Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia Bagi Jurnalis, Banyak Kesalahan Dalam Penulisan Berita

Kupang, Top News NTT ■■ Kantor Bahasa Perwakilan NTT serius menangangani  penggunaan bahasa Indonesia sesuai ejaan yang benar dimasyarakat. Kepedulian dan keseriusan itu ditunjukkan lewat program kerja Kantor Bahasa, bagaimana memberikan informasi yang benar tentang penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, baik audio, visual dan audio visual di kalangan masyarakat, pejabat publik, lingkungan pendidikan dan dunia jurnalistik.

Penyuluhan itu dilaksanakan pada Senin, 12 Agustus 2019 yang pembukaannya dihadiri oleh Kepala kantor bahasa NTT Valentina Lovina Tanate,S.pd, dan dibuka oleh  sekertaris  Badan Bahasa dan Perbukuan Drs. Muh.Abduk Khak, M.Pd di Hotel Neo by Aston, Kupang. Penyuluhan ini akan dilaksanakan selama empat (4) hari dari tanggal 12–15 Agustus 2019, yang dibagi didua tempat berbeda, yaitu Hotel Neo by Aston dan Hotel Amaris bagi masing-masing profesi, yaitu pimpinan OPD dan  para Kepala Sekolah, para siswa dan jurnalis.

Kegiatan penyuluhan yang berisi materi penggunaan  bahasa Indonesia sesuai ejaan yang benar seperti tertulis dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), dalam kalangan masing-masing sehingga informasi dan komunikasi terjalin dengan benar, tapi dengan mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia sesuai Tata Bahasa Indonesia yang benar.

Di kelas Jurnalis, yang diikuti oleh sekitar 50-an junalis media online dan eletronik,  pemateri Salimulloh Tegar S., S.Pd., staf Kantor Bahasa NTT dengan materi tes awal penggunaan tata bahasa Indonesia sesuai aturan dalam penulisan berita.

Dan pada pemaparan dan tes yang berupa 50 kalimat pernyataan yang harus dijawab benar atau salah oleh para jurnalis,  terlihat banyak kebiasaan penulisan kata dan kalimat yang ternyata tidak sesuai dengan kaidah yang semestinya.

Fakta-fakta sering terjadi kesalahan dalam penulisan ini memberikan masukan yang sangat baik bagi para jurnalis, sehingga dalam penulisan berita, judul dan isi tetap menggunakan bahasa Indonesia yang benar.

Salah satu penyiar Radio Kaisarea, Pdt.Imanuel, menyatakan bahwa memang dalam dunia jurnalistik, seringkali para jurnalis menggunakan bahasa bentukan yang mampu menjadi magnet sehingga bisa menarik pembaca untuk membaca isi berita. Dalam dunia jurnalistik hal ini wajar dan harus dilakukan agar judul menarik.
Dan penulisan isi berita yang mampu mengulik dari angel yang berbeda dengan cara pembahasan media lain. Karena inilah yang menjadi penentu berapa banyak sebuah media di cari dan beritanya dibaca.

Namun Sallimullah Tegar menyatakan mengerti dengan kondisi tersebut, bahwa jurnalistik ini adalah bisnis, tapi tidak boleh meninggalkan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Karena bahasa dalam media pemberitaan adalah alat visual yang akan selalu melekat dalam benak pembaca dan dapat mempengaruhi pembaca dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Karenanya Sallimullah menyarankan agar penulisan berita harus dengan menggunakan tata bahasa yang benar. Karena jurnalis adalah merupakan agen terdepan penggunaan bahasa Indonesia yang benar.

Manfaat penggunaan bahasa Indonesia yang benar, sari aspek hukum, dengan adanya UU ITE, UU perlindungan anak dan perempuan dan UU Jurnalistik yang makin ketat, maka untuk menghindarkan jurnalis dari tuntutan hukum, Sallimulah mengingatkan agar jurnalis lebih berhati-hati dalam penulisan berita terkait masalah hukum, terutama yang melibatkan anak dan perempuan yang berhadapan dengan hukum. Selain menggunakan tata bahasa yang benar, juga memperhatikan dengan benar UU Jurnalistik terkait penulisan berita yang berkaitan dengan masalah hukum, terutama bagi anak yang berhadapan dengan hukum atau korban, harus melindungi identitas anak tersebut dengan menjunjung tinggi azas “praduga tak bersalah” sebelum sebuah kasus hukum dinyatakan inkrah.

Salah seorang perempuan jurnalis  yang tidak mau disebutkan namanya dengan bersyukur berkomentar bahwa dengan penyuluhan ini, banyak hal yang baru dan penting diketahui hari ini dalam penggunaan bahasa Indonesia, yang sebelumnya dianggap hal yang biasa. Ternyata banyak kesalahan terjadi dalam proses penulisan yang tidak disadari oleh jurnalis. Kadang seorang jurnalis mengikuti saja trend penulisan yang sudah lazim dipakai, sesuai jaman yang ada, dan ternyata hari ini diketahui bahwa hal tersebut adalah sebuah kekeliruan yang bisa memberi arti yang berbeda dari fakta sebenarnya. Dan penyuluhan ini menurut jurnalis tersebut sangat menolong para jurnalis dalam menulis berita sesuai fakta. Karena kesalahan menempatkan kata tertentu dapat merubah arti dari kalimat tersebut secara keseluruhan. Dan jika sebuah berita diperkarakan, dan diminta pendapat seorang ahli bahasa Indonesia, maka akan ditemui begitu banyak kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi seorang jurnalis, yaitu pelanggaran hukum dengan pasal berlapis, Demikian penjelasan Sallimulah. ■■ Juli BR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *