FAO UN Tutup Project Pertanian Konservasi Dengan Gelar Worshop Bagi Kelompok Tani NTT

NTT, Topnewsntt.com., FAO UN (Food and Agriculture Organization of the United Nation) tutup project  Sistem Pertanian Konservasi yang sudah berlangsung sejak 2014 kepada petani NTT dengan gelar Workshop  Promoting Conservation Agriculture For Productivity and Climate Resilience In Indonesia kelompok tani, Dinas Pertanian, Bappeda, LSM, Citivas akademisi jurusan pertanian. Workshop ini berlangsung pada Kamis, 7/2/2019 di Ball Room Swiss Bell Hotel Kristal Kupang.

Selama 4 tahun FAO sudah bermitra dengan Kementerian Pertanian dan Pemerintah provinsi NTT dalam memberikan edukasi, informasi, pendampingan dan berbagai bantuan lain kepada petani dengan tujuan memberi dampak positif bagi kemajuan petani dan dunia pertanian di NTT dan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Kadis Pertanian Provinsi NTT Yohanis Tay Ruba sampaikan mewakili gubernur NTT bahwa program ini adalah untuk  mendukung program Nawa Cita presiden  Jokowi, sehingga seluruh SKPD harus dilanjutkan. Karena project ini sangat cocok dengan kondisi NTT yang beriklim ekstrim. Kemarau panjang dan struktur tanah berbatu.

Dalam rilisnya FAO menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian dan FAO bermitra dengan Pemerintah Provinsi NTT dan NTB sudah bekerja sama dengan lebih 16.000 petani kecil untuk membantu mereka beradaptasi dengan perubahan iklim, dengan menggunakan teknologi tepat guna tanpa alat atau manual yang disebut Sistem Pertanian Konservasi.

 

John Weatherson expert Internasional FAO Indonesia dalam pemaparan materi di workshop Promoting Conservation Agriculture For Productivity and Climate Resilience In Indonesia di Swiss Bell Kristal Hotel Kupang

Pendekatan baru ini  tujuannya untuk membantu para petani untuk menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim, sambil meningkatkan produksi dan memperbaiki kesuburan lahan pertanian mereka. Dengan dukungan FAO dan USAID,  hampir 800 kelompok tani di 28 kabupaten di NTT dan NTB memperkuat pemahaman dasar petani untuk melaksanakan pertanian konservasi (PK).

Workshop di Kupang, NTT untuk menandai secara resmi berakhirnya proyek. Workshop ini merupakan salah satu event utama disamping kunjungan lapangan ke lokasi pengembangan PK di desa Camplong. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan utama pemerintah nasional dan daerah, LSM, FAO dan USAID.

“Dengan Pertanian Konservasi, penggunaan air dihemat, tanah dilesatrikan, dan penggunaan pupuk semakin efektif. Sistem ini akan berkelanjutan guna melindungi tanah, air, dan lingkungan.” Ungkap Gubernur dalam sambutannya.

Diantara petani termiskin di Indonesia, petani kecil yang terlibat dalam pertanian konservasi selama puncak kekeringan ketika El Nino pada 2015 dan 2016, sementara itu dengan metode tradisional habya memberi 2,5 ton atau bahkan kurang.

Selain produksi jagung yang lebih tinggi, banyak petani juga menanam berbagai jenis kacang dan tanaman dan tanaman lain untuk meningkatkan  kesuburan tanah dan menyediakan makanan bergizi bagi keluarga mereka.

Tujuan utama project PK adalah selain memberi informasi dan pendampingan, bimbingan bagaimana mengelola tanah dengan beradaptasi sesuai kondisi tanah dan iklim, dalam hal pengelolaa tanah agar seimbang PH tanah dan sebagainya, pemberian pupuk dan pestisida yang tepat waktu dan takaran, juga pola tanam yang intensif manuak, sehingga menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan melimpah agar petani menjadi sejahtera.

Selama empat tahun FAO membawa petani menerapkan sistem PK dengan teknik-teknik baru, petani telah menunjukkan bahwa kualitas tanah mereka meningkat subur, dengan kandungan karbon dan nitrogen tanah yang jauh lebih tinggi.

