Menakar kepemimpinan Lasikodat : Pro TNK Atau Kepentingan Terselubung

Oleh : Hasnu Ibrahim ( Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ) Kupang

Tulisan ini bersifat opini belaka. Kebenarannya perlu diuji dan dibuktikan.

Sebagai Rakyat Akar rumput, sudah seharusnya kita semua bersuara atas kebijakan primadona Gubernur NTT Victor Bung Tilu Laiskodat.

Karena sifat tulisan bukanlah karya ilmiah, tapi hasil mapping bersama pengamat lingkungan, rekan-rekan aktifis Mahasiswa dan Rekan-rekan  LSM yang memiliki Visi/Misi Guna  Membangun Provinsi ini kearah yang lebih baik.

Victor Lasikodat memang Pemimpin visioner bagi sebagian Rakyat NTT.

Pemimpin yang tegas, berani, bersuara lantang dan selalu berpihak pada kebenaran. Itulah karismanya Laiskodat sang Pemimpin NTT itu.

Semenjak Laiskodat Menjabat sebagai Gubernur NTT, banyak hal yang sudah digelontorkan kepada provinsi NTT.

Mulai dari kerja-kerja nyata, lewat kebijakan dan hal-hal lainnya demi mempercepat NTT Bangkit dan NTT Sejahtera. Kira-kira itulah semangat Kepemimpinan NTT saat ini.

Karena saya bukanlah pengamat dan anti terhadap gaya kepemimpinan Victor Laiskodat, jadi tulisan ini sifatnya  sebagai bahan masukan demi mengingat gubernur NTT yang banyak dielu-elukan oleh Rakyat NTT itu.

Ehhh, tulisan ini hampir melebar. Stop !!! Dalam pembahasan Gaya Kepemimpinan Laiskodat. Tapi saya mengajak para pembaca agar berkonsentrasi pada Wacana Terbaru  Gubernur NTT : Penutupan Taman Nasional Komodo.

Kita ketahui secara seksama, bahwa faranus  komodo merupakan satu-satunya satwa unik  yang dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur khususnya dan Icon Indonesia secara makronya.

Wacana penutupan TNK oleh pemprov NTT sebenarnya perlu pertimbangan matang.

Karena TNK komodo pada dasarnya  dapat  menjadi alat demi  meningkatkan taraf hidup masyarakat dan ekologi alam di NTT.

Jika Victor Lasikodat berkeinginan menutup  TNK selama selang waktu satu tahun, maka akan terjadi kesenjangan ekonomi msyarakat di Kabupaten Mabar khususnya Rakyat Labuan Bajo.

Sebagian besar masyarakat bergantung pada pariwisata. Yang  paling penting geliat untuk  menyelamatkan alam pariwisata dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga ekologi rantai makanan demi keberlangsungan spesies komodo. Tanpa rantai makanan tak akan ada keseimbangan.

Perlu saya tegaskan TNK merupakan lokomotif, icon NTT bukan Mabar. Nasional dan dunia telah mengakui akan hal itu, lalu mengapa Gubernur Ragu-ragu.

Bagi saya Kepemimpinan Laiskodat bukan visioner, tapi Kepemimpinan anti mainstream dan Kepemimpinan kaleng-kaleng.

Setiap kali mengeluarkan kebijakan  selalu tumpang tindih . Katanya konsisten, tapi toh Viktor melanggar hal itu koq.

Itulah pola kepemimpinan Laiskodat yang penuh sensasi belaka, jarang mengerti akan substansi. Jangan marah ini cuman penilaian koq. Toh, negara kita negara demokrasi.  ( hahahaha )

Bagi sebagain pengamat Alasan Victor menutup TNK sangat masuk akal, tapi hal yang semestinya diperhitungkan yakni  resiko bagi masyarkat setempat.

Alasan Masuk akal karena  keberadaan spesies komodo memprihatinkan, selain kurus diakibatkan kurang tersedianya makanan, juga aspek penanganan tidak maksimal.

Itulah akibat dari management pemda Mabar  yang  asal-asalan.

Mengapa harus management dimaksimalkan agar Perburuan secara  liar oleh warga Bima Sape yg hamper tak terkendali itu bisa di manimalisir demi keberlangsungan Komodo.

Kadang membuat kita pesimis. Kalo dilihat secara makro, TNK itu menjadi kontributor besar bagi investor.

Meskipun dapat  mendatangkan uang dan lowongan pekerjaan, namun uang sering masuk ke kantong investoring asing dan jarang manfaat bagi masyarakat lokal.

Fakta yang terjadi, jaringan hotel, baik multi nasional maupun milik asing, tidak peduli dengan keadaan alam sekitar. spesies komodo dan rantai makanan.

Tulisan ini juga menguji komitmen Bupati Manggarai Barat apakah berpihak pada investor asing atau berpihak pada Rakyat Mabar.

Secara pribadi saya belum pernah medengarkan apakah  ada sumbangsih dari para pemilik hotel terhadap alam dan spesies komodo.

Akibat suguhan hotel mewah, bar, restoran yg serba wohh  milik asing, wisatawan enggan mendatangi hotel, toko, kios, warung warga lokal.

Kesenjangan pun terjadi. Dengan demikian, bisa jadi alasan Viktor tepat. Buat rencana ulang dan ditata secara profesional dan berkeadilan demi peningkatan taraf hidup rakyat Manggarai Barat Labuan Bajo.

Dilain hal, Justru alasan penutupan TNK belum  rasional sekali dan belum menyentuh pada persoalan apa substansi dari wacana penutupan TNK tersebut.

Apakah tujuan penutupan TNK untuk menambah species komodo ?

apakah agar komodo mampu berkembang pesat dengan diberlakukannya penutupan selama setahun itu ?

atau  apakah agar komodo dapat secara bebas dalam mencari makanan demi keberlangsungan hidup dan berkembang biaknya ?

Oleh karena itu, Gubernur semestinya harus memikirkan akan resiko atas penutupan. Dampak dari penutupan TNK terhadap rakyat Labuan Bajo.

Mengapa sejak awal saya menulis bahwa Kepemimpinan Laiskodat adalah Kepemimpinan kaleng-kaleng.

Karena sebagaimana kita ketahui secara seksama dalam amanat konstitusi mengejawantahkan secara jelas pada pasal 33 ayat ( 3 ) bahwa Bumi, Air, Bangun dan Kekayaan Alam lainnya adalah milik Negara dan akan sepenuhnya bagi kepentingan Rakyat Indonesia.

Dalam Pembukaan Promble UUD 1945 pada alinea keempat menegaskan bahwa negara semenjak dinyatakan merdeka memiliki tugas secara konstitusi guna melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut terlibat secara profesional dalam menjaga perdamaian dunia.

Mengaca kepada dua amanat konstitusi diatas maka sangat jelas bahwa Laiskodat bukan Kepemimpinan yang pro rakyat , tapi malah berpihak pada kepentingan terselubung.

Kira-kira itulah korelasi judul dengan realitas Kepemimpinan Victor Laiskodat : Menakar Kepemimpinan Laiskodat : Pro Rakyat atau Kepentingan Terselubung.

Wacana penutupan TNK selama satu tahun itu, akan berimbas pada generasi komodo  akan diluar dari kendali pihak TNK.

Kemungkinan yang akan terjadi adalah komodo akan sangat liar dan besar kemungkinan  yang  akan terjadi adalah generasi komodo akan memangsa manusia. Karena setahun itu bukan waktu pendek bagi kebiasaan generasi komodo ( generasi komodo adalah anak komodo ).

Wacana penutupan TNK sebetulnya terletak pada Masalah kondisi fisik komodo , kekurang makanan Komodo akibat perburuan liar rakyat tak mengenal identitas itu tadi.

Langkah yang harus diambil oleh Pemda tingkat I dan Pemda Tingkat II adalah  bagaimana pemerintah melakukan peningkatan / Pengawasan terkait konservasi TNK. Bukan malah menutup TAN, tentu wacana ini sangatlah keliru.

Saya bisa menjamin demi keberlangsungan Komodo apabila  tertib regulasi oleh Pemda baik tingkat I maupun PD II.

substansi permasalahan labuan bajo secara komprehensif adalah  pada persoalan tata ruang kota, belum tertibnya sistem Rencana Tata Ruang ( RT ) & belum jelas Rencana Tata Wilayah ( RW ).

Saya sangat mengerti betul, akar permasalahan kawasan pesisir NTT, Perhotelan. dll.

Selama  4 tahun kuliah dan  belajar tentang hal ini juga di Fakultas Perikanan Muhammadiyah Kupang.

Wacana yang dilontarkan oleh Gubernur VBL itu sementara kita anggap sebagai cara beliau untuk melahirkan diskursus di tengah masyarakat.

perhatikan sejak beliau memimpin NTT, banyak wacana yang dilontarkan, tentu semua punya maksud, bukan semata-mata untuk membuat gaduh.

Dalam berbagai kesempatan bertemu dan diskusi bersama pak VBL, beliau kerap berucap bahwa “kegaduhan” itu perlu, agar muncul diskursus di tengah masyarakat.

Dari kondisi itu bisa dilihat berbagai pendapat, isi kepala masyarakat melalui berbagai media sosial (medsos) yang ada.

Nah dari berbagai diskursus di masyarakat lewat medsos itu, saya pribadi beranggapan bahwa mungkin begitulah jalan beliau untuk menyerap aspirasi dari masyarakat terkait suatu kebijakan yang hendak diambil.

Ini cara paling mudah untuk peroleh dan menyerap aspirasi masyarakat ketimbang melakukan cara-cara lama yang makan waktu dan biaya sebelum adanya medsos.

Beda saat ini dengan saat sebelum adanya medsos seperti WA, FB dll,

Anda bahkan bisa berdebat atau berdiskusi dengan lawan bicara Anda sambil tiduran bahkan buang air di toilet.

Lewat medsos saat ini, kita dapat secara serentak dalam hitungan jam menyerap opini.

aspirasi dari masyarakat dengan jumlah ratusan, ribuan bahkan jutaan atas suatu wacana yang dilontarkan.

Jadi anggap saja Gubernur saat ini sedang menyerap informasi, opini dan aspirasi dari rakyatnya tentang niat, langkah yang hendak diambil oleh beliu.

sebagai pemimpin untuk menata TNK menjadi lebih baik dan membawa manfaat dan kesejahteraan yang lebih banyak lagi buat segenap rakyat NTT.

Saya pribadi setuju TNK ditutup sementara jika tujuannya untuk dilakukan perbaikan dan pembenahan segala hal yang dapat mendukung terselenggaranya industri pariwisata di Mabar yang lebih baik, rapi dan jelas arah.

Ibarat kita punya restoran, jika fasilitas yang kita punya pada restoran itu telah tak cukup memadai melayani pelanggan kita, maka kita perlu melakukan renovasi, maka konsekuensinya adalah anda selaku pemilik perlu menutup aktifitas resto baik sebagian-sebagian maupun secara keseluruhan kegiatan operasional resto untuk kurun waktu tertentu untuk kemudian dibuka kembali secara normal jika segala pembenahan telah dilakukan.

Ujung dari renovasi (pembenahan) itu tentu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan tentu efeknya sekaligus meningkatkan kesejahteraan segenap stake holder dunia pariwisata Mabar.

Selalu ada yang dikorbankan dan pengorbanan dalam setiap kebijakan yang hendak diambil.

tentu kita harap sifat pengorbanan itu hanya berlaku sementara.

Untuk wacana penutupan TNK ini sebelum langkah itu diambil, tentu perlu kajian yang mendalam, salah satunya terkait waktu, berapa lama penutupan TNK itu perlu dilakukan.**))juli br

Catatan redaksi : penulis adalah ketua PMII Provinsi NTT Hasnu Ibramin

Sumber : Ketua PMII Hasnu Ibrahim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *