Mengenal Sosok Prof.Daniel Kameo,Ph.D, Staf Khusus Gubernur NTT: “Pikiran, Konsep, dan Komitmen Bangun NTT, Antara Cita-Cita dan Panggilan”

Salah satu sosok staf khusus yang menarik perhatian adalah Prof Daniel Kameo,Ph.D, staf khusus  Bidang Pembangunan dan Ekonomi. Siapa sosok Daniel Kameo,  apa  konsep berpikirnya tentang NTT,   bagaimana konsepnya  membangun NTT  menuju “Bangkit dan Sejahtera.”?

Top News NTT merangkumnya  dalam profil berikut, dari hasil bincang santai diruang kerja Staf Khusus di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT jalan El Tari, Oebobo, Kupang, NTT. (Jumat, 16/10/2020).

“Provinsi NTT kini mulai bangkit, seperti raksasa yang sedang tidur dan ditidurkan selama ini. NTT sedang bangkit dan berlari di tangan Putera Brilian Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yosep Adrianus Nae Soi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.” Itu sekelumit buah pikiran Prof.Daniel Kameo,Ph.D dalam salah satu opini beliau yang ditulis media ini beberapa minggu lalu tentang kondisi dan prospek NTT di tangan pasangan Kepala Daerah fenomenal Vicktory-Joss.

Saat jadi pembicara di Forum Internasional forum Workshop on Contemporary Eastern Indonesia di ANU Canbera Australia PBB di Australia Tentang Sapi NTT

Di mata Putera Amfoang (Lelogama, tepatnya), provinsi NTT adalah sebuah negeri menawan, kaya, dan memiliki potensi yang  extraordinary baik SDA dan SDMnya, yang dalam pandangan Dosen Ilmu Ekonomi Pembangunan  ini akan berkilau sebagai mutiara dari Indonesia Timur, jika dikelola oleh pemimpin yang capable dan berkualitas.” Cetusnya  memulai Bincang Santai kami di penghujung minggu penuh kesibukannya.

Ayah berputera tunggal ini tidak pernah membayangkan apalagi menempatkan cita-citanya  pada posisi saat ini ; dosen dan guru besar pada Univ.Satya Wacana, Salatiga bergelar Prof.Doktor  Ilmu Ekonomi dan Pembangunan dan Staf Khusus Gubernur NTT.

Belum lagi beberapa jabatan penting yang pernah dan masih di embannya hingga saat ini : Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi , Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem, Anggota dan Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi Jawa Tengah. Daniel juga sering mendapat kesempatan menjadi  pembicara di Forum Internasional dan juga pernah menjadi dosen tamu di Universitas di Amerika Serikat dan Timor Leste.

Sejak kecil, Daniel  sangat menikmati kondisinya sebagai anak seorang PNS Kantor Kecamatan Amfoang Selatan, tapi lebih mencintai  dan suka disebut sebagai anak petani di kampung bapaknya di Lelogama, Amfoang Selatan.

Remaja Daniel berusia 15 tahun  tidak pernah berpikir apalagi bercita-cita berkarir di luar NTT, ia amat mencintai kampungnya yang penuh susu dan madu.

Bahkan  saat dianjurkan bapaknya Thobias Kameo untuk lanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen Kupang, Daniel menjawab tidak perlu jauh-jauh ke Kupang (ibukota Provinsi NTT) jika hanya ingin lanjutkan SMA, karena di Amfoang juga ada sekolah.

Prof.Daniel Kameo,PH.d

Dalam pikiran pria kalem, tenang, sederhana berusia 54 tahun ini, alam desanya Lelogama sudah memberi semua yang dibutuhkannya. Jagung, padi, ubi, pisang, sayur, sapi, babi, ayam, ikan dan bahkan uang. Karena ia sejak usia 6 tahun sudah terbiasa membantu orang tua dalam pekerjaan keluarganya, bercocok tanam, beternak, piara ikan. Dan ia bisa bermain di alam kampungnya yang masih memiliki semua sda yang asri. Asal makan minum sekolah dan keperluan lain cukup, tidak perlu lagi ke kota.
“Saya itu bercita-cita jadi petani dan camat. Jadi petani itu hebat, hidup tidak akan kekurangan,  lalu jabatan tertinggi dan gagah, ya jadi camat itu. Biar dapat gaji dan hidup enak.” Ujarnya tertawa lucu mengingat cita-citanya dulu.

Walaupun ia lahir di Kupang (7/12/ 1954), tapi sejak usia 1 tahun Daniel yang beristeri perempuan peranakan Swedia-Amerika (Rosella Berg) ini sudah diboyong  bapak dan ibunya ke Lelogama karena ayahnya harus mengemban tugas sebagai pegawai kantor kecamatan Amfoang di Lelogama.
“Saya lahir di Kupang tapi sejak umur satu tahun dibawa ke Amfoang karena bapak bekerja di kantor Kecamatan. Waktu itu bapak PNS dan staf administrasi di kantor Bupati Kupang. Bapak saya itu hanya berpendidikan Sekolah Rakyat kelas 5 atau 6 waktu itu. Tapi karena bapak PNS asal Amfoang dan saat itu ada perubahan Swapraja Amfoang, maka Amfoang menjadi kecamatan  dan bapak dipromosi menjadi kepala kantor kecamatan. Bapak saya asal Amfoang marga Kameo dan mama asal Rote marga Lona. Masa kecil saya habiskan di Lelogama. Begitu juga  pendidikan dasar dan SMP di Lelogama. Hanya  SMA di Kupang.” Jelasnya tersenyum.

Daniel bangga mengakui dirinya sebagai anak petani karena sudah diajarkankan bapak sejak kecil. Pekerjaan Bapak saya sebagai PNS yang bekerja sebagai pegawai dari jam 07.00-18.00, selebihnya di beliau kerja kebun.

Potensi sapi di NTT yang jadi aset NTT yang selalu di banggakan, dan menjadi penunjangnya kuliah di Satya Aacana Salatiga

Karena dorongan kuat bapaknya agar ia lanjut pendidikan di tingkat SMA maka tahun 1969 dia melanjutkan pendidikannya di SMA Kristen Kupang dan selama tiga tahun Daniel tinggal di rumah opa dan Omanya (Lona) di kelurahan Fontein dan mengenyam pendidikan di SMA Kristen di Kelurahan Merdeka hingga tamat tahun 1972.

Rencana pulang ke Lelogama juga berubah setelah lulus SMA, bahkan Daniel muda berniat kuliah ambil Sarjana Muda waktu itu (BSc) ke Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

“Niat pulang ke Lelogama jadi petani berubah setelah mendengar ceritra dari beberapa guru SMA Kristen Kupang yang merupakan lulusan Univ. Kristen Satya Wacana Salatiga. Saya bilang ke Bapak, saya mau kuliah di sana. Dan oleh bapa disambut baik dan minta saya tanya informasi lengkap terutama biaya. Dan waktu itu saya dapat info dari kakak teman saya, Rany Mesak yang sudah duluan kuliah dan sedang pulang liburan Kupang (mereka tetangga di Fontein) bahwa biaya waktu itu sekitar Rp300-400 ribu setara dengan Rp3-4 juta saat ini. Dan bapak bilang pergi, ada sapi, tapi hanya bisa sampai Sarjana Muda (BSc.) dan saya saja yang bisa kuliah, lulus harus pulang karena saya harus dukung pendidikan adik-adik lagi.” Ujarnya berkisah.

Tapi setelah lulus Sarjana muda -BsC, rencana berubah lagi, saat ada tawaran jadi asisten dosen oleh Drs. Miedema dosen mata kuliah Statistik orang Belanda yang belum bisa bahasa Indonesia.

Tawaran itu sendiri, unik prosesnya menurut Daniel. Karena melalui sebuah peristiwa di kelas Drs. Miedema yang justeru menjadi titik awal dirinya melewati banyak jembatan kecil yang membawanya ke posisi sekarang.

“Jadi ada satu peristiwa kecil yang akhirnya menjadi  tonggak  berubahnya semua rencana hidup saya yang awalnya hanya ingin lulus sebagai Sarjana Muda, pulang kampung dan menikah atau menjadi PNS dan menjadi camat. Rencana hidup saya berubah dimulai dari kejadian ini, suatu hari dikelas  ada seorang dosen Statistik berkebangsaan Belanda yang tidak bisa bahasa Indonesia. Setelah habis ngajar  mata kuliahnya  yang disampaikan dalam bahasa Inggris, dosen ini bertanya dalam bahasa Inggris kepada kami apakah kami semua mengerti (do you understand what I have just expaliened  to you?), tapi tidak ada dari kami yang berani menjawab. Saya lihat dosen itu  sudah mulai jengkel.  Karena waktu itu saya  ketua kelas saya berusaha menyelamatkan situasi, saya angkat tangan bilang sudah mengerti dalam Bahasa Inggris (Yes, I do). Dan oleh dosen itu  saya disuruh menjelaskan ke kawan-kawan apa yang saya mengerti ke teman-teman dalam bahasa Indonesia. Kita semua sebenarnya dapat berbahasa Inggris karena kami belajar Bahasa Inggrisn12 sks, tapi yang mau praktekkan dalam percakapan hanya segelintir. Dan  diantara teman-teman bahasa Inggris saya lebih bagus karena berani ngomong. Dan kebiasaan saya adalah sebelum kuliah materi yang akan diajarkan saya pelajari dulu, dan saya sudah kuasai dan siapkan pertanyaan. Tapi khusus materi hari itu saya tidak punya pertanyaan karena sudah ngerti. Dan dalam peristiwa ini saya menjelaskan ke teman-teman materi pelajaran statistik hari itu. Dan rupanya hari menjadi titik awal saya sadari kemampuan mengajar saya, dan membuka langkah saya menuju jembatan karir sebagaai dosen yang masih saya nikmati saat ini. Karena,  diakhir jam kuliah dosen itu  ajak saya minum kopi bersama dia (daniel, come and have a coffee with me). Dan kami banyak bercakap tentang diri saya, bagaimana bisa bahasa Inggris, dan lain-lain. Usai peristiwa minum kopi dia berjanji akan usulkan saya ke Dekan Fakultas ekonomi untuk menjadi asistennya.” Kenangnya bangga.

Dan karena sudah jadi asisten dosen, saya  bersurat ke bapak bahwa saya tidak bisa pulang karena ada kesempatan jadi asisten dosen. “Bapak bilang bagus itu, jangan pulang disini petani banyak. Padahal awalnya saya berencana setelah lulus sarjana muda saya  bercita-cita jadi camat di Amfoang. Mungkin karena sejak kecil yang kami tau bahwa jabatan tertinggi saat itu adalah camat.” Ujarnya tertawa.

“Setelah  jadi asisten dosen Drs.Miedema, saya mulai sadar bahwa ternyata saya bisa ngajar. Kemudian saya  ditawarkan beasiswa dari kampus untuk lanjut kuliah  ke jenjang doctoral  (Drs). Saya  kembali bilang pada bapak bahwa saya tidak bisa pulang karena dapat beasiswa untuk  teruskan kuliah ambil gelar Drs. Bapak bilang wah bagus itu, jangan pulang ambil saja selama ada yang biayai, di sini petani banyak. Selama 2,5 tahun kuliah S1 saya tetap menjadi asisten Mr.Miedema. Lulus dan dapat gelar S1 (Drs.) saya lamar jadi dosen. Selama jadi asisten tugas saya mentranslate semua materi ke Bahasa Indonesia dan menjelaskan kepada mahasiswa. Saya kabarkan bapak saya tidak bisa pulang karena mau jadi dosen, bapak bilang lanjutkan, disini banyak petani (masih tekankan hal tersebut untuk memberi semangat ke saya).” Ujarnya.

Sebelum jadi dosen  saya bertemu  Rosella Berg (dosen bahasa Inggris peranakan Swedia-Anerika di Univ.Satya Wacana) tahun 1975, pacaran lalu  menikah pada  tahun 1979 dan memiliki satu putera (tunggal).
“Kami menikah sebelum saya diwisuda 1979. Sambil menunggu ujian akhir untuk wisuda. Karena saat itu Univ.Satya Wacana masih dibawah binaan  Undip.Semarang dan UGM Jogya dan hampir semua dosen penguji dari 2 universitas itu dan untuk ujian  harus tunggu dosen penguji dari dua universitas itu, karenanya sambil menunggu jadwal ujian,  kami akhirnya menikah tahun 1979.” Kisahnya.

Semua rencana hidupnya benar-benar  berubah total,  sudah jadi dosen,  menikah, lulus S1,  cita-cita awal pulang ke kampung dan jadi petani ataupun camat berubah.
“Dan akhirnya  saya sadar bahwa mungkin sudah jadi jalan hidup saya  jadi dosen (1980) dan bahkan jadi  guru besar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tahun 2002  sampai sekarang.” Ungkapnya.

Jejak menuntut ilmu lantas tidak berhenti setelah meraih S1 (Drs.), menikah dan jadi dosen. Ternyata syarat pendidikan untuk berkarier sebagai dosen yaitu S2, maka pada tahun 1985-1986  Daniel mengikuti program  master (S2)  dalam  bidang  Perencanaan Pembangunan Regional di Institute Of Social Studies  di Den Hagh, Belanda selama 2 tahun.

Tidak berhenti sampai disitu, syarat  untuk bisa mengajar mahasiswa  S2 dan S3, harus juga punya gelar doktor (S3),  maka Daniel  lanjut kuliah ambil gelar doktor (S3) di University of New England, Australia dalam bidang Resource Economics atau Ekonomi Sumber Daya pada 1994.

Pulang dari Australia kembali ke Satya Wacana, menjadi dosen,  untuk melanjutkan karir di bidang pendidikan tinggi  harus punya pengalaman internasional. Harus menulis artikel, jurnal internasional atau menjadi dosen tamu di luar negeri, Pengalaman internasional menjadi pembicara, menulis jurnal dan atikel bidang pendidikan dan dosen tamu di universitas luar negeri, adalah license untuk menjadi guru besar.
“Saya berkesempatan menjadi dosen tamu di Eastern University di Pensilvania, AS. Sedangkan di Indonesia selain di Salatiga, saya juga pernah diminta untuk menhgajar di Fakultas Ekonomi Undip, ngajar 1 mata kuliah dan  juga membimbing mahasiswa doktor , juga pernah membimbing dari menguji mahasiswa doctor di  UGM dan beberapa universitas lainnya di Jakarta.” Ujarnya.

Dengan profesi sebagai dosen, Daniel juga mendapat kesempatan untuk membangun jaringan dengan rekan-rekan seprofesi dari berbagai universitas baik di dalam maupun di luar negeri.
“Sejak tahun 1999 sampai sekarang, saya adalah anggota  Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT). Badan inilah yang menentukan peringkat akreditasi Universitas di seluruh Indonesia. Dan karena pekerjaan saya  sebagai auditor ekternal, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi berbagai univeraitas dari Papua sampai Aceh. Melalui kegiatan sebagai asesor BAN-PT saya mendapat banyak teman dan bisa bangun jaringan sesama teman sesama dosen dan profesor.” Jelasnya.

Daniel Kameo dan beberapa teman sesama dosen asal NTT  adalah orang pertama yang berjasa  membuka Program Magister Studi Pembangunan (S2) di NTT  bekerja sama dengan Universitas Kristen Artha Wacana, Pemda, TTS dan Pemerintah Daerah Kabupaten-kabupaten di daratan Sumba. Program ini berjalan lebih dari 10 tahun.
“Lulusan pertama program ini antara lain Pak Esthon Foenay, Jidon De Haan, Beny Litelnoni, Jonas Salean, dan Viktor Laiskodat. Beberapa pejabat Kepala Dinas di provinsi NTT ikut program S2 Studi Pembangunan dan mereka pernah menjadi mahasiswa saya.” Ungkapnya bangga.

“Di kampus saya, Universitas Kristen Satya Wacana,” ujar Daniel,
“Jika kita bekerja dengan tulus dan serius bekerja di bidang kita, maka kesempatan mengembangkan karir dan meningkatkan pendidikan terbuka luas.  Beberapa kali saya peroleh kesempatan jadi pembicara mewakili universitas atau akademisi dari Indonesia di  forum-forum internasional. Saya pernah mendapat kesempatan berbicara dalam forum Workshop on Contemporary Eastern Indonesia di ANU Canbera Australia. Pernah juga  mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam acara Round Table Discussion, Ecoconomic and Social Commision United Nations di Bangkok. Pernah juga mendapat kesempatan menjadi pembicara di Forum Internasional di Vietnam yang di prakarsai oleh Lembaga-lembaga donor internasional tentang Pembangunan Ekonomi di Indonesia. Kita tidak cari-cari tapi kalau kita serius kerja maka orang yang akan lihat dan kesempatan datang dengan sendiri. Misalnya lewat penelitian dan tulisan saya tentang sapi NTT (karena  materi penelitian skripsi saya tentang sapi), mereka lihat kira-kira siapa yang potensial untuk bicara dalam seminar internasional tentang sapi NTT dan mereka undang saya karena ke Asutralia karena tulisan saya itu. Saya selalu bilang ilmu ekonomi saya pelajari di Univ, tapi saya sudah duluan praktek di kampung saya, Lelogama jadi jangan ajar saya soal sapi.” Kilahnya tertawa.

Kuda, kekayaan NTT

Karena strata pendidikan dan berbagai pengalaman internasional, pernah menulisbjurnal dan artikel, di Salatiga, Daniel  diminta juga menjadi anggota Dewan Riset Daerah, sebuah lembaga non struktural dibentuk oleh  pemerintah provinsi Jawa Tengah untuk memberi pertimbangan kepada pemerintah terkait berbagai permasalahan pembangunan daerah. Saya bergiat di DRD Provinsi Jawa Tengah ini selama 15 tahun dan sempat menjadi ketuanya selama dua periode. Selama 15 tahun saya  bekerja sama dengan tiga gubenur Pak Mardiyanto, Pak Bibit Waluyo dan terakhir Bersama Pak Gubernur Ganjar Pranowo.” Ungkapnya tanpa bermaksud meninggikan diri.

“Hidup itu prinsipnya jangan dirancang tapi ikuti saja jalan yang telah digariskan Tuhan. Setiap peristiwa atau kesempatan adalah jembatan ke kesempatan lain. Kita hanya bisa mengetahuinya setelah dilewati dan kemudian melihat kebelakang baru saya sadar bahwa saya bisa sampai ke posisi ini karena saya sudah lewati dari jembatan yang lain sebelumnya.” Ajaknya tanpa bermaksud menggurui, tapi berdasarkan pengalamannya.

Hal penting lain yang selalu jadi prinsip hidupnya adalah :

 “Jangan pernah merasa buntu, tapi selalu berpikir ada jalan lain. Saya juga punya prinsip melalukan sesuatu yang saya mampu dan mau berubah.”

Pertemuan dengan  Viktor Laiskodat diawali  pada 2011,  saat partai Nasdem mencari kader baru.
“Saat itu saya direkomendasi sebagai seorang profesor asal Timor dan diperkenalkan dengan ketua Umum Paryai Nasdem dan sosok fenomenal Viktor Bungtilu Laiskodat yang saat itu dikenalnya sebatas sama-sama orang NTT, pengusaha pariwisata, politisi partai Nasdam dan Anggota DPR RI dapil NTT. Hanya gambaran itu yang saya miliki tentang Bung Vik, saya sapa dia begitu. Dan itu awalnya saya berkenalan dengan Pak Viktor dan Surya Paloh dan masuk dalam partai politik.” Kisahnya kalem.

Diakui Daniel dengan jujur sebelumnya dirinya  adalah orang yang tidak mau berkecimpung dalam politik,
“Saya tidak suka politik. Sudah beberapa parpol meminta saya untuk bergabung tapi saya menolak, karena saya lebih memilih dunia pendidikan tinggi dan kampus.” Ujarnya singkat sambil tersenyum.

“Tapi herannya waktu ditawari ke partai Nasdem, saya tidak menolak dan tidak lagi banyak pertimbangan seperti biasanya. Saya juga heran kenapa tawaran  yang ini  saya tidak menolak. Mungkin karena jujur saya setuju dengan visi dan misi parpol ini serta ketokohan ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh dan bung Vik yang saat itu sebagai anggota DPR RI. Walau belum  mengenal pak Viktor secara pribadi saat itu, tapi perkenalan dan pembicaraan singkat bersama Surya Paloh dan bung Vik buat  saya melihat visi misi mereka bagus.” Ujarnya jujur.

“Yang buat saya bersimpati kepada pak Surya Paloh hanya karena kalimat sederhana ini :
“Prof. Kameo, hidup saya ini sangat diberkati luar biasa oleh Tuhan, Tuhan sudah beri lebih dari yang saya minta. Sebelum saya mati saya mau beri Kembali kepada rakyat Indonesia. Namun, bagaimana caranya? Kemana, kepada siapa dan dalam konsep seperti apa. Apa ke lembaga sosial atau negara. Saya kuatir tidak akan sampai ke sasaran, dan oleh karena itu saya dirikan partai Nasdem sebagai alat untuk menyalurkan karya, bakti dan aspirasi kami.  Profesor sendiri bisa  bisa menyumbang apa? Saat itu  saya bilang saya tidak punya uang, tapi saya ada otak saja dan bisa berkontribusi melalui pemikiran-pemikiran. Hanya dalam lima menit kita klik dan sepakat untuk Bersama-sama berjuang dalam membangun Indonesia. Saya kemudian menjadi kader partai Nasdem dan menjadi salah satu Anggota Dewan Pakar DPP Partai Nasdem. Karena sudah klik dengan kedua orang ini Bung Viktor sama Surya Paloh saya sudah nyemplung aja ke dalam partai Nasdem.” Kisahnya tertawa.

Daniel kini baru sadar inilah satu jembatan lain yang Tuhan ijinkan dilewatinya menuju posisi staf khusus gubernur NTT,  saat dirinya  dianjurkan oleh PArtay Nasdem untuk ikut Pileg DPR RI tahun 2014 dari dapil 2 NTT.
“Karena dapil itu saya harus belajar tentang NTT,  karena harus keliling  Kota Kupang, seluruh daratan Timor, Pulau Sumba, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Alor. Dan bagi saya itu adalah jembatan proses pembelajaran yang berharga yang sangat membantu dalam tugas saya sebagai Staf kusus Gubernur NTT. Hasil dari keliling dan mengenal NTT jadi modal sekarang membantu gubernur menerjemahkan banyak konsep gubernur kepada kepala daerah dan pimpinan OPD untuk mewujudkan NTT Bangkit dan Sejahtera, saat tahun 2017, partai Nasdem memutuskan  dukung Viktor Laiskodat menuju Bursa Balon Gubernur NTT 2019-2024.” Jelas Daniel.

Dukungan kepada VBL jujur diakui karena kharisma dan potensi komunikasi politik VBL yang luar biasa. “Saya mampu melihatnya sampai kedalam, karena dari pengalaman saya sebagai dosen, dapat melihatnya dari cara ngomong dan bahasa tubuh. Saya dosen, bukan hanya   belajar ilmu ekonomi, tapi juga ilmu psikologi. Saya belajar ilmu pembangunan, sosiologi, hukum dan politik walau basic saya ekonomi. Sebagai dosen, saya bisa tahu kemampuan intelektual dan karakter seorang hanya dari bahasa tubuh dan cara ia berbicara. Sehingga waktu memiliki kesempatan bercakap dengan bung Vik, saya langsung tahu siapa orang ini seutuhnya. Klik aja langsung.” ungkapnya tersenyum.

Semangat VBL meningkatkan kapasitas diri dalam bidang pendidikan juga patut diacungi jempol, puji Daniel.

“Beliau juga mahasiswa S2 saya. Ada kejadian dimana kami berkunjung ke Rote untuk urusan partai Nasdem dengan peswat pribadi Bung Viktor. Jam 4 sore saat mau pulang dari bandara Rote Ndao terjadi hujan badai dan pilot sampai 3 kali gagal mendarat di El Tari sehingga tidak bisa mendarat dan pilot nyatakan harus cari pendaratan lain. Syukurnya bisa mendarat di Maumere, dan dalam kapasitas sebagai anggota DPR RI, dijemput sama bupati Sikka. Dan saat bincang-bincang di resto hotel minum kopi bersama Kris Mboeik (Pemred Harian VN) dan VBL, saya bilang ke Chris agar sebagai pemred beliau sebaiknya mengambil pendidikan S2 dan saya yang akan menjadi pembimbingnya.  Sebelum Chris menjawab ajakan saya, pak VBL yang nyaut duluan :  saya ikut Prof. Saya bilang, serius bung Vik, dia bilang ia serius. Dan jadilah mereka berdua akhirnya menempuh pendidikan S2 Studi Pembangunan di Universitas Kristen Satya Wacana. Saatnya mau buat tesis, bung Vik pilih topik penelitian tentang Pariwisata di NTT. Judul tesisnya: “Pariwisata NTT, Potensi dan Dinamika”, yang malah sekarang jadi program utama gubernur yang menjadikan sektor pariwisata sebagai prime mover perekonomian masyarakat NTT.  Untuk penelitian tesisnya, kami melibatkan peneliti dan mahasiswa dari empat universitas: Undana, Unkris Artha Wacana, Uniflor dan Univ.Wira Wacana Sumba Timur.” Pungkas Daniel.

Yang klik dari VBL dengan dirinya, aku Daniel,
“Kalimat yang kerap diucapkan VBL sama dengan yang sering dikatakan ayah bahwa NTT itu daerah kaya, tapi miskin karena masyarakatnya malas dan  bodoh.  Itu kata-kata bapak dulu.” Ungkapnya tersenyum.

Kalau rajin, ujar Daniel, kita akan berkecukupan.
“Buktinya sejak dulu di kampung  di rumah semua ada, lebih dari yang kami bisa makan, walau tidak bisa buat kami kaya sehingga saya paling jengkel lihat orang lain mengeluh miskin  dan kekurangan karena malas.” Ungkapnya bersemangat.

Konsep saya sejak awal saat sudah ada dalam link mendukubg VBL jadi gubernur NTT yaitu memandang bahwa NTT banyak masalah, tapi kaya. Jadi untuk membangun NTT kita harus mulai dengan melihat kekayaan dan potensinya,  jangan mulai dengan masalah. Karena jika mulai dengan masalah maka akan lemahkan kita bangun NTT, mulailah dengan melihat potensi, kekayaan agar kita semangat.” Ungkapnya.

“Saya bisa punya konsep itu karena pengaruh kata-kata bapak saya  Thobias Kameo. Saya bilang ke VBL kata-kata  bapa saya benar,  bahwa NTT kaya, tapi ada kemalasan masyarakat atau karena pemimpin kita tidak mampu atau tidak punya kapasitas Karena kalau NTT maju ada yang terganggu. Saya percaya hal itu setelah keliling NTT untuk pileg 2014. Disitu  saya sadar dan akui kalau NTT kaya. Maka kita harus cari manager baru untuk membangun NTT, mari kita buka mata orang NTT kalau NTT kaya harus di kelola.  Saya bilang ke Pak VBLdan Pak Josepf Nae Soi:  Bung berdua sebenarnya di dipilih dan dikirim ke NTT. Proses pemilihan politik hanyalah sebuah formalitas saja. Tuhan yang utus, ini bukan hanya karena pilihan politik.”

“Khusus untuk NTT selama sisa hidup ini, saya  ingin lihat NTT berubah. Orang NTT,  secara sosial, politik dan ekonomi harus sejajar dengan bangsa lain bukan karena itu menjadi tujuan tetapi merupakan pemanfaatan dari berkat yang diberikan Tuhan. Jadi kalau kamu dikasi talenta jangan dikubur didalam tanah, pakailah. Saya tidak mau lihat orang NTT tidak punya rumah, jangan ada anak-anak NTT  yang tidak bisa sekolah karena tidak ada uang, saya tidak mau lihat ada yang kelaparan di musim kemarau panjang, itu tanda-tandanya NTT Bangkit dan Sejahtera. Saya  mau lihat jika ada orang sakit, ada rumah sakit yang memadai untuk berobat, jika didesa dan pelosok manapun di NTT ada anak yang pintar, saya mau dia bisa masuk universitas manapun. Itu yang saya ingin lihat. Kita mampu soalnya. Jangan ada anak yang kurang gizi karena kita punya sapi, babi, ayam, telur, kambing sebagai sumber protein, dan tanaman yang bisa penuhi semua kebutuhan gizi semua anak NTT. Seharusnya kita lihat anak NTT yang cantik, ganteng dan sehat karena secara fisik terpenuhi semuannya, karena kita punya semuanya, kita kaya. Tidak boleh ada rumah kumuh, tidak boleh ada orang terlantar. Itu harapan saya,  saya yakin  bisa terwujud, karena itu bukan cita-cita tapi harapan. Saya sudah buktikan semuanya. NTT bisa bangkit karena punya SDA dan SDM yang hebat dan luar biasa. Ketum PAPRI Jend.Hendro Priyono sudah bilang NTT Gudang Seniman. Salah satu saja kekayaan intelektual NTT adalah Tenun Ikat NTT  artinya orang NTT tidak bodoh, tidak miskin. Kita punya potensi luar biasa. Harusnya kita sadar kita sedang ditutupi mata jasmani dan bathin untuk tidak sadar kekayaan dan potensi diri dan alam NTT. Pemerintah tinggal menolong membuka dan memberi jalan.” Ujar Daniel diakhir wawancara kami.

Tugas sebagai  Staf Khusus gubernur,  adalah bagaimana menerjemahkan pikiran gubernue  yang masih konseptual dan  diturunkan ke konsep riil, saya harus  bantu pimpunan OPD dan kepala daerah bagaimana menjabarkannya  dalam bentuk riil.
“Misalnya saja Prime Mover : apa itu Prime Mover, apa kaitan antara satu bidang dan bidang lain dalam program dan komitmen gubernur, bagaimana menjabarkannya dalam sebuah konsep. Kapasitas saya masih pada level mendesimenasi pengetahuan dan informasi dan menurunkannya dari konsep-konsep yang agak tinggi ke praktis dan  sederhana sesuai kondisi daerah dan melihat sesuatu dalam konsep global, komorehensip. Dalam sistem pemerintahan ada satu penghambat yaitu ego sektoral. Kolaborasi dan koordinasi masih merupakan barang mahal,  masing-masing dinas kerja sendiri dan kerja sendiri. Kita harus membuat mereka mulai berpikir bahwa membangun NTT harus dengan kolaborasi. Kita tidak bisa berpikir, berjalan dan bekerja sendiri-sendiri. Kita harus mampu merubah cara berpikir para birokrasi untuk berpikir dan bekerja bersama-sama atau kerja kroyokan demi tujuan yang sama. Untuk itu barus ada yang membantu bagaimana caranya menyatukannya. Jadi tidak bisa sendiri-sendiri lagi. Dulu pikirannya proyek-proyek . Misalnya saja sekarang program tanam jagung panen sapi harus dikerjakan bersama oleh semua dinas. Bukan lagi pekerjaannya pertanian saja. Sekarang jadi pekerjaanya perdagangan untuk urusan pemasaran, jadi tanggung jawabnya universitas karena untuk penelitian, terkait bibit, hama. Juga jadi pekerjaan ya industri, karena jagung akan dipakai disektor industri. Ini akan jadi pekerjaannya peternakan karena akan jadi pakan ternak, ini pekerjaannya pariwisata karena akan jadi produk ukm pariwisata, juga akan jadi pekerjaan semua dinas. Akan kait mengait dengan semya dinas, itu tujuan gubernur. Semua pihak akan terlibat. Jadi konsep gubernur dan wakil gubernur adalah satu jenis pekerjaan dan produk akan termigrasi ke semua sektor dan menjadi tanggung jawa  bersama beberapa dinas terkait, itulah kolaborasi. Kebersamaan, jadi NTT akan kita bangun bersama, tidak sendiri-sendiri. Bangkit, kerja, berlari dan sukses bersama.” Ulasnya.

Konsep Gubernur VBL sederhana saja, ungkap Daniel,
“Semua sumber daya alam NTT,  hasil produksi lokal apapun dari NTT, tidak boleh dihasilkan  hanya dalam bentuk bahan asli, tapi harus diproses menjadi berbagai bentuk hasil produksi beraneka rupa yang menggandeng semua dinas terkait, agar naik nilai ekonominya. Semua harus ikut berkontribusi dan bertanggungjawab terhadap nilai jual setiap produk. Semua elemen harus tahu ceritanya mengapa seseorang harus ada disuatu tempat dan menjadi bagian dari elemen membangun NTT. Jadi dari hulu sampai hilir, semua dinas  harus tahu apa yang akan dikerjakannya. Seperti fungsi skrup, untuk apa skrup dibuat, dimana posisinya, dan  untuk apa dia ada suatu posisi itu. Jadi bukan hanya cukup tahu dirinya skrup tanpa tahu apa fungsinya dan mengapa dia harus ada disuatu tempat, dan harus tahu kenapa harus penting dan kuat.” Ulasnya.

“Jadi itulah peranan  saya, yakni tentang memberi pemahaman secara komprehensif dan holistik. Intinya tugas saya sebagai staff khusus gubernur adalah memberi energi baru bagaimana menolong pemerintah terutama gubernur bersama-sama membawa NTT keluar dari situasi yang selama ini masih terkukung untuk bangkit, berlari menuju NTT Bangkit dan Sejahtra.” Ujarnya mengakhiri bincang-bincang kami. ■■juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *