Kliennya Dilaporkan Mencuri Aset Rafi, Sam Haning Cs Siap Lapor Balik Sri Wahyuni

KUPANG, TOP NEWS NTT ■■ Kasus kreditur BPR Christa Jaya Perdana M.Rahmat,SE (Rafi) dan Sri Wahyuni, sebagai  pasangan suami isteri yang telah diduga lakukan ingkar janji terhadap kewajiban dan tanggung jawab pembayaran kredit terhadap BPR CJP dan kepada WL dalam bisnis Bursa Jual Beli Mobil alami perkembangan.

Selasa, 10/9/2019  siang pada jumpa pers bersama media di Palapa Resto, Samuel Haning sebagai kuasa Hukum BPR Christa Jaya Perdana (CJP), didampingi  Christofel Liyanto ,SE ( komisaris utama BCJ),
Lanny Tadu  (Direktur BCJ),  Kuasa hukum (Samuel Haning,S.H.,M.Hum, Sam Asadoma dan Fransisco Besi menjelaskan bahwa kondisi sekarang adalah isteri pelaku Sri Wahyuni malah melaporkan Wilson Liyanto  ke polisi dengan tuduhan  pencurian aset milik Rafi yang diserahkan ke CJP (berupa barang jaminan aset pribadi dan aset showroom dsbnya yang pembeliannya dengan modal dari WL dan BPR CJP).

Samuel mewakili CJP menjelaskan  bahwa Rafi yang sempat  melarikan diri (namun ditangkap di Makasar) setelah kasus penipuannya terungkap baik terhadap CJP, WL, dan pembeli mobil tanpa BPKB, saat membuat gerah adalah karena kliennya (WL) malah yang saat ini dilaporkan isteri Rafi dengan tuduhan dugaan melakukan pencurian aset milik mereka.

Sehingga pihak CJP dan WL menggelar Press Confress ini untuk nenjelaskan kondisi sebenarnya yang terjadi antara CJP, WL dan Rafi dan bagaimana sikap Christofel Liyanto sebagai owner yang seharusnya sudah dirugikan oleh Rafi.

“Jadi saya perlu menceritakan secara garis besar kronologis kasus yang sampai menimbulkan laporan balik dari isteri Rafi (Sri Wahyuni). Awal kasus ini adalah pada 17 Maret 2014 menjadi nasabah pada BPR CJP dan meminjam uang sebesar Rp425 juta. Selain itu Rafi menjadi mitra kerja dengan WL dalam event “Bursa Jual Beli Mobil Bekas” yang diselenggarakan oleh CJP pada Desember 2013, dimana Rafi dan isteri untuk membeli mobil hanya siapkan 30% dp dan 70% dp dipinjam dari WL setiap pembelian sebuah mobil dengan perjanjian sebelum WL memberikan pinjaman 70% dp ke Rafi, BPKB harus diserahkan sebagai jaminan. Dan seluruh tansaksi pemberian 70% DP dari WL ke Rafi dengan kuitansi resmi yang ditanda tangani oleh Rafi. Ketentuan lain adalah jika berhasil menjual mobil tersebut maka Rafi wajib menyetor uang hasil penjualan mobil dengan perincian : Rafi peroleh keuntungan penuh dari selisih harga jual mobil dengan harga beli, WL peroleh bunga 2% dari modal yang diberikan, jika  2–3 bulan tidak membayar bunga dari unit mobil terjual atau unit mobil belum  terjual, maka bunga bisa dinegosiasikan. Modal yang dipinjamkan WL dipakai Rafi sebagai modal bisnis jual beli aksesoris mobil, bengkel, pembagunan properti dan perumahan, bahkan untuk kepentingan pribadi Rafi dan keluarga. Semua berjalan lancar sampai pada Maret 2017 ketika CJP lakukan stok opname untuk pengecekan dan inventarisir jumlah barang dagangan mobil, aksesoris mobil, prestasi fisik pembangunan perumahan ternyata ditemui bahwa nilai jaminan dari semua barang tidak sesuai dengan keadaan atau sebagian besar nilainya sudah tidak sesuai dengan jaminan. Dari sekitar 60-an unit mobil yang BPKB-nya ada pada WL ternyata sebagian besar mobilnya telah dijual oleh Rafi dan uangnya tidak diserahkan ke WL untuk diambil BPKB-nya dan diserahkan ke pihak pembeli mobil. Karena temuan itu, Rafi dan WL sepakat agar staf WL juga ikut hadir di Showroom mobil dan bengkelnya untuk memastikan setiap mobil yang terjual kepada konsumen harus menerima BPKB-nya dan Rafi harus membayar hak WL sesuai kesepakatan. Namun Rafi dengan berbagai cara dan trik tipuan berhasil mengelabui staf WL sehingga bisa loloskan penjualan mobil tanpa BPKB. Hal ini terungkap pada Juli 2017 saat mulai berdatangan pembeli mobil menagih BPKB kepada Rafi dari mobil yang sudah dibeli. Karena Rafi tidak laksanakan kewajiban menyetor hak WL, maka BPKB otomatis tidak bisa diserahkan oleh WL ke pembeli. Dan saat itu Rafi mulai sulit ditemui. Baik oleh konsumen, CJP dan WL. Untuk transasaksi kredit dengan jaminan SHM Rafi ke CJP, mereka menggunakan jasa Notaris Albert Riwu Kore dan pada 18 Agustus 2017, pihak CJP peroleh informasi bahwa ada sekitar 9 SHM (sekitar 3,5 h), yang merupakan jaminan kredit Rafi ke CJP, yang diserah ke Notaris Albert RK untuk dipecahkan dan dipasang APHT an BPR CJP yang tidak dilakukan oleh Notaris Albert RK. Tapi malah dipecahkan tapi masih an.Rafi dan tidak ada APHT. Temuan lain bahkan Rafi dengan segala upaya tipu daya mengambil 5 SHM pada pertama kali dan 4 SHM kali berikutnya tanpa sepengetahuan CJP. Akhirnya pada 23 Agustus 2017 dilakukan rapat dan hasilkan kesepakatan antara CJP, Notaris Albert dan staf yang serahkan SHM ke Rafi dan Rafi sendiri dan terungkap fakta lain bahwa ke 9 SHM yang diambilnya dari notaris digadaikan lagi ke BPR Pitoby dan  Bank NTT. Saat itu Albert menuntut Rafi untuk segera kembalikan SHM atau membayar ganti rugi senilai SHM ke pihak BPR CJP atau ancaman dilaporkan secara hulum. Saat itu Rafi meminta waktu 1 minggu akan membayar ke Notaris Alberth dua tahap  yaitu Rp800 juta dan tahap kedua Rp700 juta–Rp1 M. CJP menuntut penyerahan semua aset showroom, mobil dan kunci mobilnya, dan semua barang jaminan Rafi ke CJP termasuk aset usaha lain untuk dilakukan penjualan demi melunasi hutang Rafi ke WL dan CJP. Namun saat ini malah pihak Rafi diwakili isterinya (Sri Wahyuni) lakukan laporan  ke polisi bahwa Wilson Liyanto diduga  lakukan tindakan pencurian atas aset milik mereka. Dan rencananya siang ini WL akan diperiksa sebagai saksi di Polresta Kupang.  Sehingga sikap kami jelas bahwa pihak CJP dan WL masih membuka ruang untuk Rafi beritikad baik menyelesaikan semua kewajibannya terutama kepada pembeli mobil. Terutama mencabut laporan dan pemulihan nama baik klien kami WL. Namun jika tidak melakukannya maka klien kami akan laporkan balik Rafi dan isterinya.” Jelas Sam panjang lebar.

Chris Liyanto kepada media menyatakan bahwa dirinya merasa dirugikan, namun aset yang disita bisa dijual menutupi kerugiannya dan WL, namun yang menjadi persoalan adalah posisi saat ini Wilson Liyanto malah dilaporkan dengan tuduhan pencurian aset milik Rafi. Ia menghimbau agar Rafi dan isterinya segera lakukan upaya pertemuan dan diskusi dengan pihaknya dan WL untuk mencabut laporan serta pulihkan nama baik WL dan CJP dan selesaikan masalah utang piutang. Tapi Chris menyatakan dirinya inginkan Rafi menyerahkan BPKB kepada 200-an pembeli mobil. Karena kasihan mereka. “Saya dan WL masih membuka ruang bagi Rafi dan isteri untuk diskusi dan mencabut laporan, jika tidak saya sudah serahkan kepada kuasa hukum kami pak Sam dan Pak Fransisco untuk melakukan upaya hukum demi pemulihan nama baik WL. Karena laporan isterinya Rafi sudah di muat di media massa. Dan hal tersebut menimbulkan kerugian bagi kami atas kepercayaan masyarakat. Padahal kami yang dirugikan. Utang Rafi kepada CJP sekitar 5 miliar. Kami yang seharusnya dirugikan jika kami meminta aset-aset dan menjualnya maka itu hak kami sesuai perjanjian kredit. Kami minta Rafi bisa serahkan BPKB mobil kepada pihak pembeli. Kasihan mereka. Kalau kami siap untuk diskusi dan menunggu.” Tandas Chris.

Sam Haning menyatakan sebagai kuasa hukum jelas akan melaporkan Rafi dan isterinya jika permintaan kliennya tidak dipenuhi untuk mencabut laporan dan memilihkan nama baik kliennya.

“Saat ini Rafi itu kasian karena malah dikejar 200-an pembeli mobil karena  BPKB mereka belum diserahkan.  Dan itu yang harus dipertanggungjawabkan Rafi. Saya masih bersedia memaafkan karena asetnya akan kami jual melunasi piutangnya kepada CJP dan WL.” Ujar Chris.

Salah satu kuasa hukum Fransico Besi menjelaskan bahwa laporan Sri Wahyuni terhadap kliennya WL saat ini kliennya akan diperiksa sebagai saksi dalam laporan ini. Dan rencananya siang ini (Selasa, 10/9/2019. ■■ juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *