BBKSDA Provinsi NTT Akan Lepas 6 Komodo Dan 26 Kura-Kura Leher Ular Ke Habitatnya

NTT, TOP NEWS NTT, ■■ BKSDA Provinsi NTT berencana akan menerima dari Polda Jatim 6 ekor Komodo hasil curian dari NTT yang akan dilepaskan kembali ke Pulau Ontoloe dan Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung Kabupaten  Ngada Komodo pada 15 Juli 2019.

Selain ke 6 ekor Komodo tersebut, rencananya pada 26 Juli 2019 akan dilepaskan juga 26 ekor kura-kura langka leher ular asal Rote Ndao yang merupakan  hasil penangkaran di Negara Singapura.

Hal ini dijelaskan oleh Kabid.Teknis MHD.Zaidi.,S.Hut membuka kegiatab jumpa pers dan coffee morning bersama insan media pada Kamis, 11 Juli 2019 di Ruang Rapat BBKSDA Provinsi NTT.

Kepala BBKSDA Provinsi NTT Ir.Timbul Batubara,M.Si saat itu didampingi tiga stafnya masing-masing; Kepala Bidang Teknis MHD.Zaidi,S.Hut, Kasie Pemanfaatan dan Pelayanan Mugi Kurniawan,S.Hut, Kasie Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Imanuel Ndun,S.S.T.,M.Si.

Imanuel Ndun, Kasie P3  menjelaskan alasan mengapa ke-6 Komodo hasil Tangkapan Polda Jatim dikembalikan ke pulau Rinca karena memang sesuai hasil uji genetika,  DNA Ke 6 Komodo ini sama seperti yang ada di pulau Riung, Flores Utara, sehingga hanya bisa dilepaskan kesana. Memang ada juga ditemukan komodo ditempat lain di NTT namun, hasil tangkapan Polda Jatim paling mirip dengan DNA Komodo di Pulau Riung. “Sesuai aturan konservasi harus dilepaskan ke Riung, Flotim karena sudah sesuai hasil uji dari BKKSDA bahwa genetik dari komodo ini mirip dengan yang ada di Flores Utara.” Jelas Ndun.

Sedangkan Kura-kura langka leher ular asal  pulau Rote Ndao yang sudah hampir punah, namun  berhasil  dikembangbiakkan di Singapura, menurut Kepala Bidang Teknis MHD.Zaidi,S.Hut, adalah jenis yang hanya ada di Kabupaten Rote Ndao, dan hampir punah. “Namun berhasil dikembangkan  di Singapura dan  akan dilakukan repatriasi dan dikembalikan ke Rote Ndao.” Ujar Zaidi.

Kura-kura leher ular yang sudah punah asal Kab.Rote Ndao yang sudah punah namun berhasil dikembangbiakkan di Singapura

Selain informasi tersebut, Batubara  juga menjelaskan terkait program  koservasi dengan konsep “Tiga Pilar” yang dibuat  melalui pendekatan antara tiga pilar yaitu pemerintah, tokoh adat dan tokoh agama  atau “wisata berbasis adat.”

“Konsep Tiga Pilar akan atau  bernunsa “nature n cukture.”  Seperti pendekatan agama di obyek Wisata Alam Menipo yang  merupakan miniatur dari pulau Timor yang masih alami. Di lokasi wisata ini ada buaya yang sangat dekat dengan masyarakat dan hidup  dalam situasi yang penuh harmonis.” Jelas Wiratno yang baru bertugas selama 6 bukan di NTT.

Terkait proses sampai pelepasan, dijelaskan Timbul  bahwa kedua satwa ini setelah diterima dari Polda Jatim dan Singapura,  untuk sementara akan ditempatkan dalam  kandang milik kantor BKKSDA Provinsi NTT untuk diadapsi lagi dengan lingkungan NTT. Dan saat pelepasan ke habitatnya akan dilaunching dengan  mengundang Menteri Kehutanan.

Konsep melibatkan masyarakat untuk  ikutl lakukan pengawasan agar masyarakat bisa mencintai sebagai perpanjangan pemerintah dalam melindungi dan merawatnya sebagai obyek wisata alam asli dan satu-satunya di NTT. BKKSDA Provinsi NTT akan menggandeng masyarakat dalam upaya pelestarian dan penjagaannya sehingga menjadi wisata berbasis konservasi.

Ir.Timbul Batubara.,M.Si menjelaskan konsep wisata berbasis “Tiga Pilar” masyarakat sudah dicanangkan dalam  kegiatan HKSN 2019 di Batam 5-8 Juli 2019 yang mengangkat Thema : “Spirit Konservasi Alam Minute Milenial.” Yang punya arti  menjadikan keseimbangan dan harmoni antara culture and nature. Antara pemerintah dan masyarakat, masyarakat dengan obyek wisata konservasi, tokoh agama dengan wisata konservasi. Dan semua harus diharmonisasikan dengan baik.

Khusus untuk NTT dengan konsep konservasi NTT dengan Thema Konservasi milenial dan Tiga Pilar. (Tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah).■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *