DANIEL BOLLE APRESIASI PERAN GURU SMAN 10 KUPANG DAN ORANGTUA, “MAKIN PRO-AKTIF DUKUNG SISWA BELAJAR ONLINE”

KUPANG, TOP News NTT■■ Ditengah KBM daring yang harus dijalankan di dunia pendidikan di Indonesia, tentu banyak kendala yang dikeluhkan oleh sekolah, siswa dan terutama orang tua.

Akibat sistem KBM yang berubah tiba-tiba karena Pandemi Covid-19, belajar harus dari rumah,  tiga komponen : SEKOLAH, SISWA DAN ORANGTUA harus merubah semua habit yang sudah berlangsung sekian puluh  tahun dalam dunia pendidikan dari MANUAL ke ONLINE,  dari memakai buku dan balpoint serta mendengar penjelasan langsung atau tatap muka beralih ke menggunakan HP Android dan beberapa media pembelajaran online seperti GOOGGLE CLASS ROOM, ZOOM, POWER POINT, WHATTS APPLICATION (WA).  Yang semuanya membutuhkan kemampuan menguasai teknologi, kemampuan intelektual menyerap pelajaran yang tinggi,  karena siswa harus mampu menyerap dan mengolah sendiri materi pelajaran yang dikirim entah  berupa materi vidio dengan penjelasan maupun materi pasif. Dan yang paling miris dari sistem belajar online adalah  hanya tercipta komunikasi satu arah : yaitu antara siswa, HP dan media sosial serta materi,  tanpa komunikasi tanya jawab interaktif antara guru dan siswa.

Kondisi ini tentunya memberi rasa frustasi bagi siswa karena tidak bisa bertanya langsung. Bagi guru pun tentu ada ketidak puasan atas penyampaian materi yang hanya berlangsung sepihak. Dan bagi orangtua harus menambah peran lain menjadi guru di rumah dan penambahan beban biaya membeli hp dan pulsa data untuk mendukung kbm daring. Di tengah pandemi hal-hal ekonomi menjadi beban berat bagi orangtua.

Namun ada tanggapan positif dari kepala SMAN 10 Kupang dan guru-guru bahwa justeru kondisi yang berubah dan tidak bisa dihindari ini malah membawa beberapa dampak positif baik bagi dirinya  kepala sekolah, guru, siswa dan orangtua.

Media ini menyambangi SMAN 10 Kupang dan mencoba mencari gambaran seperti apa pelaksanaan pembelajaran Daring dan Luring di sekolah itu, efek positif dan negatif, dan tanggapan sekolah dan siswa serta peran ketiga unsur dalam mendukung KBM dalam masa pandemi ini. (Selasa, 13/10).

Ditemani Kontradus Siku Uran,S.Pd wakasek Sarpras dan Rosalina R.A.D Yewang,S.Pd Wakasek.kurikulum, kasek Drs.Daniel Bolle menuturkan secara gamblang kepada media ini.

Kasek SMAN 10 Kupang Drs.Daniel Bolle, Rosalina R.A.D Yewang,S.Pd Wakasek.kurikulum dan Kontradus Siku Uran,S.Pd wakasek Sarpras

Dari hasil evaluasi dirinya sebagai kasek dan guru, bahwa justeru bagi  SMAN 10 Kupang yang berada diwilayah pinggiran kota Kupang yaitu di kelurahan Fatukoa, Kecamatan Alak yang baru berkembang bahkan sinyal Telkom pun masih terganggu, malah ada kemajuan yang walau sedikit memberi sebuah semangat, bahwa masa pandemi tidak menjadi penghalang bagi keberlangsungan dunia pendidikan.

Dampak itu yakni guru, siswa dan orangtua yang awalnya tidak menguasai teknology, malah sejak pandemi “terpaksa” mau belajar menguasai teknology demi menolong siswa tetap bersekolah.
“Kehadiran dan peran guru makin meningkat justeru di masa pandemi, jika sebelumnya waktu belum pandemi ada saja guru ijin dengan berbagai alasan, sekarang di masa pandemi malah guru selalu hadir di sekolah dan meng-upload materi pelajaran dan tugas.  Para siswa juga malah jauh lebih pro-aktif mengakses pelajaran lewat media-media tersebut, dan jika mereka kehabisan pulsa data atau hp hang karena full oleh materi pelajaran, siswa rela datang sekolah ketemu guru pelajaran, guru pembimbing dan wali kelas untuk mengambil hard copy materi pelajaran dan tugas yang disiapkan sekolah. Orangtua pun makin pro-aktif jika dipanggil berkenaan dengan absensnya siswa di googgle form dan siswa tidak mengirim, sudah tugas mau datang ke sekolah dan mau komunikasi jika guru berkunjung. Itu efek positif yang kami evaluasi sejak Maret 2020 hingga saat ini.” Jelas Drs.Daniel Bolle kasek SMAN 10 Kupang di ruang kerjanya (Selasa, 13/10).

“Semua kekurangan tersebut kami kesampingkan demi menyajikan sebuah sistwm pembelajaran yang dapat menolong siswa untuk dapat mengakses materi pelajaran.  Dan yang menjadi tolok ukur evaluasi adalah nilai-nilai tugas, ulangan harian dan penilaian tengah semester dan akhir semester.” Ujar Rosalina R.A.D Yewan,S.Pd Wakasek.kurikulum menambahkan, yang menemani Daniel Bolle dalam wawancara kami.

Bagi orang tua, lanjut Daniel yang baru bertugas setahun di SMAN 10 Kupang ini,  peran orangtua juga alami  peningkatkan,  jika selama ini orang hanya menyerahkan semua proses  siswa belajar ke guru, maka dengan belajar online dari rumah, orang tua harus ikut mengawasi, mengingatkan siswa agar displin membuka hp untuk mengakses materi dan tugas.

“Peran orangtua meningkat dengan dibangunya  komunikasi dua arah dengan guru  lewat home visit oleh guru pelajaran dan wali kelas untuk siswa yang tidak absen di googgle form dan mengirim tugas yang sudah dikerjakan.” Ujarnya senang.

“Langkah KBM yang diambil di SMAN 10 Kupang sudah sesuai dengan edaran gubernur dan Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang ditambah dengan  beberapa  edaran sekolah  yang diteruakan  kepada orang tua lewat grup wa.” Jelas Daniel Bolle.

Awal pandemi, menurut Daniel, semua KBM dilaksanakan dari rumah baik oleh guru dan siswa.
“Tapi sejak masuk TA Baru 2020/2021 guru masuk sekolah dan siswa belajar dari rumah, tapi ada yang siswa belajar luring datang ke sekolah ambil materi dan kerjakan tugas. 260 siswa belajar daring, 40 siswa belajar luring.” Jelasnya.

Walau  sampai saat ini para guru dan siswa SMAN 10 Kupang belum peroleh data gratis  dari Telkomsel, namun KBM tetap berjalan.
“Bahkan yang datang ambil copian materi dan tugas bukan hanya  siswa yang tidak punya android, siswa yang punya android tapi terkendala oleh datapun  pasti datang ke sekolah ambil materi pelajaran dan tugas. Itu niat keras yang kami lihat dari para siswa kami.” Tandas Daniel.

Saat media kunjungi sekolah ini, di ruang guru sedang dilaksanakan penilaian Tengah Semester (ujian Mid Semester).
“Jika ada kendala maka wali kelas akan lakukan kunjungan rumah. Media yang dipakai adalah googgle class room, wa grup dan power point serta vidio.” Jelas Daniel lagi.

“Kendala bagi siswa dan guru adalah ketidakmampuan menyiapkan hp dan pulsa data.  Walau dari sekolah ada pemberian subsidi uang pulsa data untuk dua bulan (Rp50 ribu untuk siswa yang memiliki hp yaitu 260 siswa) tapi hanya untuk diawal-awal pandemi saja disubsidi baik untuk siswa dan guru.” Jelasnya.

” Walaupun di tengah Pandemi dan terjadi recofusing anggaran besar-besaran di bidang pendidikan, dirinya bersama staf tetap akan konsisten terhadap kebutuhan siswa akan pelaksanaan kurikulum.”

“Kendala lain, banyak siswa memiliki hp android tapi type dan kapasitas hp terbatas maka guru berusaha memberikan materi yang bisa di lakukan. Bukti kehadiran adalah dari absen elektronik lewat google form. Kadang tidak menjamin siswa benar-benar dengan mengakses semua format yang dibuat sekolah. Pihak sekolah tetap aktif membangun komomunikasi dengan siswa dan orangtua.” Jelas Rosalin menambahkan.

Daniel beharap kedepannya,  pihak pemerintah NTT lewat Dinas Pendidikan bisa memperhatikan lagi sekolah apakah semua sistem dan kebijakan sekolah sudah memberi ruang bagi pengembangan sekolah dan peningkata  mutu dan kualitas pendidikan dan pendidik.

Harapan lain adalah  dibukanya akses  jaringan Telkomsel masuk ke lokasi sekolah sehingga sekolah bisa memasang wifi (Indi Home)  agar guru dan siswa dapat melakukan KMB online, karena biaya mungkin bisa lebih murah karena pembayaran bisa di pusatkan dalam satu tagihan daripada membagi-bagi biaya pulsa data. Sehingga siswa yang tidak punya hp android dapat dibantu pihak sekolah belajar dengan media komputer dan infocus.

Dari hasil evaluasi pembelajaran selama pandemi tidak dipungkiri memang ada kemunduran dalam penguasaan materi, aku Daniel.
“Namun, sesuai edaran Kementerian Pendidikan untuk mengabaikan  sebagian penilaian agar tidak memberatkan siswa. Terutama kepada para guru, karena sistem upload materi dan tugas pelajaran bagi siswa tetap berjalan sesuai tuntutan kurikulum yang selama ini dipakai. Upload pembelajaran tetap berjalan sesuati roster. Pelajaran yang butuh penjelasan seperti matematika dan kimia dan fisika kami buat dengan vidio pembelajaran. Dan guru-guru semua sudah ikut pelatihan In House Training.” Jelas Daniel.

“Keluhan siswa hanyalah pada kerinduan KBM Tatap Muka. Apalagi siswa SMAN 10 Kupang tinggal sekitar kelurahan Naioni dan Fatukoa. Tapi saat ini peran orangtua ditingkatkan menjadi pengawas bagi siswa di rumah. Dan siswa dan orangtua serta guru karena kebutuhan KBM Daring, terpaksa harus belajar teknologi. Bahkan saya  juga akui dirinya diajarkan oleh Ibu Rosalin menggunakan ITE seperti Power Point dan Googgle Class Room. Jadi bagaimana pun ada efek baiknya juga KBM Daring, bagi siswa, guru dan orangtua, walau ada negatifnya juga.” Jelasnya mengakui.

Peningkatan lain adalah pada penggunaan  kertas untuk memprint dan copy materi serta soal tugas dan ulangan juga tidak berkurang karena jika tidak ada pulsa data  maka siswa yang online bisa datang ke sekolah untuk mengambil fotocopy materi dan ulangan. Jadi bisa saja siswa yang luring akan lebih dari 40 siswa.

“Kami  malah berharap pandemi cepat berlalu agar semua berjalan normal kembali sehingga bisa diterapkan lagi sistem pembelajaran normal. Karena  cara belajar dan mengerjakan soal dengan  kompensasi waktu yang banyak, sebabkan  siswa bisa menggunakan banyak referensi materi dari buku dan di internet untuk menjawab soal. Sehingga jujur malah nilai siswa seratus.” Tandas Kuntradus Siku Uran,S.Pd menambahkan.

Diakhir wawancara Daniel Bole mengungkapkan harapan agar  pemerintah  tetap mendukung sekolah dengan menambahkan sarpras yang masih kurang seperti  lab komputer, lab bahasa, kimia dan Fisika.
“Yang sekarang yang  ada disekolah hanya satu ruangan yaitu  lab biologi, tapi yang ada malah alat-alat kimia jadi dipakai untuk lab kimia.  Kami juga kekurangan empat ruang kelas baru untuk menampung 12 rombel dengan jumlah siswa 300 orang, kami butuh 12 kelas, jadi masih kurang 4 ruang kelas baru (rkb). Yang tersedia saat ini hanya 8 ruang kelas.  Untuk menampung 300 siswa dengan 12 rombel, pihak sekolah mengakali menyekat ruang perpustakaan menjadi dua untuk dipakai menjadi satu ruang kelas dan perpustkaan, serta ruang UKS yang kami berdayakan juga sebagai kelas.” Jelas Daniel.

Untuk perpustakaan koleksi masih butuh walau ada pengadaan dan pembelian lewat dana BOS, sedangkan ketersediaan komputer saat ini hanya ada 26 unit, yang jika masih menggunakan ujian online maka tidak mencukupi. Butuh sampai 30 unit.

Di SMAN 10 Kupang saat ini memiliki 32 guru yang terdiri dari guru PNS 17 orang dan guru honor 15 orang  ( honor kontrak provinsi 1 orang, guru tambah jam 1 orang, dan lainnya guru honor dana BOS 13 orang).
“Untuk melayani kebutuhan 300 siswa masih kurang sebenarnya, karena kami butuh  guru lakukan  home visit.” Ujar Daniel menambahkan.

“Harapan kami  adalah semoga pemerintah bisa meningkatkan kerja sama dengan pihak sekolah agar sekolah bisa meningkatkan juga  pelayanan dan kualitas pembelajaran bagi siswa, terutama dalam masa pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir.” Ujar Daniel berharap. ■■ juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *