Besa Anin : ” Kami Minta Pemprov NTT Kembalikan Pantai Lasiana Yang Dulu”

NTT, Topnewsntt.com., Kondisi Pantai Wisata Lasiana pasca Reklamasi pada 2016 lalu, tidak menampakkan kemajuan layaknya sebuah obyek pariwisata pantai. Nampak dalam pengamatan media ini sejak pagi pantai ini sepi pengunjung. Hanya beberapa gelintir pengunjung yang berpasangan maupun kumpulan kecil nampak duduk di beberapa Lopo yang ada di bagian utama pantai bagian timur dan barat yang dipisahkan oleh seng bercat hijai dan bangunan kafe OCD. Bagian  barat pantai OCD dan masih merupakan bagian dari obyek wisata Lasiana, demikian juga kondisinya. Pada 6 lopo kecil beratap seng yang hampir  sebagian sudah hilang, bocor dan berkarat, nampak satu dua pasangan pengunjung duduk sebemtar tidak lebih dari dua jam dan beranjak pergi tanpa membeli penganan kelapa dan pisang gepe yang dijual  satu-satunya penjual bernama Besa Anin (40 th), pedagang kecil di pantai Lasiana Kupang. Dari deretan 20 los kios kecil yang ada hanya tersisa Besa Anin seorang yang masih setia berjualan.

Saya hampiri mama penjual yang ditemani anak gadis kecilnya itu duduk dibangku kiosnya dan memesan satu porsi pisang gepe seharga Rp.12.000 yang terdiri dari 4 buah pisang yang di taburi keju parut dan disiram susu kental manis coklat dan segelas kopi panas  hitam kapal api. “Beta sudah berjualan sejak tahun 2006. Dan sisa beta  sa yang bajual sekarang. Sejak diambil alih oleh pemprov NTT dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTT, malah makin sepi pantai ini dari pengunjung.” Kisah Besa Anin sambil mengupasa empat buah pisang setengah matang dan mulai membakarnya diperapian arang didepan kiosnya. Dengan lesu Besa Anin yang hanya tamatan SMA dan sudah menikah serta memiliki dua puteri kecil ini mengisahkan jika dirimya bertahan berjualan disini karena inilah profesi mamanya sejak dirinya masih kecil dan ia merasa sayang jika tidak melanjutkan. Kelesua Besa Anin sama persis seperti kisah mirisnya akan nasib pantai Lasiana  kebanggaan mereka masyarakat sekitar lokasi pantai ini terhadap kondisi pantai setelah reklamasi tahun 2016. Besa ungkapkan kesedihannya bahwa pemprov NTT seperti menganak tirikan bagian barat pantai Lasiana. Setiap tahun hanya bagian Timur Lasiana yang di reklamasi. Bahkan air, listrik dan mck hanya dibangin dibagian timur. Sedangkan bagian barat tanpa listrik dan air
Bahkan mck yang ada dibagian barat adalah milik pribadi tuan tanah..

” beta  lihat bahwa pengelolaan oleh  pemprov NTT  tidak ada pemerataan padahal luasan wilayah pantai Lasiana ini cukup luas. Karena yang direklamasi hanya disekitar panggung besar dengan merenovasi panggung lama dan lopo dan wc. Tapi lokasi dibagian barat sini seperti dianak tirikan. Sejak ambil bangunan jualan ini dari pemkot tahun 2006 dengan retribusi Rp.10.000. Dan sejak 2013 diambil alih oleh pemprov NTT namun tidak diperhatikan seluruhnya. Lopo sudah berlubang sengnya. Sudah berulang kali jika orang dinas pariwisata pemprov NTT datang kami sampaikan, namun masih tetap seperti ini. Seng lopo yang sudah berlubang dan kami minta listrik,  tapi jawabannya selalu belum ada angaran. Padahal setiap tahun ada anggaran  rehab yang dilaksanakan oleh pemprov NTT pada lokasi pantai Lasiana sebelah timur. Sedangkan sebelah barat belum pernah direhab. Bahkan listrik, air dan mck  juga belum ada di bagian barat sini. Ada mck pribadi milik tuan tanah Opa Mesak. Setiap tahun terus berganti kadis pariwisata namun janji saja.masih belum juga diperhatikan. Apalagi dengan pembangunan adanya pembangunan tembok batas oleh Dispar Provinsi NTT  yang membatasi wilayah pariwisata Lasiana sebelah timur dan Cafe OCD milik Ody Mesakh dan pantai Lasiana sebelah barat yang tidak diketahui oleh Pemilik OCD. Sehingga warga sekitar Pantai Lasiana yang menjadi penjual di sini mempertanyakan tujuan pembangunan pagar batar bercat hijau oleh dispar prov NTT yang dibangun setelah reklamasi panggung pada 2016.” Kisah Besa Anin lirih sambil menyajikan pisang gepe dan kopi hitam panas.

Dalam  pengamatannya yang polos sebagai masyarakat dan pedagang di lokasi pantai ini,  Besa merasa malah setelah penataan malah makin sepi pengunjung yang datang, karena makin sempit wilayah pantai Lasiana ini. Pengunjung baik asing dan domestik makin berkurang. Besa melihat faktor penataan bangunan yang membuat makin sempit ruang gerak pengunjung adalah satu faktor penyebab disamping tidak tersedianya air bersih di mck yang dibangun pemprov NTT.  “Seperti dulu hanya ada sebuah panggung dan wilayah pantai luas dan bersih buat pengunjung bebas bergerak, bermain di pantai, berenang, dan duduk lesehan pasir beralas tikar. Pembangunan pagar batas bibir pantai malah menurut Besa malah membatasi kebebasan pengunjung ke pantai karena pembuatan pagar disebelah dalam buat tangga turun tapi tangga naik malah tidak ada  sehingga pengunjung ingin turun ke pantai jadi sulit karena harus panjat tembok yang lumayan tinggi. Besa sesalkan bahwa makin di reklamasi makin kacau kondisi pantai destinasi wisata andalan kota Kupang yang sejak 2013 diambil alih pengelolaannya oleh Pemprov NTT. Padahal setiap tahun ada anggaran pemeliharaan pantai ini.” Ujar Besa ungkapkan perasaan sesalknya.

Besa nyatakan kerinduannya agar mungkin ada harapan baik sejak pelantikan pasangan gubernur dan wakil gubernur NTT yang baru ada perhatian pengelolaan pantai ini. Terutama bagian sebelah barat. Malam, keluh Besa, karena kondisi gelap akibat tidak ada listrik bagian barat ini sepi pengunjung. Batas sampai jam 6. Jadi sama seperti bukan obyek wisata. Dan ini semua berakibat fatal bagi pendapatan pedangang kecil diareal pantai wisata ini.

Sebelum ada reklamasi bisa sampai malam penghasilan bisa sampai Rp.100.000 lebih. Jika ada event dipantai penghasilan bisa sampai Rp.300.000. Dibandingkan dengan kondisi setelah ada reklamasi, malah penghasilan turun dratis dibawah Rp.50.000. Bahkan ada kondisi dimana sepi pengunjung atau pengunjung hanya duduk saja maka pedangang tidak dapat penghasilan sama sekali. Hal ini sejak 2016 setelah reklamasi.

Harapan Besa bagi pengelolaan pantai ini bagi Dispar Prov  adalah agar ada perubahan. Jangan ada blok timur dan barat setelah ada pembangunan pagar batas. Saya ingin agar pemprov bisa kembalikan lasiana seperti dulu sebagai pantai pariwisata yang dulu dikenal. Agar ekonomi kreatif bisa bergerak maju lagi bukan seperti sekarang ini. Apalagi pariwisata ada hubungan antara pariwisata dan ekonomi kreatif. Jadi bagaimana ekonomi kreatif bisa maju jika tidak ada dukungan pemerintah bagi pemberdayaan dan dukungan anggaran, baik bagi pengembangan usaha dan pengelolaan pantai pariwisata sebagai lahan pencarian buat mereka masyarakat sekitar lokasi pantai Lasiana ini.

Besa yang adalah lulusan SMA Kristsn tahun 1997 ini berharap pemerintah lewat Dinas Pariwisata Provinsi terutama kepada Bapak Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan wakil gubernur NTT Yosef A.Nae Soi bisa serius lakukan perubahan pengelolaan pada pantai pariwisata Lasiana ini. Agar keindahan dari pantai ini jangan hilang karena reklamasi yang tidak tepat sasaran.

Dengan sedikit kesedihan Besa, ibu beranak dua ini mengenang masa dibawah tahun 2016 dimana pantai ini masih menjadi primadona bukan karena direklamasi dengan bangunan yang tidak benar yang justru merusak keindahan. Pembangunan bronjong dibibir pantai justru membuat sampah dan mengurangi wilayah pantai yang dulu luas dan paling diminati pengunjung malah sekarang orang malas ke pantai karena sudah tertutup pagar. Pembuatan bronjong dengan banyak batu dan kawat tipis dinilai Besa bisa membahayakan biota laut dan membuat pengunjung tidak bebas bermain di pantai. Karena jika musim hujan dan banjir maka kawat itu bisa lepaskan batu-batu ke dalam laut. Dan banyak sampah dilaut. Kisah Besa akhiri perbincangan kami. “”)) juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *