Mesak Kolo : Tukang Kayu Asal Bone Ana, Mampu Bangun Rumah Tembok Setelah Tanam “Tomat Musim Hujan”

Bone Ana, Topnewscom.com., Pendampingan bagi petani NTT oleh PT. East West Seed Indonesia (Panah Merah), Toko Roda Tani (Distributor PT. East West Seed Indonesia)  dan PT. Nufarm Indonesia. Lewat pengenalan teknologi pertanian dan pendampingan mereka sudah mampu merubah kehidupan ekonomi Mesak Kolo, seorang tukang kayu kecil menjadi petani “Tomat Musim Hujan.” Dari hasil menanam tomat dan cabe, bapak tiga orang anak ini mampu menghasilkan Rp.15.000.000  juta  rupiah di awal panen pada 2007 silam. Dan 2008 lalu hasil panen bahkan sempat mencapai angka Rp.100.250.000. Begitu juga setiap tahunnya hingga 2017 kemarin. Hingga kini, Mesak  sudah mampu hasilkan ratusan juta rupiah dari hasil bertanam tomat dan cabe. Bahkan sudah mampu membeli beberapa bidang tanah. Mesak juga  berhasil membentuk kelompok tani yang beranggotakan 20 orang  petani seputaran Bone Ana, Oematnunu, Kupang Barat. Namun yang serius dan berhasil mendalami profesi hanya 5 orang petani. Dan Mesak kisahkan jika kelima petani binaannya saat ini masih setia menanam tomat dan sudah mampu beranjak menuju kehidupan ekonomi yang lebih sejahtera.

Pada 2007,  diawal perkenalan dengan Widodo ( staff lapangan dari Panah Merah,), Mesak kisahkan dirinya dan  Widodo hanya mencoba menanam 1000 pohon di 25 are tanah kebun miliknya. Namun pada panen perdana di tahun 2007 itu hanya dengan 800 anakan tomat yang hidup mampu hasilkan Rp.15.000.000 rupiah bagi dirinya yang menjadi titik awal perubahan cara pandang dan komitmennya terhadap bidang pertanian holtikultura. Pikirannya berubah tentang pertanian. Ia memperoleh motivasi lewat Widodo bahwa dari hasil bertani tanaman holtikultura ternyata mampu memberikan kemajuan bagi kehidupan ekonomi petani, asal ada niat serius menekuni bidang ini.

Mesak Kolo,  pria tamatan SD berusia 47 tahun ini akhirnya berhenti dari pekerjaan sebagai buruh tukang kayu yang hanya bisa hasilkan Rp.90.000 ribu rupiah  per minggu. Dan jumlah upah harian itu sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan  rumah tangganya yang berjumlah 5 orang.

“Sejak panen perdana tomat hujan pada 2017, dan mampu hasilkan Rp.15 juta rupiah, saya berubah pola pikir terhadap pertanian dan profesi petani. Dulu karena menjadi petani konvensional, hasilnya hanya cukup untuk makan, bahkan berpikir membangun rumah saja tidak mampu, maka saat ini memegang ratusan juta bukan hal mewah. Bahkan saya sudah mampu  membeli beberapa bidang tanah dari hasil pertanian saya dan membuka kios kecil untuk berjualan semua kebutuhan pertanian dan klinik konsultasi pertanian. Semua berkat pendampingan dari Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm. Pak Herry dan kawan-kawan adalah dewa penolong bagi saya dan keluarga bahkan bagi petani lain yang masuk kelompok tani.” Ungkap Mesak terharu.

Dengan bangga dan  penuh rasa terima kasih Mesak juga apresiasi pelayanan pendampingan yang diterimanya dari Roda Tani dan kawan-kawan terhadap kelompok tani mereka. Konsultasi cara merawat tanaman, mengenali jenis-penyakit tanaman dan bakteri serta penyakit yang menyerang tanaman dan cara penangananannya. Bahkan bagaimana memasarkan hasil pertanian juga di bantu. Mesak bahkan berkomitmen mengajak dan memperkenalkan cara bertani yang didapatnya agar makin banyak petani yang mengerti dan bisa berhasil. Komitmen Mesak lainnya adalah memperkenalkan teknologi ini kepada petani lain agar bisa menjadi petani yang berhasil seperti dirimya dan 5 petani lainnya.

Saat media ini berkunjung ke rumah yang juga merupakan lahan pertaniannya seluas 25 are itu pada Sabtu, 10/11 didampingi ppl kecamatan Kupang Barat Bapak Yohanes, Mesak menunjukkan rumah  tembok berterasnya sebagai hasil dari bertani holtikultura. “Ini rumah hasil tanam “tomat musim hujan.” Aku Mesakh tersenyum haru.

Mesak berkomitmen membantu Roda Tani dan kawan-kawan mendampingi dan menolong petani lain untuk menjadi petani sukses bahkan lebih dari pada dirinya. Mesak memiliki rasa terima kasih luar biasa terhadap Herry Hariyanto, dan semua tenaga pendamping dari Roda Tani, Nufarm dan Panah Merah. Bahwa mereka tidak sekedar menjual produk pertaniannya kepada petani tapi bertanggung jawab juga terhadap kelangsungan hidup petani dan hasil pertanian. Dengan memberikan informasi detail terkait cara memberi pupuk, menggunakan pestisida, mengenal penyakit tanaman dan penanganannya yang tepat sehingga memberi hasil panen yang berkualitas dan besar hasilnya. Dan imbasnya tentu kepada peningkatan kehidupan ekonomi petani. “Saya dan kawan-kawan petani adalah contoh kasus yang berhasil didampingi oleh tim Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm serta rekan lainnya.” Ungkap Mesak terharu penuh rasa terima kasih.

Ket foto : Foto Rumah Tembok Hasil tanam Tomat Musim Hujan dan foto Mesak Kolo dan isteri berlatar belakang tanaman tomat mereka yang mampu ubah hidup ekonomi mereka.–red.

Kepada pemerintah kabupaten Kupang dan provinsi NTT, Mesak menitipkan pesan agar bisa memperhatikan nasib petani yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Lewat dana pemberdayaan petani, bantuan bibit, pestisida dan pupuk. Serta tenaga ppl pertanian yang lebih banyak. Karena selama ini untuk beberapa desa hanya tersedia satu tenaga ppl. Dan ini membuat perhatian ppl kepada kelompok tani sangat minim. Ketersediaan pupuk, pestisida dan bibit unggul bersubsidi juga sangat terbatas sehingga petani kesulitan memperoleh stok. Sehingga Mesak berharap pemerintah bisa mencontohi apa yang sudah dilakukan oleh Roda Tani, Nufarm dan Panah Merah. Kehadiran mereka dianggap seperti dewa penolong di tengah kelesuan ekonomi para petani. Dan jejak baik dari mereka harusnya dicontoh oleh pemerintah. Lewat Dinas Pertanian misalnya jika ada dana pemberdayaan maka informasi harus lebih mudah diakses oleh petani, juga persyaratan memperolehnya harus lebih mudah.

“Kehadiran Roda Tani, Panah Merah dan Nufarm seperti dewa penolong dan oase di padang gurun bagi kami petani. Karena selama ini kami merasa tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah. Informasi tentang adanya bantuan dan informasi tentang pola pertanian yang bagus harus lebih cepat ke kami. Begitu juga persyaratan memperolehnya dana pemberdayaan atau bantuan lain harusnya  lebih dipermudah. Agar semua petani bisa menperolehnya, karena kami juga berha untuk itu. Tapi pendampingan menggunakan teknologi dan bantuan lebih penting lagi dilakukan agar semuanya memberi hasil yang banyak dan baik serta mampu merubah kehidupan ekonomi petani dan keluarga. Sehingga anak-anak kami memiliki masa depan yang baik juga.” Ujar Mesak menyerukan suara hatinya mewakili suara petani lain.

Saat ini Mesak sedang mempersiapkan ladangnya dan berencana menambah jumlah tanaman holtikultura dari yang sudah ditanamnya Tomat dan Cabe, dengan menanam brokoli yang sementara disemaikan. Perlu diketahui saat ini Mesak dan kawan-kawan baru mencoba menanam ketiga jenis holtikuktura ini di musim penghujan mengingat mereka disitu sangat kesulitan air. Sumber air minum bagi mereka hanyalah sumur galian yang debitnya sangat terbatas. Memang sudah diusulkan sumur bor namun mata air sangat lemah.

Kedepan Mesak berharap pemerintah bisa mencontoh atau bahkan bermitra dengan stakeholder untuk memberi solusi air bersih bagi mereka. Dan bisa bermitra dengan Roda Tani dkk. **) juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *