BI Perwakilan NTT Tertibkan KUPVA Tidak Berizin Di Atambua

NTT, TOP NEWS NTT ■■ BI Perwakilan NTT gelar Penertiban KUPVA Tidak Berizin
dalam rangka melaksanakan amanat Peraturan Bank Indonesia (PBI)
No.18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank, Bank Indonesia selaku Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) KUPVA Bukan Bank
atau dikenal dengan istilah “money changer”, telah melaksanakan kegiatan
penertiban terhadap pihak-pihak yang masih melakukan kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin di Atambua. Bank Indonesia melakukan kegiatan ini juga bekerjasama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pada awal Agustus 2019, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Privinsi NTT telah
melakukan kegiatan pemetaan (mapping) untuk memperoleh informasi penyelenggara penukaran valuta asing bukan bank tanpa izin di Atambua.

Dari hasil mapping ditemukan 10 penyelenggara yang melakukan transaksi valuta asing tanpa izin. Kemudian, pada tanggal 19 sampai dengan 20 Agustus 2019 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLDA NTT) melakukan kegiatan penertiban yang dilaksanakan terhadap pelaku kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin. Penertiban ini dilakukan terhadap 4 penyelenggara, 2 penyelenggara diantaranya telah menghentikan kegiatannya, 2 penyelenggara lainnya dalam proses pengajuan izin ke Bank Indonesia.

Sementara 5 penyelenggara lainnya sudah tidak melakukan kegiatan transaksi valuta asing dan 1 penyelenggara tidak beroperasi pada saat penertiban. Dari jumlah yang ditertibkan tersebut, pihak-pihak dimaksud memiliki kegiatan usaha diantaranya yaitu berupa : toko emas, toko klontong/sembako, toko handphone maupun usaha lainnya.

Sejauh ini, pihak-pihak yang ditertibkan telah bersikap kooperatif sehingga kegiatan penertiban dapat berjalan dengan lancar dan kondusif. Pelanggaran yang ditemukan di lapangan selain kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin, terdapat atau ditemukan juga beberapa pelaku usaha yang memasang tanda izin palsu.

Terhadap seluruh pelaku kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin yang
terkena tindakan penertiban, telah ditempelkan stiker penertiban sampai dengan yang bersangkutan mengajukan izin usaha KUPVA ke Bank Indonesia.

Selanjutnya BI akan memonitor pemenuhan komitmen dari pihak-pihak tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Kepada pihak-pihak yang telah dikenakan pemasangan stiker penertiban di lokasi usaha, dilarang keras untuk merusak, melepas, atau memindahkan stiker penertiban dimaksud, dengan ancaman pidana sesuai Pasal 232 KUHP.

Sebelum melakukan penertiban terhadap pelaku KUPVA tidak berizin, Bank
Indonesia telah melakukan upaya persuasif melalui himbauan untuk mengajukan
izin ke Bank Indonesia, antara lain melalui sosialisasi maupun langsung mendatangi lokasi usaha.

Pihak-pihak dimaksud, diminta untuk menandatangani surat pernyataan yang berisi kesanggupan untuk menghentikan kegiatan usahanya dan segera mengajukan izin kepada Bank Indonesia.

Selain itu, Bank Indonesia juga
melakukan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan awareness terhadap
KUPVA BUKAN BANK tidak berizin.

Saat ini jumlah KUPVA bukan bank di Provinsi Nusa Tenggara Timur sampai
dengan Agustus 2019 sebanyak 10 penyelenggara KUPVA Bukan Bank dan 6
penyelenggara jual beli Uang Kertas Asing (UKA) di kawasan perbatasan (Atambua).

Bank Indonesia menghimbau agar pelaku KUPVA tidak berizin lainnya segera
menghentikan kegiatan usahanya dan mengajukan izin ke Bank Indonesia apabila ingin melakukan kegiatan jual beli valuta asing. Dalam hal ini perlu kami tekankan kembali bahwa pengurusan izin di BI gratis tanpa dipungut biaya apapun.

Kegiatan penertiban akan dilakukan secara berkelanjutan di seluruh wilayah
Indonesia, dan Bank Indonesia bersama Kepolisian akan terus melakukan evaluasi
atas kegiatan penertiban yang telah dan akan dilakukan. Ke depan, Bank Indonesia
akan terus memantau kegiatan penukaran valuta asing tidak berizin secara masif
melalui seluruh Kantor Perwakilan Bank Indonesia di seluruh Indonesia.

Di samping itu, Bank Indonesia juga akan melanjutkan ke proses hukum apabila terdapat KUPVA yang melakukan tindak kejahatan.

Kepada masyarakat dihimbau untuk selalu menggunakan KUPVA yang telah
memperoleh izin Bank Indonesia karena selain kurs yang ditetapkan oleh
penyelenggara pada saat transaksi adalah kurs yang wajar serta diawasi oleh Bank
Indonesia. Selain itu, masyarakat juga dihimbau agar dapat menginformasikan ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT atau melalui call center BI 131, jika menemukan pihak-pihak yang diduga melakukan kegiatan penukaran valuta asing tanpa izin.

Kepada penyelenggara KUPVA BUKAN BANK berizin diingatkan kembali
untuk tidak bekerjasama dan bertransaksi dengan pelaku yang tidak berizin. Bank
Indonesia akan memberikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang melanggar
ketentuan dimaksud.

Bank Indonesia turut menghimbau agar penyelenggara penukaran valuta asing
maupun masyarakat berhati-hati apabila terdapat pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab yang memanfaatkan kegiatan penàertiban dengan
mengatasnamakan Bank Indonesia. Terhadap hal ini, Bank Indonesia akan menindak tegas para pelaku tersebut melalui upaya hukum dengan
pihak Kepolisian.

Untuk mengetahui keabsahan/legalitas petugas yang melakukan penertiban,
masyarakat maupun penyelenggara dapat menghubungi:
1. Departemen Surveilans Sistem Keuangan, Bank Indonesia untuk wilayah kerja Kantor Pusat, dan/atau
2. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT. ■■ editor : Juli br/Top News NTT

Sumber : SP BI Perwakilan NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *