Menyambut Kongres XXXVI GMKI

Saya suka GMKI, terutama namanya. GMKI kependekan dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Kata “Gerakan” menunjuk pada sesuatu yang dinamis. Gerak maju ke depan. Tidak statis. Apalagi stuck! Maju ke depan bukan berarti membuang tradisi yang di belakang. Tradisi masa lalu dihormati, tetapi tidak disakralkan. Yang belakang punya sejarahnya sendiri. Yang di depan ada keunikannya. Butuh respon berbeda. Itulah sebabnya, dalam setiap gerakan selalu terjadi proses dialektika, refleksi kritis bolak-balik antara yang di belakang dan di depan. Antara kesetiaan pada Tuhan dan konteks baru pada jamannya.
Kata ‘Mahasiswa’ pada GMKI menunjuk pada semangat menimba ilmu. Otaknya harus encer. Dalam dunia kini, mereka yang cerdas berpeluang menguasai panggung kehidupan. Yang bodoh termarjinalkan. Jadi beban masyarakat! Mahasiswa yang baik sadar betul bahwa di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tanpa jeda, hanya kecerdasan yang akan menyelamatkannya sekaligus menyelamatkan bangsanya. Tradisi menggali dan mempertajam kecerdasan harus menjadi bagian dari GMKI. Oleh karena itu, sikap fundamentalisme agama yang anti rasio dan anti ilmu pengetahuan bukanlah spirit GMKI.
Kata “Kristen” pada GMKI menunjuk pada identitas organisasi. GMKI hanya taat pada Allah dalam Yesus Kristus. GMKI bukan organisasi untuk mengejar kekuasaan, pangkat, jabatan dan kekayaan. Panggilan GMKI adalah untuk memberitakan dan mewujudkan Injil Kerajaan Allah yang berisi keadilan, perdamaian dan cinta bagi sesama, bagi segala makhluk dan bagi seluruh alam raya ini.
Kata “Indonesia” pada GMKI menunjuk pada identitas. Indonesia bukan lokasi. Oleh karena itu namanya bukan Gerakan Mahasiswa Kristen di Indonesia. Namanya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia karena, sekali lagi, Indonesia adalah identitas. Bandingkan dengan PGI, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Adanya sisipan ‘di’ menempatkan Indonesia sebagai lokasi. Pantas saja banyak gereja yang condong ke arah primordialistik etnik dan agama, lalu kurang meng-Indonesia. GMKI merangkul ke-Indonesia-an. Ia bagian dari pengharapan dan kekhawatiran bangsa. Kata ‘Indonesia’ membuat GMKI bukan organisasi yang primordialistik etnik atau sektarian agama. GMKI bukan organisasi yang hadir demi kepentingan kelompok. Ia sadar pada keragaman Indonesia. GMKI adalah faktor komplementer yang memperkaya ke-Indonesia-an. GMKI hadir untuk, berdasarkan nilai-nilai Kristiani, menjadi pelayan yang menghadirkan keadilan dan perdamaian bagi bangsa Indonesia.
Proficiat, Tuhan berkati!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *