Mengenal konsep Freedom of Study Johnson G.Dethan ,M.Div, Ketua Yayasan Servas Mario Kupang.

LNTT, TOP News NTT ■■ Managemen Yayasan Servas Mario Foundation yang menaungi Universitas San Pedro NTT  sudah beralih ke managemen baru yang dipimpin oleh Pendeta Gereja Calvinis Reformasi ICHTHUS (The Calvinist Reformed Church) NTT,  Johnson Gibeon Dethan, M.Div (49 tahun).

1Pria berdarah Rote asli yang menyelesaikan pendidikan Teologi dibawa para Missionary Luar Negeri di Waimarangu, Sumba Timur dan menyelesaikan S2 (Master of Divinity) di Canada tahun 1997, secara resmi menerima alih kelola organ atau jabatan Ketua Yayasan Servas Mario Foundation dari Ketua Yayasan sebelumnya Patty Servianus Mario pada 17 Januari 2020 melalui kesepakan  dan penetapan bersama dimana legalitasnya  dikukuhkan  Akte Notaris di Kupang.

Hal ini disampaikan oleh Pendeta Johnson G.Dethan dan Notaris  Albert Riwukore SH,  pada awak media dalam jumpa pers Selasa, 21 Januari 2020 di kantor Rektorat Universitas San Pedro Kupang.

Pada waktu yang sama, Ketua Yayasan yang lama, Patty Servianus Mario berharap agar managemen yang baru bisa membawa Universitas San Pedro ke arah Reformasi pendidikan yang tinggi yang berkualitas, bukan hanya dari segi akademik saja, namun juga mental, etika serta kemampuan belajar dalam dua bahasa (bilingual studies), sehingga bisa bersaing di dunia kerja.

Hal yang menarik dari pemaparan managemen baru adalah konsep freedom of study-nya Pendeta Johnson Dethan yang diakuinya sejalan dengan konsep Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Makarim. Konsep unik inilah yang akan dipakai  dalam managemennya sebagai  strategi dalam memimpin dan mengarahkan Universitas San Pedro ke depan.

Konsep freedom of study  yang dimaksud oleh pendeta Johnson adalah kebebasan bagi para tenaga pendidik dan peseta didik dalam menyelenggarakan pendidikan. Konsep freedom of study  ini telah dilaksakankannya sejak 15 tahun yang lalu di sekolah-sekolah Reformasi yang dikelola oleh pendet Johnson Dethan.  Yang memberi kebebasan bagi setiap tenaga pendidikan (guru)  dan anak didik harus  diberi kebebasan untuk belajar dan berinovasi mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga Perguruan Tinggi.

Kebebasan ini tertuang dalam  5 prinsip dasar yaitu prinsip knowing, understanding, doing, inovating serta Character Dan Attitude.

Pendeta Johnson yang juga mengelola Yayasan Pendidikan Reformasi  yang menaungi berbagai  Lenin dari 20 sekolah  yang tersebar di NTT bahkan di Palu, Sulawesi Tengah. Selain mengelola sekolah-sekolah ini, Johnson Derhan dan teman-temannya juga mengelola sebuah Sekolah International di Malang, Jatim.

Bagi pendeta yang beristerikan Merrylin Dethan-Deboer ini,  mempersiapkan pendidikan untuk menyiapkan generasi yang berkualitas dan siap menghadapi dunia global bukanlah hal sulit baginya. “Semua bisa terwujud jika kita memiliki prinsip dasar bahwa semua yang kita lakukan adalah dari, oleh dan untuk kemuliaan Tuhan. Karena Dia-lah sumber segala hikmat dan pengetahuan dan berkat. “Pendidikan yang benar dan berhasil guna harus berdasarkan Firman Tuhandan harus sesuai dengan  kehendak Tuhan.” Ujar Johnson mantap.

Dengan konsep “Freedom of Study” Johnson mempunyai  mimpi besar semoga  setiap lulusan dari Universitas San Pedro bisa memberi nilai tambah bagi bidang profesi  yang digelutinya dalam hidupnya kelak. “Study for life NOT study fit grade” atau “belajar untuk hidup bukan belajar untuk sekedar peroleh nilai.”  Saya ingin Universitas San Pedro menghasilkan lulusan yang bukan saja ahli dibidangnya acara akademis, tapi yang paling utama selalu berivonatif dalam hidup dan kerja .” Tandas ayah yang memiliki 5 orang putera dan 2 orang puteri ini.

“Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mendapat informasi tentang Universitas San Pedro, saya  langsung tertarik untuk ikut terlibat membangun pendidikan tinggi disini. Apalagi saya sudah mengenal pak Mario sejak lama, karena kita berdua sama-sama mengurus sekolah. Pak Servas waktu itu mengurus NCIPS sementara saya mengurus Sekolah-Sekolah Reformasi sejak 1998.  Sampai sekarang saya sudah membantu mendirikan  25 sekolah termasuk Sekolah-Sekolah Internasional di Malang dan yang  di Palu. Dalam mengerjakan semua ini saya tetap memegang  prinsip yang sama yaitu apapun yang kita kerjakan haruslah untuk kemuliaan Tuhan.  Apalagi di NTT ini banyak sekali anak-anak Tuhan, maka   tugas kita adalah menyiapkan generasi penerus gereja, keluarga, bangsa dan negara untuk kemuliaan Tuhan. Saya tadi bicara dengan romo dan jugs dengan bapak bupati Kupang bagaimana kita siapkan generasi penerus NTT  karena saya anak kabupaten, saya bertanggung jawab menyiapkan generasi yang berbeda yaitu yang berkualitas, yang berskill tinggi, yang bermental terpuji dan yang berkarakter surgawi. Kita semua bisa tamatkan pendidikan dan sarjana tapi what is the result? What is the goal? Tujuan dari sekolah ini apa? Itu yang ingin kami perjelas dan pertajam lewat lembaga ini. Saya tidak ingin ada lulusan insinyur pertanian tapi hasilkan dibawah petani yang hanya berpendidikan SD. Itu sangat memalukan menurut saya. Seharusnya seorang insinyur pertanian bisa menghasilkan ribuan bahkan ratusan ribu ton persawahan. Para sarjana kita banyak tapi what is the result? Banyak lulusan pertanian misalnya bekerja dibidang lain. Sayang sekali karena waktu dan uang terbuang.” Ujarnya lagi.

“Alasan lain kenapa saya ingin terlibat di Universitas  San Pedro adalah karena kesadaran bahwa pendidikan merupakan pintu menuju sukses. Saya ingin membuat di Universtas San Pedro seperti di Sekolah Reformasi agar bisa menguasai dua bahasa. Saya ingin merubah kurikulum seperti buah pikiran Bapak Makarim Menteri Dikbud yang menyatakan kita perlu pendidikan yang memiliki kebebasan belajar atau freedom of study. Tidak belajar seperti dalm penjara. Tidak belajar seperti sedan dijajah oleh guru, oleh sistem dan oleh otak kita sendiri.  Saya melihat kita sering dijajah oleh pola lama dan enggan keluar dari konsep penjajahan belajar lama. Kita harus berani membuat terobosan pada sistem pendidikan kita di NTT Bahkan di seluruh Indonesia. Saya waktu memberi sambutan pendek saya di depan  pak Gubernur saya sampaikan bahwa kita orang NTT ini pintar-pintar tapi kenapa kita tidak bisa maju dari NTT. Ada satu mistake atau kekeliruan yang terjadi dalam sistem pendidikan kita dan kita harus berani keluar dari situ jika ingin maju. Kita HARUS Berani mengoreksi diri kita  dan mencari jalan keluar dengan merubah sistem ini yaitu membuat anak-anak kita agar misalnya jangan  belajar matemika hanya untuk jadi ahli atau  profesor matematika, tapi belajar matematika untuk bisa menghitung dan menyusun budget atau cost membangun rumah sendiri, mendirikan usaha sendiri atau menghitung  cost hidupnya sendiri.” Lanjutnya mengungkapkan konsepnya tentang pendidikan.

Hal lain yang Ingin dibuatnya, jelas Johnson  adalah ingin datangkan para investor dibayar untuk  melatih anak-anak didik di Univeraitas San Pedro agar tahi bagaimana memanfaatkan ilmunya untuk hidupnya.

Pendeta Johnson ungkapkan bahwa saat ini  problem dalam dunia pendidikan NTT adalah hanya hasilkan lulusan yang setelah lulus tidak tahu mau ngapain dengan ijasah dan ilmunya. Menurutnya jika ingin wujudkan lulusan yang berkualitas dan berguna maka para  lulusan harus  bisa menciptakan pekerjaan bukan hanya mencari pekerjaan. Oleh karena itu maka sejak dalam bangku kuliah harus ada pembinaan dan edukasi yang mengarahkan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.

“Ajakan saya bagi masyarakat NTT  “Kirimlah kayu-kayu  bakar dan akan kami jadikan mereka menjadi anak panah-anak panah yang tajam” lewat Universitas San Pedro.” Jelas Johnson.

Program lain yang akan  dituangkan dalam kurikulum di Universitas San Pedro yaitu  akan diadakannya  kolaborasi antara ilmu akademik dengan kehidupan sehari-hari dilingkungan pendidikan.”Kami sudah programkan akan menghadirkan anak-anak daerah NTT yang sudah berhasil diluar NTT bahkan luar negeri untuk menjadi nara sumber ilmu sukses bagi mahasiswa agar mereka bisa hubungkan  tujuan ilmu akademik  dengan hidup,  bukan semata-mata  mencari nilai atau belajar teori dari buku. Kita ingin  buat terobosan baru dengan  komposisi 40 persen ilmu dan 60 persen praktek, serta inovasi diri dengan  penuh karakter rohani dan surgawi.  Semua ini kami lakukan  demi masa depan NTT. Kolaborasi dengan para pengusaha Dan para CEO yang  berhasil dengan demikian mereka bisa  merekrut para lulusan Universitas San Pedro  untuk dipekerjakan pada perusahan-perusahaan mereka yang ada di Indonesia.” Ungkapnya bersemangat.

Kami sudah bicarakan rencana kerja kami dengan  CEO-CEO dan pembisnis sukses yang siap mengajar secara part time atau short time yaitu dengah memberi seminar serta kuliah umum di Universitas San Pedro.” Ungkap Pendeta Johnson yang sangat fasih berbahasa Inggris ini.  ■■ juli b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *