Markus Raga Djara : “Narkotika adalah Extraordinary Crime dan senjata dalam Proxy Crime, ini upaya seksi Pencegahan”

NTT, TOP NEWS NTT ■■ Demikian pernyataan kasie Pencegahan bidang P2M BNNP Provinsi NTT Markus Raga Djara,S.H, M.Hum saat pers release bersama media Jumat, 4-10-2019 di aula BNNP Provinsi NTT.

Hal ini dinyatakan Markus bukan tanpa alasan karena melihat data BNNP Pusat makin maraknya kasus penyalahgunaan dan penyebaran gelap narkoba dan penetapan kawasan rawan narkotika di Indonesia dan saat  di NTT bahkan sudah terdata (berdasarkan 8 indikator pokok dan 5 indikator pendukung) sebanyak 17 kawasan rawan penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkotika di NTT, yaitu di Labuan Bajo,  Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat; kelurahan Kamalaputi, kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur; Desa Wailiti, kecamatan Alok Bara, Maumere, Kabupaten Sikka; Kelurahan Oesapa, kecamatan Kelapa Lima, kota Kupang; Desa Silawan, kecamatan Tasifeto Timur, kabupaten Belu; Kelurahan Kampung Baru, kecamatan Kota Waikabubak, kabupaten Sumba Barat dan Kelurahan Alak, kecamatan Alak, kota Kupang.

Foto bersama staf BNNP NTT dan Media usai pers release

Markus menyatakan bahwa penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba sudah menjadi extraordinary crime yang bisa dipakai sebagai proxy war untuk melumpuhkan kekuatan sebuah bangsa. Oleh karena itu kejahatan ini harus diberantas dan ditangani secara komprehensif.
“Narkoba saat ini adalah sebuah  extraordinary crime yang dapat dijadikan proxy war  untuk lumpuhkan kekuatan sebuah bangsa, harus diberantas dan ditangani secara kompreshensif. Dan Indonesia saat ini sudah jadi sasaran pasar terbesar peredaran narkoba dunia yang dikendalikan oleh jaringan nasional dan internasioal. Seperti pernyataan presiden RI Joko Widodo pada awal pemerintahanya bahwa Indonesia berada dalam situasi darurat narkoba dan beliau serukan perang besar terhadap segala bentuk kejahatan narkoba. Seruan  tegas presiden inilah yang mendorong BNN sebagai lembaga negara yang bertugas laksanakan pemerintahan dibidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia lewat strategi demand reduction (tindakan preventif untuk berikan kekebalan bagi supllay reduction lewat penegakan hukum yang tegas dan terukur agar sindikat narkotika jera.” Pungkas Markus diawal penjelasannya.

Di NTT, BNNP NTT sudah lakukan berbagai langkah-langkah preventif tersebut, dengan tujuan memberikan kekebalan sehingga meningkatnya imunitas masyarakat dari penyalahgunaan narkotika. “Ini langkah solusi paling tepat untuk matikan pangsa pasar narkotika di NTT. Selama tahun 2019, BNNP NTT sudah lakukan kegiatan Pencegahan berupa advokasi dan diseminasi informasi. Pertama advokasi pembangunan berwawasan anti narkoba di instansi pemerintah dan swasta (5 advokasi) adalah advokasi progran pembangunan yang menjamin adanya kebijakan, program, kegiatan dan anggaran pada instansi pemerintah dan swasta yang berorientasi pada upaya pencegahan. Tujuan advokasi adalah meningkatkan komitmen dan sinergi dalam penanganan permasalahan narkoba melalui program pembangunan berwawasan anti narkoba di instansi pemerintah dan swasta. Sasaran advokasi adalah meningkatkan partisipasi instansi pemerintah dan swasta dalam program pencegahan penyalahgunaan narkoba, tingkatkan keterpaduan penanganan penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkotika disector pemerintah dan swasta, serta mendukung target terkendalinya laju prevelensi penyalahgunaan narkoba.” Papar Markus.

Upaya lain adalah dengam penyebaran informasi kepada semua komponen bangsa lewat program advokasi (DIPA) yakni : rapat sinergitas dengan instansi pemerintah dan swasta sebanyak dua kali,  asistensi penguatan pembangunan berwawasan anti narkoba dan evaluasi pelaksanaan advokasi pembangunan berwawasan anti narkoba yang kesemuanya dilakukan di kabupaten TTS.

“Sedangkan desiminasi informasi PG4N dengan melibatkan elemen masyarakat, instansi pemerintah dan swasta, tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk sama-sama perangi penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkotika dengan komitmen bahwa permasalah narkotika adalah tanggung jawab bersama sehingga pola pencegahan dan pemberantasannya harus secara terpadu lewat proram P4GN.” Tandas Markus lagi.

Desiminasi yang  sudah dilaksanakan antara lain di kota Kupang yakni Desiminasi informasi melalui kampanye stop narkoba lewat pagelaran seni; di kabupaten Kupang dan Kota Kupang adalah melalui instert konten; melalui media cetak (harian Timex dan VN), melalui media cetak luar ruangan di 5 titik luar ruangan; melalui plaecement (penayangan TV Daerah) sebanyak 1 kali; radio daerah atau lokal sebanyak dua kali (Suara Kasih dan Swara Timor).

Sedang 3 rencana program yang belum dilaksanakan yaitu diseminasi informasi melalui talkshow, branding sarana publik dan media online.

Program lain adalah sosialisasi bahaya narkoba non-DIPA dengan pesan tagelin “STOP NARKOBA” melalui mobil P4GN di arena Car Free Day pada setiap Sabtu maupun atas permintaan instansi pemerintah, swasta, elemen masyarakat. “Dengan sosialisasi ini BNNP NTT berharap dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyalahgunaan dba peredaran gelap narkotika.” Ujar Markus.

Sosialisasi, menurut Markus sudah dilakukan sebanyak 36 kali di Kota Kupang yaitu tentang bahaya narkoba di Arena CFD El Tari Kupang dengan sasaran sekitar 50 orang, sosialisai bahaya narkotika di lingkungan sekolah dan kampus di kota Kupang sebanyak 38 kali dengan sasaran sekitar 12.810 siswa dan mahasiswa, dan sosialisasi bahaya narkotika lewat publikasi media cetak dan online di Kota Kupang sebanyak 100x.■■ Juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *