April 2019 NTT Alami Inflasi 0,51%, Pemicu Terbesar Naiknya Bahan Makanan & Transpor

NTT, Top News NTT,” Provinsi NTT kembali alami deflasi sebesar  0,51% pada April 2019 setelah sebelumnya alami deflasi sebesar  0,31% pada Maret 2019. Inflasi dipicu oleh kenaikan pada 5 kelompok pengeluaran, dan kenaikan terbesar datang dari  bahan makanan dan Transpor.
Inflasi April 2019 dipicu oleh kenaikan terbesar yang datang dari kelompok bahan makanan  yang alami kenaikan sebesar 1,50% dan kelompok transpor sebesar 0,73%. TPID NTT harus extra waspada, kendalikan harga. Apalagi jelang Bulan Puasa dan Idul Fitri 2019.” Jelas Kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwaellapia pada pres com bersama media Kamis, 2/5/2019 di BPS NTT.

Kenaikan pada komoditi atau kelompok pengeluaran bahan makanan (1,50%) dengan andil 0,36%. Bahan makanan yang naik  seperti bawang putih dan  merah 0,05% harga naik dua kali lipat sampai Rp.80 ribu per kilo.

Penyebabnya adalah karena cuaca yang jika  hujan tinggi produksi rusak demikian juga pada hasil pertanian lainnya seperti  cabe rawit dan beberapa jenis sayuran. Hasil produksi ikanpun alami kenaikan  (0,05%) seperti ikan ekor kuning dan ekor merah (0,05%). Sedangkan kelompok pengeluaran   angkutan dan  komunikasi naik  (0,37%). Dari kelompok  pengeluaran bahan makanan penghambat seperti ikan kembung, ayam ras (0,01%), jelas Maritje menambahkan.

“Jelang puasa dan ramadhan akan ada kenaikan pemicu inflasi. Moga TPID NTT mampu menahan laju kenaikannya agar jangan terjadi inflasi lebih besar. Demikian juga harga tiket pesawat jadi pemicu inflasi terutama di Maumere. Kelompok kesehatan, dan komoditi kesehatan ikut memicu inflasi dan makanan jadi (0,01%). Rokok juga naik (0,05%). Air kemasan juga alami kenaikan karena produksi yang kurang sedangkan permintaan naik ikut picu inflasi dengan andil (0,01%).” Jelas Maritje lebih lanjut.

“Dengan melihat pola kenaikan ini, maka secara year on year pada April 2019 untuk NTT alami kenaikan. Sedangkan April 2018 NTT alami deflasi sebesar 2,7%.” Jelas Maritje memberi kesimpulan..

Kelompok perumahan dan sandang justeru alami penurunan harga sebesar 0,03% dan 0,04%.

Dua kota sample IHK yaitu Kota Kupang alami inflasi sebesar 0,58%, sedangkan Kota Maumere alami deflasi terendah secara nasional yaitu 0,04%.

Dari 82 Kota sample IHK Nasional, 77 kota alami inflasi dan 5 Kota alami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Medan sebesar 1,30% dan inflasi terendah terjadi di Kota Pare-Pare sebesar 0,03%. Deflasi terbesar terjadi di Kota Manado sebesar 1,27% dan terendah di Maumere sebesar 0,04%.

Sedangkan nilai tukar petani turun 0,25% jika dibandingkan NTP pada Maret 2019. Tapi Maret ke April alami penurunan artinya apa yang diterima petani alami penurunan dari apa yang diterima petani. Indeks yang diterima petani jauh lebih kecil dari pada sektor lain. Karena dalam dua bulan ini belum panen dan petani harus alami pengeluaran ekstra untuk konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.

Di pedesaan alami inflasi year in year 0,26% cukup tinggi dan akan sangat mengganggu ekonomi petani. Artinya posisi ini kurang menguntungkan para petani.

NTUP indeks naik 0,13% dari 131,41 naik menjadi  131,72%.

Ekspor NTT Maret 2019  masih ke RDTL dan alami kenaikan senilai US$ 1.174.125 dengan volume sebesar 4.743 ton atau alami kenaikan sebesar 9,49% dari eksppr Pebruari 2019 yang sebesar US$ 2.072.314. Nilai ekspor masih datang dari migas US$ 144.290 dan non migas senilai  US$ 1.029.835. Sedangkan komoditas ekspor yang dikirim ke RDTl adalah sebesar US $ 1.174.125, dan terbesar adalah kendaraan dan bagiannya (87) senilai US$ 166.270.

Sedangkan impor NTT pada Maret 2019 adalah dari Malaysia senilai US$ 9.592.837 dengan volume sebesar 19.161 ton dan komoditas terbesar adalah BBM (27).

Komulatif nilai ekspor ekspor US$ 3.376.483 terbesar terhadap kumulatif nilai impor sebesar US$ 17.226.717 maka pada tahun 2019 terdapat defisit sebesar US$ 14.850.234.■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *