan ekonomi masyarakat.

PKK juga membuat Program bagaimana mempersiapkan kesuburan perempuan sejak dini dengan pemberian asupan gizi lewat pemberian makanan tambahan lokal, terutama kelor yang dipakai istilah dicekokin atau dipaksa makan yang didampingi oleh ahli gizi dari  Dinas Kesehatan kabupaten kota, dengan tujuan agar mempersiapkan perempuan jadi ibu sehat dan berkualitas sejak remaja.

Program TP PKK NTT lainnya ditujukan bagi ibu-ibu  hamil yang secara otomatis diberi makanan tambahan  gizi  sejak masih hamil dan perbaikan gizi disaat menyusui, serta kampanyekan pemberian ASI  ekslusif selama 6 bulan awal.

Bagi anak balita dari usia  6-24 bulan juga dianggarkan biaya perbaikan gizi dengan makanan tambahan pendamping ASI.

“Mendukung program moratorium  TKI, PKK juga mendukung sungguh-sungguh dengan anggaran pelatihan bagi keluarga dan  remaja puteri untuk membuat bermacam kerajinan dari tenun dan kuliner. Jadi PKK siapkan pelatihan keterampilan dan alat kerja bagi kelompok milenial.  Kami juga membentuk Kelompok  Tenun di desa model, yang akan membuat tenun sesuai orderan Dekranasda NTT yang akan dibeli dengan harga pantas.” Ujarnya lebih lanjut.

Untuk ikut dalam program  pemberantasan sampah, TP  PKK juga memiliki program sosialisasi budayakan jangan buang sampah sembarang dan buanglah sampah pada tempatnya, dengan membentuk kelompok pemuda-pemuda dalam kelompok karang taruna di desa dan kelurahan untuk membuat tempat sampah  dengan memanfaatkan  bahan lokal. 2 orang pemuda karang taruna tersebutlah digaji oleh PKK Rp2 juta untuk membagi-bagi tempat sampah dari rumah ke rumah secara gratis dengan disertai ajakan tersebut, sampai mengangkut sampah dari masing-masing rumah dan bawa ke Bank Sampah untuk diolah menjadi barang kerajinan dan dijadikan souvenir untuk dijual di galeri dekranasda masing-masing kabupaten kota menjadi cinderamata pariwisata.

Untuk menggali bakat seni dan olah raga, PKK bekerja sama dengan karang taruna akan membuat panggung lomba disetiap desa dan kelurahan untuk menjadi pusat kegiatan seni dan olah raga kelompok muda, serta pencarian bibit baru bidang seni dan olah raga.

Sanggar budaya juga sudah jadi program PKK yang  akan  mengangkat budaya dan tenun ikat dengan biaya dari  PKK untuk  beli fasilitas pendukung atau alat kerja tenun ikat, yang hasil kerjanya akan dipamerkan dalam panggung besar. Selain itu lewat sanggar itu akan mencari bakat-bakat  baru di bidang seni budaya untuk dibawa keluar baik luar NTT maupun juga negeri.

Untuk lansia ada program pemberdayaan dan kreatiftas  bagi lanjut usia, yaitu pelathan membuat akseroris dari bahan perca tenun iakt dan bahan lokal lain, yang nantinya akan dijual di Galeri Dekranasda Provinsi, maupun kabupaten kota.

Saat ini, ungkap Julie bangga, untuk seluruh Indonesia,  belum ada PKK yang peroleh 2 penghargaan  sekalipun.

Namun TP PKK NTT berhasil peroleh 2 sekaligus yaitu Sertifikat Managemen Mutu ISO 9001 : 2015, dan Sertifkat Angka Tertinggi Inovasi dalam Indeks Governement Awards tingkat provonsi NTt yang diselenggarakan oleh Kemendagri pada 12 September 2020 berhasil peroleh ISO 90012015.

Untuk menghidupkan berbagai program TP PKK NTT, dirinya dan wakil ketua sudah  memilih  sepasang anak laki dan perempuan anak dari kabupaten di NTT yang digaji Rp2 juta per bulan  untuk  kawal kegiatan TP  PKK di Jakarta. Malah sudah mengirim mereka  ke Kediri untuk belajar bahasa Inggris.

Julie menunjukkan juga perubahan-perubahan besar yang tekah dilakukan dirinya sebagai ketua Dekranasda NTT dan tim terhadap Kantor Dekranasda NTT saat ini yang telah berinovasi menjadi sebuah galeri yang dipenuhi berbagai item seni dan budaya lokal kebanggan NTT. “Jika sebelumnya Dekranasda hanyalah tempat pamrean beberapa item barang budaya NTT, mirip  gudang yang didatangai saat dibutuhkan. Namun dengan jiwa saya sebagai pengusaha,  saya melihat sebagai sebuah  potensi bisnis. Potensi kopi dari 11 kabupaten dan kelor terbaik NTT,  direnivasi sebagai toko, dikemas dengan nyaman dan semua tenun NTT ada disini, demikian juga kopi dan kelor. Tenun dan berbagai hasil lokal ada di Dekranasa NTT yang kami beli secara online dari UMKM dari masing-masing daerah dengan lunas. Galeri Dekranasda NTT saat ini kami buat menjadi  one stop shopping. Untuk pemasarannya,  kami akan membawa para pembeli dari UMKM  dari luar NTT bahkan luar negeri untuk membelinya.  Dan rencananya tahun depan untuk kemasan souvenir dari Dekranasda NTT akan memakai konsep Go Green yakni tidak akan ada kemasan dari plastik. Untuk kemasan kami bekerja sama dengan Dinas Perindag NTT dan dinas lainnya serta  UMKM  lintas sektor, yang maka  kami akan membeli semua bahan dari daerah  dan UMKM untuk dikemas dengan bagus menggunakan kemasan go green  untuk di jual keluar.” Tandasnya.

Di Galeri Dekranasda NTT dilengkapi dengan Cafetaria yang dikelola oleh pelaku  UMKM  milenial yang biasa jualan   kopi, dan sekarang mereka jualan  disini dengan kemasan, penyajian, rasa dan kemasan lebih bagus. Kafertaria juga di sediakan  wifi gratis.

Hal menarik lain adalah Julie menempatkan sebuah perpustakaan yang berisi data potensi budaya NTT, dengan tujuan jika dapat  dipatenkan.  Seperti tenun, dan lain kerajinan lainnya. Sedangkan dilantai 2 menjadi stand satu NTT.

Sebagai Bunda  Paud, Julie katakan ia sudah  lahirkan  banyak Paud terakreditasi,  dan akan lahir lagi 24 Paud terakreditas dan komitmennya seluruh PAUD yang berjumlah ratusan  di NTT akan terakreditasi.
“Komitmen kami saya dan bunda Mery, tanpa anggranpun kami akan tetap jalankan semua program kerja PKK dan Dekranasda NTT. Tapi masyarakat juga bekerja,  penenun, UKM kerja juga jangan tunggu.” Pintanya.

Diakhir penjelasannya, Juli dengan tulus  meminta dukungan media untuk secara gencar  mempublikasi semua program PKK dan Dekranasda NTT. ■■ juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *