Ini konsep membangun pariwisata NTT menurut Jesuino Dos Reis Matos

NTT, TOP NEWS NTT ■■  Consulat RDTL untuk NTT Jesuino Dos Reis Matos ternyata punya kepedulian dan cara pandang istimewa bagi pembangunan pariwisata NTT. Dalam bincang santai kami diruangan kerjanya, (Rabu, 13/11), pria 40-an tahun yang baru saja dua minggu menjabat consulat ini mengungkapkan konsep membangun pariwisata NTT yang menurutnya memiliki beberapa kesamaan.

Menurut Jesuino pariwisata NTT sangat indah, eksotik, unik dan tiada duanya.  Namun masih banyak obyek pariwisata yang belum dikelola dengan baik dari aspek infrastruktur sebagai sarana pendukung dan managemen tata kelola yang menarik. “Sebagai contoh papan petunjuk dan brosur obyek destinasi yang menarik di NTT belum ada baik di pinggir jalan, mobil travel, bis, pesawat terbang, restoran, penginapan, dan ruang publik lain sehingga jika orang berkunjung ke NTT bisa memilih kemana menghabiskan waktu dan uang mereka. Seperti keluarga saya akhirnya memilih berlibur ke Bali karena saat sampai ke Kupang minim sekali informasi tentang obyek wisata yang bisa kami kunjungungi. Padahal NTT kaya. Pemerintah provinsi NTT harus bisa mengalihkan destinasi wisatawan ke destinasi wisata NTT. Kami orang Timor Leste punya uang, tapi ketika ada di Kupang bingung mau kemana. Karena tidak ada papan petunjuk, brosur tentang destinasi wisata yang menarik untuk kami kunjungi. Akhirnya kami ke Bali.”tandas Jesunio mengungkapkan sambil tersenyum.
Pemerintah provinsi NTT, anjur Jesuino harus  membangun infrastruktur pendukung  di semua obyek pariwisata sehingga menarik lebih banyak wisatawan baik nusantara,  mancanegara maupun lokal.

Ia memuji NTT yang kaya akan potensi pariwisata baik potensi alam dan buatan, budaya, seni tari kuliner, tenun ikat NTT yang eksotis. Dan itu kekayaan luar biasa yang tiada duanya.”NTT sangat eksotis dan kaya akan potensi pariwisata baik alam maupun buatan, seni budaya, kuliner, adat istiadat, kain tenun ikat dan lain-lain. Tiada duanya.” Ujar Jesuino memuji.

Selain itu, pariwisata NTT dan RDTL bisa dibangun dengan menggalakkan hasil kerajinan dari seluruh komponen Pohon Lontar yang ada di kedua wilayah. “Kita oramg Timor Leste dan NTT memiliki beberapa kesamaan hubungan karena faktor keturunan dan kebiasaan hidup. Seperti kebiasaan menyadap lontar untuk menghasilkan tuak, gula cair dan padat dan produk makanan ikutan lainnya sebagai oleh-oleh. Di Timor Leste hampir masyarakat pesisir pantai hampir sama dengan orang Sabu dan Rote memiliki pohon ajaib Lontar. Jenis kerajinan yang dihasilkan dari seluruh komponen pohon lontas seperti anyaman daun yang menghasilkan tikar, keranjang (Boti) motifnya hampir sama, penggunaan atap rumah dari daun lontar, batangnya dibuatkan tiang rumah dan sangat kuat konstruksinya, kesamaan lain adalah kita sama memiliki kain tenun ikat yang sama hampir sama motifnya. Kita bisa membuat festival dan pameran bersama, dan membuat  sentra-sentra industri yang akan menghidupkan  industri  pariwisata masyarakat. Kesamaan sda yang ada hubungan dengan sosial budaya dan adat itu yang bisa kita bangun sebagai bentuk kerja sama.” Ujarnya menyarankan.

Jesuino juga memikirkan peningkatan sarana transportasi darat, laut dan udara antar kedua wilayah untuk meingkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke kedua wilayah. Bahkan orang Timor Leste dengan penghasilan yang besar seharusnya memilih NTT sebagai destinasi wisata, tidak lagi ke Bali. Yang menarik dari saran Jesuino adalah jika pemprov NTT membuka jalur laut, menghadirkan kapal penumpang dan kapal pesiar wisatawan mamcanegara bisa memilih jalur laut sebagai alternatif.■■juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *