Kisah Ari Amnahas, Nahkoda Kapal Yang Jatuh Cinta Pada Budi Daya Hortikultura

Noelsinas, Top News NTT.,■■ Pemuda berusia 29 Tahun ini bernama lengkap Arie Amnahas. Seorang pelaut dengan jabatan terakhir nahkoda kapal perusahaan perikanan yang lebih mencintai laut dan senang berlayar dari pada pertanian, namun akhirnya bisa jatuh cinta dan mahir  bertani. Kepada media ini, Ari berkisah tentang proses “jatuh cinta” dirinya kepada budi daya hortikultura..

Arie dengan bersemangat menjelaskan  bahwa awal ia tertarik pada budi daya hortikultura adalah saat kembali ke Desanya Noelsinas, Kabupaten Kupang pada akhir 2015 dari Bali.  Pria lajang pecinta laut ini sebelumnya adalah seorang nahkoda kapal ikan di Bali. Pulang ke Noelsinas karena sakit.

Tanaman cabe dilahan Ari Amnahas

Kepada Media ini Ari  yang  masih pemula dibidang pertanian hortikultura ini akui bahwa ia ingin kembali ke Kapal setelah sembuh, namun kedua  orangtuanya melarang. Padahal ia ingin kembali ke kapal dan menekuni  profesi sebagai pelaut. Keputusan ini karena ia memang dari kecil tidak ada keinginan untuk menjadi petani. Ia bahkan akui jika diantara semua bersaudara, dirinyalah yang paling alergi dengan pertanian

Walau dengan rendah hati diakuinya  bahwa kedua orangtuannya  adalah petani bahkan ia dan saudara-saudaranga  hidup dan bersekolah dari hasil pertanian kedua orangtua mereka.  Namun Ari tidak tertarik pada pertanian.

Bahkan sejak kecil diantara keluarganya dirinya adalah yang tidak ingin bersentuhan dengan bidang pertanian. “Tidak ada alasan khusus, hanya karena tidak suka saja. Jujur saya lebih cinta laut dan ikan.” ujarnya polos dalam wawancara kami pada akhir April 2019 lalu.

Karena lebih  tertarik pada bidang kelautan & perikanan itulah yang membawanya pada keputusan bersekolah di Sekolah Perikanan  yang  dilanjutkannya  di Bali. Setelah lulus ia awali dengan bekerja disebuah perusahaan ternama di Bali, dengan jabatan sebagai Nakhoda kapal perikanan di prusahaan AKFI selama 5 tahun, dari  tahun 2010-2015.

Saat sedang dalam kebingungan mencari pekerjaan lain inilah  ia gereja Oemathonis Noelsinas peroleh pendeta bernama Markus Jonathan Leupunun yang adalah wakil ketua Kompas Tani,  sekaligus memperkenalkan sistem budi daya hortikuktura lahan kering kepada jemaat mereka. Dan setiap saat mengajak jemaat untuk mencoba budi daya hortikultura.

Lantaran belum menemukan pekerjaan yang pas,  dan tidak ada ijin orangtua baginya kembali ke laut, ia memilih mencoba bertani hortikultura bersama kakak sepupunya James Amnahas dan 20-an pemuda GMIT Oemathonis Noelsinas dengan bimbingan pendeta Markus. Dan mereka akhinya diwadahi dalam Kelompok Tani (Poktan) Pelangi yamg beranggotakan para pemuda jemaat.

“Karena  pengaruh dan ajakan pendeta Marko Leupunun saya ikut masuk dalam kelompok tani Pelangi.  Ia sangat menginspirasi saya dan juga pemuda lainnya. Kesusksesan beliau mengolah tanah yang kering di Manulai 2 menjadi inspirasi utama. Dan juga keberhasilannya memotivasi  pemuda jemaat  lain di gereja kami. Akhirnya saya putuskan menjadi petani hortikultura.” Kisahnya.

Motivasi  awal, jelas Ari memang datang dari kakak sepupunya bernama James Amnahas yang seorang guru honor disalah satu SD Negeri yang sudah lebih dulu menjadi petani hortikultura dilahannya.
“beta  pung  kakak James  bilang kitong punh tanah banyak jadi coba kelola. Setelah orang tua panen padi beta  dengan beberapa teman coba untuk tanam tomat di sawah. kitong tanam tomat dilahan seluas 1 hektar. Tapi  kitong tanam tomat kaya tanam padi, jadi gagal.” Ujarnya sambil tertawa.

Kisah Ari, saat melihat mereka gagal, semua orang menertawakan mereka. Namun mereka tidak putus asa. Dan tetap mau bangkit dan berusaha. Tentu dengan motivasi dari pendeta Marko dan pendampingan dari Pendamping Panah merah Eben Tarmnanu, Ade Ali dan Engky Bria dari Roda Tani.
“Waktu kitong gagal panen dari  tanam tomat, semua orang ketawa ma kitong sonde putus asa. Tetap semangat dan mau mencoba lagi. Dengan dukungan dari pendeta Marko dan pendampimgan dari Pendamping Panah merah Eben Tarmnanu, Ade Ali dan Engky Bria dari Roda Tani.” Kisah Ari.

Bahkan setelah gagal tanampun,  dirinya tidak  putus asa. Ia berusaha mencari  dan membaca informasi tentang budi daya hortikultura  di google. Semuanya  tentang tanaman holtikultura. Dan dengan panduan dari informasi google itulah ia mencoba tanam lagi  di lahan dekat rumah. Tapi,  hsilnya tidak bagus, karena pola tanam yang masih  tradisional.
“Beta coba tanam lai dengan belajar dari Google,.tapi karena masih dengan cara tradisional hasilnya masih sonde bagus.” Kisah pemuda lajang ini polos dan tersenyum.

Karena dirinya masuk dalam kelompok tani Pelangi, praktis mereka memperoleh  pendampingan oleh Kompas Tani dan  Panah Merah. Pendamping pertama adalah Eben Taemnanu, diganti Ade Ali dan saat ini oleh Engky Bria.
“Hingga saat ini kami peroleh banyak ilmu dan informasi terkait sistem budi daya hortikultura yang lebih detil dan menentukan hasil panen dari pendamping pertanian lewat pendeta Marko.  Sistem pendampingan ini dimata kami sangat bagus dan membantu petani.” Tandasnya.

Awalnya, kisah Ari, mereka  mencoba menanam 500 pohon semangka  yang  hasilkan hampir 1000 buah.
” Pemasaran pertama kitong coba antar ke beberapa gereja di Kota Kupang. Dan  waktu itu dijual dengan 3 harga berbeda yaitu   Rp.20.000, 25.000 dan Rp.30.000 per buah  tergantung ukuran buah. Selebihnya oleh  teman & tetangga yang langsung beli di kebun.” Kisahnya.

Tapi pada  musim panas kendala yang dihadapi semua petani adalah kekurangan air. Sehingga mau tidak mau para petani  harus beli air Rp.60.000 per tangki untuk menyiram tanaman yanh hanya bisa digunakan dalam waktu  2-3 hari saja karena cuaca yang sangat panas sekali. Sehingga tanaman butuh banyak air.

“Tapi puji Tuhan pada akhir tahun 2018 kemarin kitong dapat bantuan sumur bor dari ketua DPRD  kabupaten  Kupang ( Yosep Lede)  dan mulai bulan  Januari kemarin su selesai, jadi kitong su bisa bertani lai.” Ujarnya bersyukur.

Namun Ari Amnahas dengan jujur akui karena kondisi tanah yang berbatu dan cuaca panas serta sumber air yang makin kurang,  bertani ni hanya indah di cerita saja. , kadang-kadang gagal panen atau banyak hama seringkali  membuatnya sampai  putus asa dna ingin kembli ke kapal.  Tapi setelah hitung-hitung hasilnya, tidak jauh beda, yang penting  rajin.

Dari hasil panen  semangka 500 pohon,  buncis & tomat Ari akui sempat peroleh hasil  hampir 20 juta diluar modal, yang disimpannnya  di Kopdit.

“Yang kami keluhkan kepada pemerintah  untuk petani harapannya bisa bantu dengan bibit untuk prluas lahan, karena traktor su dapat dari bapak ketua dewan,  kultifator atau alat untuk buat  bedengan ju su dapat sehingga  sonde cape-cape pacul dan  sekop tanah pada saat buat  bedeng. Kepada pemerintah desa juga kitong punya  keluhan karena bibit yang di kasi sonde  sesuai kebutuhan misalkan kitong  tanam bncis dong kasi bawang dan  melon sedangkan beta su coba tanam melon tapi cuma dapat kembli modal.” Ujarnya menyarankan.

Setelah alami sendiri bagaimana hasil dari budi daya hortikultura, Ari mengajak para  pmuda lain, agar mau  kelola tanah kering karena hasilnya  lebih dari gaji PNS atau  yang krja di toko.
“yah walaupun jadi  petani ni sonde dianggap tapi  kitong cari uang ju untuk beli makan minum.  Jadi  misalkan batanam sonde  perlu beli sayur mayur, bumbu dapur ju sonde beli, jadi uangnya bisa kitong simpan dan dipake untuk kebutuhan laen, wlaupun dari hasil tani beta belum beli apa-apa  tapi tabungan su ada.  Beta ju sudah punya  kndaraan yang butut dari  hasil di laut maknnyab skrg panen tinggal antar pake  kndaraan tapi setidaknya sudah sangat  membantu pemasaran hasil panen. Sonde keluar duit untuk transport.” Jelasnya dalam dialek Kupang..■■juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *