BNNP NTT Kembali Ungkap 4 LKN dari Target 6 LKN di 2020, Pengedar Berasal Dari Luar NTT

NTT, TOP News NTT■■BNNP NTT berhasil ungkap 4 LKN (Laporan Kasus Narkoba) dari target 6 Kasus untuk tahun 2020 (periode 1 Januari -31 Desember 2020).
“Pengungkapan kasus 4 LKN ini berlangsung sejak April hingga September 2020 oleh BNNP NTT dengan jumlah tersangka sebanyak 7 orang.” Jelas Brigjen Pol Teguh I. Wahyudi Kepala BNNP NTT dalam press cinfresse bersama awak media pada Kamis, 8/10 di Aula Utama BNNP NTT.

Dari ke 7 tersangka tersebur, jelas Wahyudi yang baru bertugas selama 2 tahun di NTT,  4 tersangkanya  masih dalam proses hukum atau sidik dan belum P21.

Dalam pengungkapan tersebut disita Barang Bukti berupa  Barang Bukti Narkotika yaitu Shabu seberat 0,5855 gram dan tembakau Brasil seberat 5 gram. Sedangkan Barang Bukti  Non-Narkotika berupa 3 buah HP. Ketujuh tersangka didakwa melanggar masing-masing UU No.35 Pasal 114, 112, dan 127.

Dari 7 tersangka tersebut, 6 orang berjenis kelamin laki-laki dan 1 orang berjenis kelamin perampuan.  Korban berinisial berjenis kelamin laki-laki antara lain IS, PS AS, DS, RS, RL dan DP. Sedang tersangka inisial AL berjenis kelamin perempuan. 4 orang dikenai proses hukum dan 3 tersangka dikenai  proses rehabilitasi  karena dianggap  tidak cukup bukti.
“Di wiliyaha NTT  sejak saya bertugas tahun 2018 sampai  2020, pada  setiap  pengungkapan, tersangka (oeang NTT) hanyalah merupakan pemakai, bukan pengedar.  Sementara pengedar biasanya berasal dari luar NTT.” Jelasnya merinci.

Trend yang terjadi untuk kasus di NTT, menurut Wahyudi, narkotika didapatkan  lewat komunikasi  lewat hp, media sosial seperti  wa dan lain-lain ke pengedar di luar NTT. Jalur pasar ini terjadi, menurut Wahyudi lantaran harga beli narkotika dari luar NTT lebih murah dibandingkan beli di NTT.
“Proses selanjutnya, barang di kirim lewat ekspedisi. Ada juga dimasukkan dalam barang-barang  termasuk barang elektronik buah melalui kapal ada yang melalui JNE  dan JNT dan ekspedisi barang-barang resmi seperti kontainer dan truck. Jadi selama ini kami menangkap pengedar di wilayah  provinsi  NTT selalu kita pengembangannya di Surabaya, Jakarta, Bandung dan sebagainya.” Ujar Wahyudi.

“TKP penangkapan ketujuh  tersangka pertama di kabupaten Belu, TKP kedua di Kota Kupang, ketiga di kabupaten Sikka, TKP 4 di TTS, dan TKP kelima di TTS, merupakan pengembangan dari tersangka di TTS. Dan dari hasli pengembangan di TTS BNNP NTT  berhasil tangkap 1  tersangka di Gresik,  Jawa Timur.” Jelas Juli Beribe plt.Kabid.Pencegahan dan Pemberantasan.AKP. Yuliana Lito Beribe, SH
Jabatan Kepala Seksi Penyidikan dan sebagai Plt. Kabid Pemberantasan.

Menurut Juli, masa pengintaian dan penyelidikan biasanya  3 -6 bulan. Namun dalam pengungkapan keempat LKN dengan 7 tersangka ini berlangsung dari April hingga September 2020. Informasi diperoleh  dari masyarakat dan jika dinilai faktor kebenaran mencapai  60 -70 persen baru dilakukan penangkapan oleh personel BNNP NTT bekerja sama dengan BNNK.
“Jika akurasi informasi dinilai masih 30 persen, maka dibutuhkan  6-2 tahun untuk  bksa sampai pada proses penangkapan.” Jelasnya lebih rinci.

“Proses pengkapan pertama dilakukan pada  April, kedua pada Juni 2020, ketiga pada  Juli,  penangkapan keempat di  TTS pada Agustus 2020, dan penangkapan kelima dengan TKP  Soe dilakukan pada September  2020.” Jelasnya lagi.

BNNP NTT, menurut Wahyudi berkomitmen untuk memenuhi target  7 LKN tahun  2020.  Bagi BNNP NTT ia Optimis  bisa mencapainya.
“Untuk mencapai bahkan melebihi target, saya minta dukungan semua pihak, keluarga, masyarakat, pemerintah, komunitas, organisasi pemuda, organisasi masyarakat, seluruh stakeholder di NTT terutama media, guna membantu mengamati dan melaporkan jika ada kejadian dan orang atau kelompok yang menunjukkan kepada indikasi penyalahgunaan dan penyebaran narkoba, maka harus diinformasikan. Laporkan ke BNNP dan kepolisian guna dilakukan pengintaian, penyelidikan dan penangkapan.” Tandasnya meminta.

Sedangkan upaya BNNP NTT  untuk meminimalisir masuknya  narkoba ke NTT adalah  bekerja sama dengan semua instansi terkait dan elemen masyarakat bahkan jasa pengiriman barang /ekspedisi terkait pengiriman barang yang di curigai. “Karena modus paling banyak lewat  ekspedisi bahkan abk kapal dll.”ujarnya.
“Narkotika yang dipakai oleh pengguna 20 persen  masih narkoba. Dalam masa pandemi ini bahkan cenderung  ada peningkatan penyalahgunaan  narkoba akibat  orang sudah begitu lama dalam rumah dan narkoba dipakai untuk hilangkan kebosanan dan stres.” Ungkapnya.

BNNP NTT inginkan ada penambahan BNNK di daerah-daerah rawan pengesaran dan penyalahgunaan narkoba namun  karena recofusing dan moratorium sebabkan kekurangan  anggaran.■■ juli br</b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *