Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan Marjinal Kota Kupang, Dinas PPPA Provinsi NTT Gelar Bimtek Manajemen Usaha

NTT, TOP NEWS NTT ■■ Perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provins NTT lewat Bidang Kabid Peningkatan Kualitas Hidup dan Keluarga selenggarakan bimtek terhadap “perempuan marjinal” dalam kepemimpinan Silvya R.Peku Djawang, S.P,M.M makin ditunjukkan. Walau belum setahun  menjabat di dinas yang mengurusi masalah perempuan dan anak ini, Sylvia (sapaan-red) memiliki komitmen serius terhadap keberadaan serta kualitas hidup perempuan marjinal NTT yang merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga, korban kekerasan seksual, korban traficking dan masalah sosial lainnya. Komitmen dan perhatian untuk bagaimana mengangkat taraf hidup sosial dan upaya pemulihan trauma akibat menjadi korban kekerasan tersebut di wujudkan dalam bentuk penyelenggaraan  Bimtek Manajemen Usaha dan Peningkatan Hasil Produksi Kelompok Usaha bagi Perempuan Korban Kekerasan, Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Masalah Sosial Lainnya di Kota Kupang yang di selenggarakan  pada Kamis dan Jumat, 3–4 Oktober 2019 di Balai Diklat Provinsi NTT.

Pemateri dalam bimtek Silvya R.Peku Djawang (Kadis PPPA Provinsi NTT), Dra.Sumarni (PKK Provinsi NTT dan dr.Fransiska Sek Dinas PPPA kota Kupang

Ketua panitia kegiatan Bimtek Theresia Sarlyn Ralo (Kabid Peningkatan Kualitas Hidup dan Keluarga) pada Dinas PPPA Provinsi NTT dalam laporannya   menjelaskan bahwa bintek ini diselenggarakan dengan pertimbangan  makin meningkatnya jumlah perempuan termarjinal akibat korban berbagai kekerasan, baik didalam maupun diluar NTT, terutama mereka yang menjadi tenaga migran ke luar NTT bahkan keluar Negeri akibat belum didalam negeri dan di provinsi ini  pemerintah belum tersedianya  lapangan kerja non-formal. Pertimbangan lain adalah demi memberikan pemulihan akibat kekerasan bagi perempuan korban, dan memberikan peningkatan kualitas nilai dalam berbagai aspek.

Tujuan umum bimtek untuk memwujudkan perempuan berkualitas dan maju dalam bisang ekonomi dengan mengembangkan kemampuan internal sehingga mereka mampu  meningkatkan pendapatan bagi diri dan keluarga.

Tujuan berikut adalah untuk menjangkau perempuan korban kekerasan sehingga mereka bisa beradaptasi dalam kehidupan sosial yang normal dimasyarakat.

Peserta berjumlah 100 orang merupakan perempuan korban kekerasan dalam binaan dan pendampingan mitra kerja Dinas PPPA provinsi NTT (P2TP2A) dann Rumah Perempuan.

Zilvya R.Peku Djawang,SP,M.M kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT saat membuka kegiatan menyatakan bahwa kegiatan bimtek dua hari ini adalah sebuah kegiatan yang penting karena dapat mengangkat perempuan marjinal di Kota Kupang untuk bisa berproduksi dan menghasilkan income yang mendukung keluarga dan tidak bergantung kepada laki-laki.
“Lewat kegiatan ini dinas PPPA ingin menunjukkan bahwa perempuan punya potensi dan sangat tangguh dalam menjalankan kehidupan bahkan secara ekonomi.” Ujar Silvya bersemangat.

Kegiatan dua hari ini juga, jelas Silvya, adalah sebagai potensi besar untuk peningkatan Indeks Daya Guna perempuan. Lewat peningkatan itu pemerintah berharap  bahwa perempuan bisa berproses dan meningkat dan punya akses untuk isi pembangunan, dapat berpartasipasi dalam pembangunan, memiliki manfaat dan kontrol yang baik dalam pembangunan, “kita sebagai pemerintah sedang berusaha mencapai titik itu dan sedang meningkatkan anggaran untuk itu (APKL).” Tandasnya.

“Kita pilih bimtek pengolahan makanan berbahan marungga agar seiring dengan program pemerintah dalam mengatasi stunting lewat pengolahan kelor sebagai bahan utama bagi perbaikan gizi dan meningkatkan nilai ekonomi keluarga. Pelatihan membuat aksesoris dari bahan tenun ikat NTT sebagai kegiatan pelatihan kedua agar hasilnya bisa dijual oleh mama-mama dan nona-nona menjadi souvenir bagi wisman dan wisnus yang datang di Kota Kupang.  Dengannya,  kita sudah mendukung menggerakkan segala sektor sebagai penggerak ekonomi pariwisata NTT seperti program gubernur dan wakil gibernur NTT.” Tandas Slvya.

Dalam kegiatan ini menurut Silvya, akan dibuat dalam.kompisis 30% teori  dan 70% praktek.

Sekretaris Dinas PPPA Kota Kupang dr.Fransisca menjelaskan terkait program kerja pemkot Kupang  bagi perempuan kelompok marginal dilaksanakan lewat penganggaran di dinas Koperasi, Perindustrian dan dana Pemberdayaan di kelurahan yang bisa di akses lewat perorangan dan kelompok usaha mikro dan menengah.

Peningkatan kapasitas perempuan juga dilaksanakan lewat  pelatihan manajemen usaha, pelatihan pengolahan makanan, pelatihan bordir pakaian, kerajinan dan eko wisata, managemen gabungan kelompok tani, dan pelatihan hidroponik serta bantuan usaha bagi kelompok usaha.
“Di tahun 2019 kegiatan yang sudah dan sedang dilakukan adalah Bina keluarga eks TKI dalam bentuk program bantuan modal usaha ternak babi, dll oleh Dinas PPPA Kota Kupang, Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan.”Jelasnya singkat.

Dra.Sumarni sebagai perwakilan TP PKK Provinsi NTT dan sebagai kabid. perlindungan anak Dinas PPPA menjelaskan bahwa TP PKK Provinsi NTT adalah mitra kerja Pemprov yang dalam kegiatan ini berperan sebagai pokja satu dengan tugas pembentukan keluarga sadar hukum didesa dan kota sebagai perempuan korban kekerasan, kelurahan Manutapen sebagai Kelurahan Model TP PKK dari 22 Kabupaten dan Kota. Meningkatkan ketahanan keluarga tentang produk peraturan dan  UU yang erat kaitannya dengan ketahanan pangan.

Sosialisasi tentang UU PPTPPO, tentang perlindungan anak, pecegahan Perdagangan orang, advokasi dan pendampingan terhadap ABH, saksi maupun korban kekerasan seksual. Marni menngingatkan agar Dinas pemkot lewat Dinas PPPA harus lebih pro-aktif melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi perempuan korban berbagai kekerasan di Kota Kupang. “Semoga semua kegiatan yang dipaparkan tadi sudah dirasakan oleh mama-mama dan perempuan korban kekerasan tadi. Apalagi Kota Kupang  sudah peroleh pengargaan sebagai Kota Layak Anak, dan salah satu indikator adalah kota yang memilik jaminan keamanan dan kenyamanan bagi perempuan dan anak. Apakah kota Kupang sudah cukup terang pada malam hari, apakah tersedianya akses dan pendampingan serta pemberdayaan bagi anak-anak jalanan dan putus sekolah, anak korban kekerasan,  jika kota Kupang belum penuhi semua aspek kelayakan makan penghargaan itu harus di tahan dulu.” Tandasnya serius.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini dibagi dalam dua kelompok besar yang secara bergantian langsung dilatih teori pengantar dan praktek membuat penganan coklat dan cake berbahan daun kelor dan pembuatan aksesoris berbahan tenun ikat.

Nara sumber dalam pembukaan adalah Kadis PPPA Provinsi Silvya R.Peku,S.P,MM dengan materi dasar hukum pemberdayaan perempuan dan motivasi pemulihan mental psikologis perempuan korban kekerasan dan program pemberdayaan yang sudah dan akan dilakukan oleh Dinas PPPA Provinsi berkolaborasi dengan 22 Kabupaten Kota. Pamateri kedua adalah sekretaris Dinas PPPA Kota Kupang dr.Fransiska yang memaparkan program kerja Dinas dalam ikut memberdayakan dan memulihkan korban kekerasan di Kota Kupang.■■Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *