Gelar PTM Terbatas, SMAN 10 Kupang Terapkan dua kurikulum

  • Bagikan

KUPANG, TOPNewsNTT|| Sebagai sekolah penggerak, SMAN 10 Kupang menggunakan dua kurikulum dalam pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas yang sudah dimulai sejak Senin, 27/09/2021 lalu.

Kasek SMAN 10 Kupang Drs.Daniel Bole,S.Pd didampingi Wakasek Kurikulum Rosalin Yewang,S.Pd saat wawancara

Kasek SMAN 10 Kupang Drs Daniel Bolle didampingi Wakasek Kurikulum Rosalina Yewang, S.Pd menjelaskan bahwa dalam PTM Terbatas, sekolah menerapkan Kurikulum 2013 di padu Kurikulum Sekolah Penggerak dengan konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar.

“Kurikulum 2013 dengan konsep untuk menjawab  tantangan dan kompetensi masa depan yang wajib dimiliki siswa agar dapat bersaing dengan kemajuan sains dan teknologi, sudah berjalan selama ini. Yakni adanya penekanan pada aspek pengetahuan/kognitif dan aspek ketrampilan/psykomotor pada semua mata pelajaran serta aspek Afektiv/sikap pada mata pelajaran Agama dan PKN.” Jelas Kasek Daniel Bole lugas.

Yang baru, lanjutnya, “adalah kurikulum Sekolah Penggerak,  dimana sekolah diberi peran menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah dengan berpatokan pada Pedoman kurikulum Sekolah Penggerak yang ditetapkan oleh Kemenristek dengan konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar berbasis projek demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.”

Sementara untuk pelaksanaan PTM Terbatas, Kasek Daniel Bole menjelaskan,
“Sesuai Edaran Kadis P&K NTT sudah laksanakan PTM Terbatas sejak 27/09. PTM Terbatas dilaksanakan setelah membangun kesepakatan antara pihak sekolah dengan orangtua berupa surat pernyataan persetujuan yang ditandatangani diatas meterai Rp10.000 antara lain tentang dukungan dan kontribusi orangtua bagi pelaksanaan PTM Terbatas,  dengan mempersiapkan siswa sejak dari rumah terutama dalam penerapan Prokes demi menghindari penyebaran Covid 19. Sedangkan bagi siswa yang sakit atau berhalangan lain, orangtua/wali wajib menginformasikan kepada pihak sekolah agar bisa dilayani secara khusus dengan pembelajaran BDR secara Daring. Tapi syukur dari total 321 siswa kami  tidak ada yang berkeberatan untuk mengikuti sekolah tatap muka.” Jelas Daniel.

Mekanisme pengaturan jam belajar dan porsi siswa yang datang ke sekolah, jelas Kasek Daniel melanjutkan,  mengunakan system shift dan silang yang diatur 50% dari total siswa kelas 10, 11, 12.

“Untuk kelas 10 dan 11 dengan jumlah siswa 36 orang dibagi dalam dua shift dengan 6 sampai dengan 8 mapel/hari dengan durasi waktu 35 menit. Karena SMAN 10 Kupang hanya memiliki 8 ruang kelas, maka diaturlah sistem shift dan silang yakni untuk setiap jenjang kelas dibagi 2 hari luring/tatap muka dan 4 hari daring. Setiap tugas akan diberikan saat tatap muka untuk dipelajari dan dikerjakan di rumah dengan tetap menggunakan WA grup kelas sebagai media komunikasi. Tugas dan  kendala yang dihadapi para siswa pada saat pembelajaran di rumah, akan dibahas saat  tatap muka minggu berikutnya.”

“Jadi kami terapkan sistem shift dan silang. Kelas 10 dan 11 belajar tatap muka dalam dua shift yaitu Senin dan Kamis dan shift kedua pada Selasa dan Sabtu dan 4 hari dalam seminggu lainnya mereka belajar di rumah dan kerjakan tugas yang diberikan saat tatap muka. Sedangkan kelas 12 pembelajaran tatap muka pada hari Rabu dan Jumat. Setiap hari 8 mapel dengan 35 menit jam pelajaran.” Jelas Daniel diiyakan Ros.

Dalam PTM Terbatas sekolah melakukan penyesuaian kurikulum yaitu guru diberi waktu 35 menit menjelaskan materi-materi esensial dari setiap Mapel.

Setiap hari semua pelajaran  (14 mata pelajaran) diberikan semuanya dengan durasi 35 menit per mapel, lalu guru memberi tugas untuk dikerjakan selama 4 hari di rumah dan jika ada kendala dalam mencerna pelajaran dan atau mengerjakan tugas maka akan disampaikan saat tatap muka minggu berikutnya.

Daniel menyatakan bahwa walau kondisi masih PTM Terbatas dengan pola belajar 35 menit setiap pelajaran hanya 2 hari seminggu tatap muka, namun dirasakan cukup efektif  bahkan lebih baik bagi siswa dibandingkan BDR.

“Karena siswa masih punya waktu 2 hari tatap muka untuk kembali berinteraksi dengan guru, sesama siswa dan menikmati suasana lingkungan sekolah kembali, serta berkomunikasi dan diskusi soal pelajaran. PTM walau terbatas masih lebih baik dibandingkan BDR. Karena ada 2 hari siswa ketemu guru, teman sesama siswa dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah kembali. Menerima pelajaran walau 35 menit dari semua pelajaran sekaligus, mendiskusikan pelajaran yang tidak dimengerti. Dengannya kita sedang perlahan mengembalikan karakter siswa ke karakter pelajar ke lingkungan sekolah agar siap ke pembelajaran nornal. PTM Terbatas juga belum ada penentuan kapan berakhir.” Ujar Daniel.

Kendala yang dihadapi dalam 2 hari PTM Terbatas ini adalah masih ada siswa yang belum masuk sekolah dan nyaris tidak ada kendala yang berarti, ujar Daniel.

Guna mendukung komitmen pemerintah memerangi Covid, Kasek Daniel mengatakan siswa diawasi dengan ketat sejak datang ke sekolah oleh petugas dimulai dari screening,  cuci tangan, pakai masker, ukur suhu tubuh dan diawasi juga selama jam pelajaran hingga pulang agar tetap mentaati prokes.

Saat rehat pun, siswa diwajibkan tetap dalam kelas dan wajib membawa bekal serta alat tulis sendiri agar tidak saling meminjam yang dapat menjadi potensi penularan virus.

Pengawasan lain adalah terhadap kondisi kesehatan siswa saat diukur suhu, jika diatas 37,3 derajat, maka siswa wajib beristirahat di UKS dan akan dipantau suhunya, jika sudah normal akan masuk kelas, tapi jika makin buruk maka akan dibawa ke puskesmas terdekat.

Dalam mempersiapkan siswa untuk mengikuti PTM Terbatas sekolah bekerja sama puskesmas Sikumana menyelenggarakan vaksinasi bagi siswa yang belum divaksin di sekolah pada sabtu 25/09 kemarin dan juga berpartisipasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT mengirimkan 35 orang siswa untuk divaksin di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Rabu, 23/09 yang lalu.
“Hingga hari ini sudah 90% siswa kami yang divaksin baik oleh sekolah maupun mandiri. Sisanya karena alasan sakit, isoman maupun karena keberatan dari orangtua akan kami lihat jika kondisi siswa siap divaksin akan diikutkan dalam vaksin tahap selanjutnya.” Jelas Daniel.

“Kami berharap orangtua tetap mendukung semua kegiatan PTM Terbatas dan mencegah penyebaran Covid dengan mentaati prokes seperti mempersiapkan siswa dengan semua kebutuhan siswa dan memberikan arahan tanpa henti agar siswa tetap menerapkan prokes dimana saja berada. Tanggung jawab ada pada kita semua.” Tandas Kasek Daniel bijak menghimbau.||juli br

 

  • Bagikan