“Teknik pertanian konservasi amat bermanfaat terutama diterapkan dilahan-lahan kering beriklim kering. Teknik pertanian ini memungkinkan untuk mengkonservasi air di daerah perakaran. Hal ini membuat tanah mampu menyimpan air disaat musim hujan dan tetap menyimpannya saat musim kemarau. Hal ini membuat petani di daerah kering mampu panen sampai dua kali setahun.” Ungkap Deddy Nursyamsi, koordinasi Nasional Project Pertabian Konservasi/Kepala Balai Besar Penelituan dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP).

Deddy mengungkapkan, bahwa dengan intensitas panen yang semakin meningkat, tenaga kerja juga semakin banyak untuk terserap dalam pertanian, petani perempuan dan pemuda petani banyak terlibat dalam pengembangan teknik ini.
“Pada akhirnya teknik ini mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.” Tandasnya.

Pada awal 2018, setelah keberhasilan yang dicapai di NTT dan NTB, praktik pertanian konservasi ini berhasil diperkenalkan kepada petani di tiga provinsi yang juga mempunyai lahan kering dan iklim kering yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Gorontalo.

Anang Nugroho (Direktur Pertanian Bappenas), mengatakan bahwa pertanian konservasi yang diimplementasikan bersama FAO merupakan model IPTEK Pertanian berkelanjutan yang diharapkan dapat meningkatkan produktifitas lahan kering ditengah perubahan iklim yang senakin serius “Bapenas mengharapkan pola teknik Pertanian Konservasi” ini dapat menjadi salah saty model yang dapat direplikasi du Lokasi lainnya, dalam mendukung ketahanan pangan lokal.” Harap Anang.

Awalnya kelompok tani belajar melalui Sekolah Lapangan Pertanian Konservasi, sebuah teknik belajar bagi petani yang dikembangkan di Indonesia lebih dari 20 tahun yang lalu. Dan sekarang diadopsi diseluruh dunia. Petani berkolaborasi untuk mengamati secara langsung praktik kombinasi teknik pertanian konservasi di lahan mereka sendiri sebagai tempat belajar dengan mengamati, mencatat dan mendiskusikan apa yang terjadi selama uji coba, dengan difasilitasi oleh penyuluh pertanian.

“Teknik-teknik pertanian konservasi memungkinkan para petani untuk meninggalkan praktik-praktik Pertanian Konvensional yang dapat menyebabkan turunnya kesuburan lahan dan hilangkan sebagian besar panen mereka menghadapi perubahan iklim, dan juga memperkenalkan tingkat mekanisme yang cocok, guna mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Kami berharap teknik ini akan lebih diperluas di Indonesia untuk mengembangkan pertanian dan petani yang lebih tangguh dan membawa kesejahteraan bagi para petani.” Tutup perwakilan FAO Stephen Rudgard di akhir workshop ini.

Pemateri adalah John Weatherson Konsultan FAO dengan materi “Pengalaman Pertanian Konservasi Global dan Regional”, YMTM dan YPK Donders ( Bruno Keraf, Wakil Petani Desa, Saenam Dan Fafinesu), dengan materi Pengalaman Penerapan Pertanian Konservasi Di Provinsi NTB, NTT dan Timor Leste (MAP Timor Leste Direktur (Amaro Ximenes).
Pleno 3 : “Telaahan dan Pengembangan Pertanian Konservasi Serta integritas pada perguruan tinggi” dengan pemateri dari akademisi Unimor (Dr.Arnoldus Kalu B), Undana (Dr.Damianus Adar), dan Unram (Dr.Sukartono).

Pleno keempat, materi “Pengalaman Institusional Pertanian Konservasi” oleh Kepala Desa Noeltoko, Dinas Pertanian Kabupaten Bima, Dinas Pertanian Provinsi NTT, BAPPEDA NTB dan BBSDLP.

Workshop juga diisi dengan diskusi dan sharing pengalaman. Diakhir workshop Moderator Ageng Herianto menyatakan bahwa FAO NTT berhasil meningkatkan kesuburan tanah dan kesejahteraan petani lewat program Pertanian Konservasi. **))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *