Turunnya Harga Bahan Makanan, Pendorong Terbesar Deflasi NTT (0,69%) September 2018

NTT, Topnewsntt.com., Hasil Survei Ekonomi BPS Provinsi NTT pada bulan September 2018, NTT kembali alami deflasi sebesar 0,69% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,24.

Menurut Kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwalapia bahwa Deflasi NTT bulan September 2018 (0,69%)  ini disebabkan turunnya Indeks Harga pada 3 (tiga) kelompok pengeluaran yaitu Bahan Makanan, Kesehatan dan  Transport. Namun penurunan tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yang alami penurunan indeks terbesar yaitu 3,14 % dan menjadi pendorong utama terjadinya deflasi 0,69% di NTT  “deflasi NTT pada September 2019 0,69% disebabkan adanya penurunan pada tiga kelompok besar pengeluaran, yqitu kelompok bahan makanan, kesehatan dan transpor. Namun penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 3,14% menjadi pendorong utama terjadinya deflasi di NTT pada September 2018 ini. Penurunan pada kelompok bahan makanan disebabkan adanya musim panen dan penurunan harga gabah ditingkat petani sehingga nilai yang diterima petani lebih besar dari pada yang dikeluarkan petani.” Jelas Maritje.

Sedangkan empat (4) kelompok pengeluaran lainnya alami kenaikan indeks harga, dan kelompok perumahan alami kenaikan tertinggi (0,55%). Tahun kalender, NTT alami inflasi 0,43% sedangkan tahun ke tahun NTT alami inflasi 1,90%.

Secara Nasional di Indonesia terjadi deflasi 0,18% dari 82 kota sample IHK Nasional. Inflasi Tahun kalender 2018 adalah  1,94% dan inflasi tahun ke tahun adalah 2,88%.
Secara nasional inflasi 0,18% karena adanya penurunan pada bahan makanan 0,35% berikan andil inflasi 1,68%,  transportasi, pendidikan, rekreasi dan olah raga.

Turunnya ketiga kelompok pengeluaran menurut Kepala BPS Provinsi NTT Maritje Pattiwaelapia dalam jumpa  press di confress room BPS Provinsi NTT pada Senin,1/10/2018, bahwa terjadi deflasi pada bahan makanan akibat adanya musim panen dan penurunan harga pada gabah. Deflasi bahan makanan -3,14 % adalah pendorong terbesar NTT alami deflasi 0,58% pada September 2018. Dan deflasi September NTT ini akan terkendali, namun mungkin pada akhir tahun saja akan terjadi peningkatan harga. Karena jelang Natal dan Tahun Baru. Namun akan diupayakan pengendaliannya oleh TIPAD NTT.

Dari dua Kota Sample di NTT Kota Kupang alami deflasi 0,83%, sedangkan Kota Maumere alami inflasi 0,27%.

Sedang dari 82 Kota Sample IHK Nasional  di Indonesia, September 2018 16 Kota alami inflasi, dan 66 Kota alami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bengkulu (0,59%), dan terendah di Kota Bungo (0,01%). Deflasi terbesar terjadi di Kota Parepare (1,59%).

 Sebagai catatan penting bahwa sudah tiga bulan berturut-turut sejak Juli, Agustus dan September 2018 provinsi NTT alami deflasi dan menurut Maritje ini juga akibat kerja TIm TPID NTT yang solid melakukan survei dan pengendalian harga berbagai bahan pokok pengeluaran. **)) juli br

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *