Devit Oekoto,SPt, Abdikan Ilmu Managemen Pertanian Lewat Budi Daya Hortikultura

Kota, Top News NTT■■Devit Oekoto (26 thn), warga JlN.Oe’ekam, RT 13 RW  5 Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, petani hortikultura lulusan Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Awal tahun 2017 setelah wisuda, diploma 3 jurusan Managemen Pertanian Lahan Kering ini memulai budi daya pertanian hortikultura dengan  menanam bawang merah. Awalnya, jujurnya akui menanam ini  sebagai uji coba ilmu yang sudah dipelajari akibat belum punya pekerjaan, sehingga  ia mau mencoba bertani dan tanaman hortikultura yang dipilihnya. Hal ini dikisahkan Devit kepada Media ini pada Selasa, 13/3/2019.

Memilih pertanian hortikultura sebagai profesi,  dengan pertimbangan bahwa dirinya  adalah sarjana pertanian, lahan ada, sumber air ada walau tidak melimpah sampai musim kering namun jika dikelola dengan instalansi irigasi tetes, dan berharap bidang pertanian akan memberikan peluang bisnis yang bagus. Selain itu  karena sejak kecil ia dan keluarganya sudah hidup dari hasil pertanian.

Devit Oekoto berpose didepan tanaman buncisnya

Devit melihat bahwa kendala petani NTT masih belum sejahtera dan pertanian belum dilirik serius oleh investor karena pola pertanian petani NTT (termasuk orangtuanya) yang masih belum tepat atau pola konvensional.  “Yang menanam padi, dan sayur tomat tapi  hasilnya  biasa-biasa saja. Hanya untuk makan dan sebagian untuk dijual tapi hasilnya tidak terlalu banyak. Inilah penyebab teknik pertanian yang dulu dilakoni bapak yang masih  konvensional sehingga hasilnya tidak bisa jadi bisnis pertanian. Dan setelah wisuda Oktober 2016, sempat cari-cari pekerjaan, tapi tidak dapat dan buat stres apabila masih jadi beban orang tua. Maka saya memilih menekuni budi daya pertanian Hortikultura dengan tiga alasan , yaitu : hasil lebih banyak, waktu lebih singkat, dan memberi hasil yang bagus.” Cetusnya perlahan.

Saat dalam kondisi terbebani oleh fakta bahwa  dirinya yang  sarjana pertanian dan orangtua punya tanah, ia memberi motivasi kepada dirinya sendiri, menapa tidak coba kelola tanah dengan ilmunya?

Keputusan menanam bawang merah karena ia belum memiliki  modal. Setelah konsultasi dengan David Keni Hae dan Darius Panbo (pendamping Roda Tani yang juga adalah teman sekelas saat kuliah), maka ia dianjurkan untuk tanam Bawang Merah TUP-TUP produksi Panah Merah yang berupa bijian bibitnya sehingga harus disemai dulu.

Dengan  beli 1 kilo Rp1.800.000 dengan modal pinjaman dari bapaknya Izaskar Oekoto sebanyak Rp.2.000.000 Devit memulai budi daya pertanian hortikultura pada Juni 2017.

Awal, aku Devit, bapaknya tidak setuju dengan alasan masa kuliah tiga tahun hanya jadi petani. Namun ia yakinkan bapaknya ini tanam uji coba saja. Kalau tidak berhasil ia janji ke bapaknya untuk cari kerja lagi. Dan bapak setuju. Mama dan bapak awalnya tidak setuju. Tapi karena di kasih keyakinan maka bapaknya setuju.

Juni 2017 mulai semaikan bibit bawang dengan pendampingan David dan Darius. Dari semaikan dan ditanam dilahan seluas 3 are (300 m2), masa tanam dan semai tiga bulan. Panen Oktober 2017, hasilnya mencapai 1,2 ton yang laku dijual seluruh Rp.20 juta yang di bagi dua dengan saudara yang sama-sama kerja. Jadi bersihnya ia dan saudaranya peroleh Rp.8.000.000 dan mereka semua senang. Dan saat itu digelar panen simbolis dan undang wakil walikota Kupang dr.Herman Man. Dan sejak panen perdana bawang merah 1,3.ton itu, sikap dan pandangan orangtua kepadanya berubah total.

Untuk musim tanam berikutnya, malah Devit beranikan diri  meminjam Dana KUR di BPR Pitoby pada Mei 2018 sejumlah Rp.10.000.000 tanpa jaminan, hanya dengan foto rumah dan lokasi sawah. Dan orangtuanya mendukung penuh rencana itu karena sudah melihat. Dan sejak awal sejak PKL di Jawa dan keberhasilan petani di Jawa, dan kebetulan ada lahan luas 50 are (1/2 hektar) dan lahan juga ada mata air maka Devit berpikir untuk serius menekuni bidang pertanian. Sudah tiga kali tanam dan dua kali panen. Panen kedua hasilnya memang belum memuaskan karena cuaca panas dan air yang kurang sehingga dari modal Rp.10 juta Devit tanam bawang dengan bibit 1 kilo setengah dilahan seluas 40 are kerja bersama dengan kakalnya. Panen November 500 kilo sekilo Rp.7.500 dan total prnghasilan hanya Rp.4.000.000.

Waktu lihat hasilnya hanya seperti itu, maka Devit sempat kecewa karena sudah terbeban dengan pinjaman di BPR Pitoby. Devit sempat mau stop tanam dan mau cari kerja. Tapi karena karena sudah masuk musim hujan lagi akhirnya putuskan untuk tanam kembali pada Januari 2019. Luas lahan 3 are dengan setengah kilo.

Dan pada saat ini Devit putuskan untuk tetap akan jalani profesi bertani, Dengan pertimbangan akan gunakan irigasi tetes agar penghematan air. Hambatan dilahannya cuma kekurangan air. Dan sumur bor.

Setelah berjalan masa tanam tiga kali fan dua kali panen, (walau sempat akan bertani), akan coba tanam tanaman yang lain. Dengan melihat peluang pasar.

Dan ia ingin jadikan pertanian sebagai bisnis yang bisa merubah kehidupan ekonominya dan keluarga.

Sebelumnya Devit tidak sempat melihat pertanian sebagai profesi serius. Pemikiran untuk lirik bidang ini setelah ia diwisuda dan terjun langsung. Karena ia sempat berpikir untuk jadi penyuluh. Tapi setelah jalani pertanian hortikultura lebih menjanjikan masa depan. Sehingga ia ingin serius tekuni karena hasilnya sangat bagus, waktu tanam sampai panen lebih cepat walau cost lebih tapi hasil akan mrningkat jika penanganannya bagus.

Untuk orang muda Devit melihat ada gengsi menjadi petani. Jika ada lahan jangan gengsi dan mulai melirik pertanian. Karena harus ada regenerasi petani. Alasan karena petani yang ada sudah tua..jika mereka.sudah tidak ada maka siapa yang akan bekerja beri kita makan. Karena semua orang butuh makan dan petani adalah profesi yang hasilkan stok makanan. Profesi petani sangat penting harus ada regenerasi.

Devit tetap.berkomitmen menjalani profesi petani hortikultura dan kegagalan kecil akan tetap jadi motivasi untuk tetap jalani.

Kekurangan air dan tenaga kerja ikut memberi dampal kepada motivasi. Dan ia beremcana akan atasi dengan irigasi tenaga jika ada modal ingin buat bak penampung air hujan dan sumur gali yang lokasi sawah mereka. Dan jika usaha pertaniannya berhasil, ia akan berdayakan kawan-kawan main di kelurahanya untuk ikut kelola tanah.

Rencananya ia akan jadikan budi daya hortikultura lebih serius dengan lahan lebih luas dan tanaman bervariasi. Dan jadi pionir pertanian hortikultura di Sikumana.
Devit yang punya tujuh orang saudara kandung dari orangtua bapa Izaskar Oekoto dan  mama Yakobet Oekoto – Nifu.**Juli.BR

Sumber wawancara langsung pada Selasa,13/3/2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *