Kelurahan Oesapa Rawan Bahaya Narkotika? Ini Respon Positif Kiay Kia Lurah Oesapa

KUPANG, TOP NEWS NTT ■■ Kelurahan Oesapa ditetapkan oleh BNNP  NTT lewat hasil evaluasi dan pendataan Seksi Pemberdayaan sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba di NTT,  yang di rilis oleh Seksi Pemberdayaan  (Lia Novika Ulya, kasie) kepada media dalam pers release Jumat, 4/10/2019 di Aula Rapat BNNP NTT.

Kepada awak media, Lia ungkapkan Keluarahan Oesapa adalah salah satu diantara 6  kawasan lainnya yang dalam kondisi rawan selain Kelurahan Alak di kpta Kupang.

Selengkapnya 7 kawasan itu antara lain Labuan Bajo,  Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat; kelurahan Kamalaputi, kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur; Desa Wailiti, kecamatan Alok Bara, Maumere, Kabupaten Sikka; kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang; Desa Silawan, kecamatan Tasifeto Timur, kabupaten Belu; Kelurahan Kampung Baru, kecamatan Kota Waikabubak, kabupaten Sumba Barat dan Kelurahan Alak, kecamatan Alak, kota Kupang.

Di kota Kupang sendiri terdapat terdapat dua kawasan yaitu di kelurahan Oesapa dan  kelurahan Alak.

Lurah Oesapa Kiay Kia lewat pesan whats app dan telepon langsung kepada media ini pada Sabtu, 5/10/2019 menanggapi secara positif penetapan wilayah kerja sekaligus wilayah tempat  domisilinya  ini sebagai kawasan rawan bahaya narkotika.

Kiay menyatakam  bahwa penetapan itu  sangat baik dan ia tanggapi biasa-biasa saja karena mungkin pernah ada penangkapan pemakai atau pengedar di wilayah ini. Secara positif, Kiay bahkan menyatakan bahwa penetapan  ini  untuk mengingatkan semua elemen di kelurahan ini untuk waspada, awasi dan ikut menjaga wilayah ini  sebagai tindakan preventif penyalahgunaan dan pemberantasan pengedaran gelap narkotika.
“Kita malah pernah ditetapkan sebagai Kelurahan Bersinar oleh BNNK Kupang untuk membuat kita waspada  agar bekerja bersama memberantas narkoba.” Ujarnya.

Ia memaklumi dan berterima kasih kepada BNNP NTT yang memberi warning lewat penetapan tersebut agar seluruh elemen bisa waspada, awasi, bahkan  pro aktif ikut memberikan informasi bagi BNNK Kupang dan BNNP NTT jika ada temuan indikasi penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba.

Penetapan ini menurut Kiay beralasan karena diakuinya bahwa kawasan kelurahan Oesapa memang sangat rentan terjadi kedua kejahatan narkotika tersebut karena beberapa alasan.
“Oesapa  jika berdasarkan 8 indikator pokok dan 5 indikator pendukung memang layak dikatakan sebagai kawasan rawan. Fakta  pertama adalah karena  banyaknya kos-kosan atau hunian beresiko yang terbanyak mahasiswa (orang muda) yang terus berganti saat tahun ajaran baru. Sehingga Oesapa sangat memungkinkan munculnya kejahatan narkotika.  Kedua yakni Oesapa adalah locus perdagangan sehingga menjadi titik temu banyak orang dari berbagai daerah lewat jalan laut dan darat  dengan keempat kabupaten (Kabupaten Kupang, TTS, TTU dan Belu) serta antar negara yakni RDTL. Di Oesapa kan jadi titik kumpul transaksi ekonomi dan daerah transit penumpang bis dan mobil travel baik dari keempat kabupaten di wilayah NTT dan antar negara RDTL. Titik kumpul ini bisa saja jadi locus transaksi gelap narkoba. Bisa jadi pasar yang potensial untuk transaksi gelap jual beli narkoba. Belum lagi jalur laut, dengan adanya pasar ikan dan pasar tradisional banyak pedagang dan pemilik kapal ikan juga bermuara di sepanjang laut Oesapa. Dan bisa jadi pasar transaksi jual beli narkoba. Jadi penetapan itu menurut saya  bahkan sangat menolong semua elemen di keluarahan ini waspada.” Ujarnya per-telepn selular.

Bahkan Kiay usulkan kalo bisa BNNP NTT  dan BNNK Kupang lakukan sosialisasi dan kampanye bahaya Narkoba serta tes urine bagi warga kos dan seluruh warga Oesapa. Bila perlu para pedagang serta siswa SMP, SMA dan mahasiswa secara berkala per 3 bulan. Agar masyarakat benar-benar peroleh informasi yang benar tentang bahaya narkotika serta sistem dan jalur pengedaran dan perdagangannya agar mereka waspada.
” Di kelurahan Oesapa ini ada 600 lebih kos-kos menurut data kelurahan, karena setiap pemilik kos minimal memilik 3 kamar dan maksimal belasan sampai puluhan kamar. Satu RW saja ada 169 kos. Dan penghuninya bisa dari mana saja dan dari unsur mana saja.  Keluarga, pekerja, mahasiswa, dari luar kota Kupang bahkan dari luar NTT  sehingga sosialisasi, kampanye dan tes urine sangat perlu. Oesapa juga memiliki wilayah yang luas. Sehingga pengawasan sangat intensif sangat perlu. Jika sudah ada pegiat dan fasilitator anti narkotika sudah sangat bagus. Tapi perlu ditambah lagi.” Usulnya.

Kiay juga paparkan bahwa dirinya sebagai kepala kelurahan berkolaborasi dengan aparat pemerintah dari RT hingga RW, Kelompok Pemuda, LSM, tokoh agama dan masyarakat juga sudah lakukan upaya rekrut beberapa mahasiswa dari Unkris saat sama-sama kegiatan di BNNK mereka jadi informen atau pegiat dan fasilitator anti narkoba bagi dirinya sebagai lurah.
Ini upaya preventif dirinya sebagai pemerintah dalam mendukung program PG4N.

Upaya lain adalah selalu mengingatkan dalam rapat resmi dan tidak resmi ke RT, RW, pemilik kos-kos bahkan ke anak muda di pinggir jalan agar tidak terjerumus kedalam tindakan memakai maupun perdagangan ilegal narkoba.

“Kami juga membentuk paguyuban pemilik kos dan usulan pembuatan perda pemondokan sebagai upaya lain secara hukum. Paguyuban Pemilik Kos sudah kami himbau dalam pertemuan resmi dan tidak resmi untuk menertibkan pemilik kos. Mengawasi setiap penghuninya..” ujarnya.

Kiay menyatakan bahwa walaupun belum adanya informasi kejadian penangkapan tersangka pengguna dan pengedar Narkotika di keluarahan Oesapa, namun ia menyatakan siaga dan waspada sangat penting. Bahkan ia rencananya akan meminta BNNK Kupang untuk turun sosialisasi kepada penghuni kos-kos dan masyaralat. Upaya lain adalah memasang papan informasi bahaya narkotika dan peringatan kampanye STOP Narkoba, dan sosialisasi langsung.

Kiay usulkan agar tes urine bisa dilakukan berkala misalnya 3 bulan sekali. ■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *