Dilahan Miring Berbatu, James Lassa Berhasil Kembangkan Budi Daya Hortikultura

Tunfeu, ■■Top News NTT., Sosok James Lassa (39 tahun), adalah seorang pemula di bidang budi daya  hortikultura. Sebelumnya ia adalah seorang sopir. Dan kondisi tanah berbatu dan lereng di desa Tunfeu, Nekamese, Kabupaten Kupang itu bukan jadi halangan besar di tangan James  yang punya kemauan keras mencoba dunia pertanian khusus budi daya hortikultura ini. Ia berhasil  merubah lahan kering berbatu dan terletak di lereng menjadi lahan pertanian hortikultura.

Awal keinginannya mencoba dunia pertanian hortikultura adalah karena perkenalan pertama dengan pdt.Markus Yonatan Leonutu yang pindah tugas ke jemaat ditempatnya tinggalnya tahun 2016 yang membentuk kelompok tani yang kebanyakan terdiri dari pemuda-pemuda jemaat. Pdt.Markus (yang lebih dikenal dengan nama pdt.Marko) sendiri adalah salah satu pengurus Komunitas Kompas Tani. Sehingga kelompok-kelompok taninya didampingi oleh Kompas Tani.

20 tahun jalani profesi sebagai sopir, James terinspirasi oleh kisah sukses budi daya Hortikultura di tempat tugasnya di Flores. Ia jujur tertarik dengan kisah sukses para petani yang bisa memberi hasil yang besar dari tanaman hortikultura.

Lahan berbatu, kering dan lereng milik James Lassa yang sudah berubah jadi lahan pertanian terasering budi daya hortikultura di desa Tunfeu, Nekamese

Dan akhirnya ia berkeinginan mencoba budi daya pertanian hortikultura dan bertanya kepada pdt.Marko apa bisa dapatkan pendamping untuk budi daya hortikultura ditanah milik keluarganya dibelakang kolam Eden to Eden.  Dan oleh pendeta Marko dirinya diperkenalkan dengan pendamping Panah Merah Eben Taemnanu.

Awal tahun 2018 setelah membuka akses jalan dan mempersiapkan lahan dengan meminta pendapat dari pendamping Eben dan Pendeta Marko, James mengisahkan bahwa ia menanam buncis dan cabe 1,2 kg di lahan seluas 2,5 are. Saat panen perdana  ternyata  hasilkan 500 kilo buncis yang dijual seharga Rp.3.000.000.

Dengan berani ia menginvestasi modal berjumlah Rp.3.000.000 demi merubah lahan hutan berbatu dan lereng milik orangtuanya menjadi lahan pertanian Hortikultura. Modal itu ia pergunakan dari membuka akses jalan tanah sepanjang 2 km, sensor kayu, mengolah tanah yang berbatu menjadi lahan tera sering yang siap ditanami,  dengan mengupah beberapa tenaga kerja pemuda sekitar tenpat tinggalnya, membangun bak penampung air berkapasitas 10 ribu liter atau 10 ton.

Setelah panen pertama buncis, James melihat bahwa ternyata hasil panen tanaman hortikultura lebih menjanjikan. Karena itu ia menambah 2,5 are luas lahan menjadi 5 are dan menanam tomat 1 kilo dan hasilkan sekitar Rp.8.000.000 dari modal 1 juta. Penanaman ketiga pada  November 2018 dengan menggandeng omnya, mereka menambah luas lahan menjadi 10 are dan menanam tomat,  buncis  dan cabe masing-masing 1 kilo atau   4.500 pohon. Hasil panen dari buncis dan tomat serta cabe berjumlah
Rp.6.000.000 yang dibagi dua dengan om dan masing-masing peroleh Rp.3.000.000 sehingga total penghasilan dari 3 kali panen Jems akui sudah peroleh Rp.14.000.000. Dibanding pengeluarannya,  menurut Jems memang akui hasilnya belum menutupi modal, balik modal saja. Namun Jems akui ada nilai lebih yang ia peroleh dari keputusan banting stir ke bidang budi daya hortikultura ini. Karena ia jadi punya banyak waktu untuk keluarga atau jadi bos diri sendiri.

Dari hasil panennya ia akui sudah beli motor beat untuk isterinya. Memang anggaplah ia tidak menyimpan dalam bentuk tabungan, namun ia punya sebuah pemikiran positif bahwa jika dengan kerja keras, maka budi daya hortikultura akan selalu memberi hasil yang bagus.

Ia apresiasi pendampingan oleh Panah Merah yang dinilainya sangat bagus. Selama  didampingi  oleh Eben Taemnanu, diganti Ade Ali dan saat ini oleh Engky Bria, James akui ia sudah peroleh banyak ilmu dan informaai terkait sistem budi daya hortikultura yang lebih detil dan menentukan hasil panen. Sistem pendampingan ini dimatanya sangat bagus dan membantu petani.

Dan awal 2019 sedang menanam tomat dengan modal dan cabe lagi di areal seluas 5 are, James berharap akan bisa mengumpulkan uang demi membangun rumah bagi keluarganya. Selama ini, aku James kehidupan ekonominya agak sulit saat menjadi sopir, dengan honorer kecil isterinya sebagai guru Komite salah satu  SD di desanya. Dan waktu bagi keluarga yang sangat minim, karena ia selalu sibuk,  sedangkan penghasilan kecil maka ia berpikir akan tetapkan jalani profesi sebagai  petani hortikultura.

James juga menilai budi daya Hortikultura ternyata cukup menjanjikan bagi petani. Ibarat membawa harapan baru bagi petani NTT  yang belum sejahtera, bahkan hidup dibawah garis kemiskinan. Jika selama ini dengan pertanian konvensional petani masih belum sejahtera, maka dengan budi daya hortikultura dengan pendampingan seperti yang dilakukan Panah Merah, maka akan ada harapan baik bagi petani untuk peningkatan kehidupan ekonomi petani NTT. Budi daya hortikultura cukup menjanjikan.” Tandas James bersemangat.

Bahkan ia merencanakan akan memperluas lahan pertaniannya dengan membuka lahannya. Dilahannya, jelas James memang kesulitan utama adalah air dan kondisi tanah yang berbatu dan berada di lereng. Sehingga butuh modal dan tenaga guna menjadikannya lahan yang siap ditanami. James berharap ia memiliki modal untuk menyulap lahannya menjadi lahan potensial untuk memberi hasil yang besar bagi kehidupan ekonomi keluarganya. Apalagi ia berencana membangun rumah. Maka hasil harus lebih besar.
“Dimata saya, budi daya hortikultura ibarat sebuah harapan baru bagi petani NTT. Saya bahkan ingin menambah luas lahan dan saya butuh modal membuka lahan yang berbatu dan lereng dengan membuat terasering dengan fondasi permanen. Agar areal tanam makin luas dan hasil makin besar. Karena saya ingin kumpul uang untuk bangun rumah.” Jelasnya.

Sistem pendampingan oleh Panah Merah, dimata James sangat bagus dan seharusnya diikuti oleh pemerintah. Karena kebutuhan utama petani adalah informasi teknologi pertanian modern dan pendampingan yang intens. Dan apa yang dilakukan oleh Panah Merah seharusnya didukung. Karena sudah terbukti sangat bagus. “Saya sudah buktikan dengan pendampingan yang intens hasil juga bagus.” Ujarnya memuji.

Dukungan keluarga bagi James sangat berarti dan makin bersemangat untuk menekuni dengan serius, bahkan ia berniat menjadikan sebuah usaha profesional. Tujuan utamanya adalah merekrut tenaga kerja dari pemuda dikampungnya agar memberdayakan mereka.

Di RT 12 desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang tempat tinggalnya, ini James sebutkan kendala utama adalah pendampingan PPL, air, dan lahan berbatu. Jika pemerintah bisa membuat sumur bor, dan mendekatkan sumber air ke lahan petani, maka mereka akan bisa mengolah tanah mereka.

Terkait pemasaran, James mengusulkan agar pemerintah membantu dengan pengendalian harga pasar agar bisa memberi hasil bagi petani. Karena pengepul selalu ingin mengambil dengan harga yang rendah dari petani. Ia usulkan kepada pemerintah membuat jalur pemasaran yang memberi kesejahteraan bagi petani.

Yang unik didesa ini, anggota kelompok tani adalah para pemuda. Bahkan ada yang berprofesi sebagai PNS namun mau merambah dunia pertanian hortikultura. Artinya pendeta Marko sedang membuat pengkaderan petani.

Dengan merekrut pemuda sebagai anggota kelompok tani, maka James berharap bisa mengurangi penggangguran, sehingga para orang muda tidak berpikir untuk pergi bekerja sebagai TKI.

Kendala lain adalah tenaga PPL yang lebih banyak tidak memiliki dasar pendidikan khusus pertanian.
Hal lain adalah pembagian bibit lewat Dana Desa yang belum  sesuai kebutuhan  petani. Karena kebutuhan kelompok tani hortikultura adalah bibit Tomat, Cabe dan buncis. Sedangkan yang dibeli oleh pemerintah desa adalah jenis sayur-sayuran seperti kangkung, sawi, dan kacang panjang. Ia berharap pemerintah desa lebih lakukan pendekatan dengan kelompok tani agar pemberian bibit tepat sasaran.

Kendala lain adalah kelangkaan pupuk. Baik jalur, proses dan jumlah. Sering karena proses ini maka seringkali pupuk datangnya tepat. Sudah selesai masa tanam baru pupuk sampai. Dan ini jadi kendala utama.

Kepada pemerintah kabupaten Kupang dan provinsi NTT James berharap agar memberi perhatian lebih bagi petani karena petani adalah garda terdepan bagi kekuatan sebuah  bangsa. Jika sebuah negara tidak ada petani, artinya tidak ada makanan, dan akan ada kelaparan. Dan negara akan keluarkan anggaran besar untuk ekspor makanan dari negara luar. James nyatakan bahwa profesi petani adalah unsur penting yang harus didukung oleh pemerintah. Karena kehidupan dan kekuatan bangsa dimulai dari desa lewat bidang pertanian. ■■juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *