Empat (4) Bulan : Juli – Oktober 2018 NTT Alami Deflasi

NTT, Topnewsntt.com., Demikian catatan BPS Provinsi NTT bahwa selama empat (4) bulan (Juli s/d Oktober 2018) Provinsi NTT alami deflasi.  Oktober 2018 berdasarkan hasil survei ekonomi NTT yang dirilis BPS Provinsi NTT pada Kamis, 1/10/2018 di VIP Confress Room bahwa NTT kembali alami deflasi sebesar 0,04%. Demikiam juga dua kota sample lainnya  di NTT yaitu Kota Maumere (0,04%), dan Kota Kupang (0,05%).

Menurut Kabid.Neraca Wilayah & Analasis Statistik Matamira B.Kale,S.Si,M.Si mewakili kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwaellapia kepada media, deflasi Oktober 2018 terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada 2 kelompok pengeluaran, yaitu: transpor sebesar 1,70% dan makanan jadi sebesar 0,01%. Sedangkan 4 kelompok pengeluaran lainnya almai kenaikan indeks harga, dimana kelompok bahan makanan alami kenaikan indeks tertinggi sebesar 0,84%.

Sedangkan dari 82 kota sampel IHK nasional, 66 kota alami inflasi dan 16 kota almai deflasi inflasi tertinggi terjadi di kota Palu sebesar 2,27% dan terendah di kota Cilegon sebesar 0,01%. Deflasi terbesar terjadi di kota Bengkulu sebesar  0,74% dan terendah di kota Tangerang sebesar 0,01%.

Kelompok pengeluaran makanan seperti makanan jadi, rokok dan tembakau – 0,01% degan andil- 0,16%, transport dan komunikasi dan jasa keuagan penyumbang terbesar deflasi Oktober 2018 sebesar – 1,70% dengan andil sebesar – 0,07% ini disebabkan karena belum memasuki bulan hari raya Natal dan Tahun baru 2019 dan diharapkan pemerinta provinsi NTT lewat TPID NTT dapat mempertahkan kondisi ini jelang, selama dan setelah dua hari raya besar itu.

“Deflasi terjadi karena adanya penurunan indeks harga pada 2 kelompok pengeluaran yakni transport sebesar 1,70 persen dan makanan jadi sebesar 0,01 persen. Sedangkan 4 kelompok pengeluaran lainnya mengalami kenaikan indeks harga, dimana kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks tertinggi sebesar 0,84%.” Jelas Matamira.

Namun walaupun NTT alami deflasi pada Oktober 2018 sebesar 0,04%, namun justru beberapa kelompok bahan makanan lainnya alami inflasi sebesar 0,84%. Antara lain datang dari kangkung (0,85%), ikan kembung (0,12%), sawi putih (0,07%), buncis (0,03%), ikan ekpr kuning (0,12%), sawi hijau dan kol putoh atau dan lubis (0,01%). Fan hal ini mungkin disebabkan karena jumlah stok berkurang akibat musim panas yang sebabkan berkurangnya hasil.
“Meski alami deflasi 0,04%, justru bahan makanan alami inflasi sebesar 0,84% dengan komoditas penyumbang inflasi sebagai berikut : kangkung 0,14%, ikan kembung 0,12, sawi putih 0,07%, buncis 0,03%, ikan teri basah 0,03%, ikan ekor kuning 0,02%, sawi hijau dan kol putih/kubis 0,01% disebabkan stok berkurang akibat adanya musim kemarau yang panjang tahun 2018. ” ujar Matamira B. Kale menjelaskan mengapa terjadi inflasi pada jenis kelompok bahan makanan tertentu disaat NTT alami deflasi pada Oktober 2018 ini.

Kelompok pengeluaran dari komoditas bahan makanan yang menjadi  penyumbang deflasi pada Oktober 2018  diantaranya adalah ikan tembang sebesar  ( -0,10%), daging ayam ras sebesar  (-0,05%) , cabai merah sebesar (-0,04%), semangka sebesar ( -0,02%),  tahu mentah sebesar ( -0,01%),  ikan kakap merah sebesar (-0,01%), jagung manis sebesar ( -0,01%), apel dan telur ayam ras sebesar ( -0,01%).

Sedangkan penyebab  terjadinya gejolak harga yang mendorong inflasi pada kelompok bahan makanan menurut Matamira, bisa saja tergantung pada beberapa faktor seperti kondisi stok dan supply , permintaan, distribusi dan spekulasi.

“Tugas BPS hanyalah lakukan pemotretan terkait situasi harga yang flukuatif dipasaran,  tidak sampai lakukan  intervensi terkait apa solusi agar jangan terjadi kondisi inflasi dan bagaimana mempertahankan kondisi deflasi,  tanggung jawab pengendalian pasar agar deflasi terjaga ada pada pemprov NTT dalam hal ini berkerja sama dengan TPID NTT. ” BPS hanya sampai pada tugas input data lapangan terkait harga kelompok makanan, menggambarkan keadaan sebenarnya bahwa terjadi perubahan harga di level konsumen,” ungkap Matamira menjelaskan lebih lanjut.

Dari 82 kota sampel Indeks Harga Konsumen (IHK), 66 kota mengalami inflasi dan 16 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Palu sebesar 2,27% dan terendah terjadi di Kota Cilegon dengan inflasi sebesar 0,01%. Sedangkan deflasi terbesar terjadi di Kota Bengkulu sebesar 0,74% dan terendah di Kota Tangerang sebsar 0,01%.**))juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *